Banyaknya kejadian kebakaran hutan dan lahan mulai memicu polusi kabut asap yang menurunkan kualitas udara sejumlah daerah di Sumatera Selatan, terutama Palembang dan sekitarnya. Paparan udara tidak sehat berisiko memicu iritasi mata, ISPA, hingga diare.
Kabut asap karhutla tampak pekat di Palembang dan sekitarnya pada Rabu (12/8/2026) pagi dengan jarak pandang sekitar 1 kilometer. Kendati demikian, aktivitas masyarakat tetap berjalan normal. Kegiatan pembelajaran di sekolah dan rutinitas kerja perkantoran terpantau tetap berlangsung.
Menurut nelayan di kawasan Jakabaring, Palembang, Munir (51), asap karhutla mulai terlihat pekat dalam seminggu terakhir. Namun, dia tetap beraktivitas demi memenuhi kebutuhan harian.
Munir khawatir jika asap karhutla kian pekat seiring meningkatnya kejadian karhutla. Jika kondisi terus memburuk, aktivitas sosial ekonomi masyarakat berpotensi lumpuh. Nelayan akan kesulitan bekerja karena jarak pandang terbatas. Kabut asap juga sangat membahayakan keselamatan pelayaran.
”Sekarang, asap karhutla pelan-pelan mulai menutupi Palembang. Saya harap karhutla bisa tertangani dengan baik agar asap tidak semakin pekat. Sebab, kalau asap sudah semakin parah, dampaknya bisa mengganggu aktivitas masyarakat,” ujar Munir.
Berdasarkan data pemantauan konsentrasi partikulat PM2.5 (partikel udara berukuran kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer) pada aplikasi IQAir, kualitas udara Palembang dan sekitarnya mulai beranjak memburuk sejak Juni. Situasinya terus merosot hingga berada di level PM2.5 antara 55,5 hingga 150,4 mikrogram per meter kubik alias kategori tidak sehat memasuki Agustus.
Data yang sama ditunjukkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bahkan, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan, kualitas udara Palembang nyaris menjadi sangat tidak sehat saat konsentrasi partikulat PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang mencapai 144,4 mikrogram per meter kubik pada Rabu pukul 08.00 WIB.
Konsentrasi partikulat PM2.5 digunakan untuk mendeteksi partikel polusi udara berukuran sangat kecil. Tingginya PM2.5 menandakan telah terjadi polusi udara. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari debu jalanan dan konstruksi, asap kendaraan bermotor, asap aktivitas industri, hingga asap karhutla.
”Melihat kondisi yang terjadi akhir-akhir ini, meningkatnya konsentrasi partikulat PM2.5 di Palembang kemungkinan besar dipengaruhi oleh asap karhutla. Kalau melihat arah angin, bisa jadi sumber asapnya berasal dari karhutla yang terjadi di sebelah timur-timur laut Palembang,” kata Wandayantolis.
Akan tetapi, Wandayantolis menuturkan, kualitas udara Palembang umumnya tidak sehat mulai tengah malam atau dini hari hingga pagi hari berkisar pukul 08.00 atau 09.00 WIB. Setelah itu, kualitas udara Palembang berangsur membaik ke level konsentrasi PM2.5 antara 15,6 hingga 55,4 mikrogram per meter kubik alias kategori sedang.
Situasi itu terjadi karena aktivitas pemadaman karhutla berkurang pada malam hari, seperti ketiadaan operasi helikopter water bombing, sehingga karhutla berpotensi membesar dan meluas. Di sisi lain, ada pengaruh angin yang membawa asap menyebar ke wilayah lain. ”Saat ini, angin mulai kencang sehingga penyebaran asap menjadi lebih cepat dan meluas,” ujar Wandayantolis.
Menanggapi menurunnya kualitas udara ke kategori tidak sehat di Palembang dan sejumlah daerah lain, epidemiolog Dinas Kesehatan Sumsel, Murni, mengatakan, masyarakat wajib meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit akibat paparan asap karhutla. Kalau kualitas udara semakin memburuk, masyarakat berisiko terjangkit iritasi mata, ISPA, hingga diare.
Untuk mencegah dampak buruk tersebut, masyarakat diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh. Saat harus beraktivitas di luar rumah atau ruangan, masyarakat diminta menggunakan masker, memperbanyak minum air putih, dan selalu menjaga kebersihan tubuh.
Ketika kualitas udara memburuk ke level PM2.5 antara 150,5 hingga lebih dari 205,5 mikrogram per meter kubik alias kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas luar ruang. ”Kalau kualitas udara semakin memburuk, pemerintah akan meningkatkan langkah perlindungan masyarakat, seperti mempertimbangkan meliburkan sekolah,” ujar Murni yang turut menjabat Penanggung Jawab Program ISPA dan Pneumonia Dinkes Sumsel.
Kepala Balai Pengendalian Karhutla Sumatera Ferdian Krisnanto menyampaikan, seiring masuknya puncak kemarau yang diperparah fenomena El Nino kuat dan rendahnya kesadaran warga tidak membakar lahan, frekuensi karhutla terus meningkat di Sumsel. Bahkan, dua regu Manggala Agni dari Jambi harus diperbantukan ke Sumsel untuk mengatasi karhutla yang meluas di banyak tempat.
Masalahnya, proses pemadaman sangat menantang. Sebab, saat ini karhutla mulai terjadi di kawasan gambut luas, seperti di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Kalau sudah terjadi, biasanya, karhutla di kawasan gambut sulit atau butuh waktu panjang untuk dipadamkan.
Selain itu, akses menuju lokasi cukup sulit dilalui. Sumber air untuk pemadaman pun mulai sulit dijangkau hingga kering sama sekali. Di sejumlah lokasi, petugas harus membersihkan kanal atau memperdalam kubangan secara manual untuk mendapatkan air.
”Walau banyak tantangannya, para petugas terus berupaya segera memadamkan semua karhutla yang ada agar kualitas udara menjadi lebih baik,” terang Ferdian.






Komentar (0)