Berada di dapur yang tidak terlalu luas, Intiyah bersama dua rekannya meracik bumbu dan mengolah ikan bandeng menjadi abon. Selama berjam-jam, mereka berkutat dengan bahan dan peralatan produksi untuk menghasilkan cita rasa terbaik sebelum abon tersebut dipasarkan.
Bagi Intiyah, abon bandeng bukan sekadar olahan pangan. Produk itu menjadi salah satu cara warga mengolah potensi pesisir sekaligus menggerakkan perekonomian di kampung mereka, Rabu (12/8/2026).
Peralatan produksi yang digunakan kelompok tersebut merupakan bantuan yang mereka terima sekitar setahun terakhir melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah. Peralatan itu kini menjadi aset Koperasi Trengginas Jaya Abadi di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Melalui program pemberdayaan masyarakat Mami Sera, Pertamina Patra Niaga berupaya mendorong penguatan ekonomi masyarakat pesisir utara Jawa dengan mengembangkan sejumlah potensi lokal, mulai dari sektor tambak, pertanian, hingga koperasi.
Menurut Intiyah, pendampingan tidak hanya diberikan dalam bentuk fasilitas produksi, tetapi juga melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan warga. Dukungan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha rumahan. ”Selain abon, ada kerupuk, telur asin, dan bandeng presto sebagai usaha rumahan warga,” kata Intiyah.
Beragam produk tersebut memanfaatkan komoditas yang telah tersedia di sekitar mereka. Ikan bandeng dari tambak tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah yang dapat dipasarkan melalui koperasi.
Pengembangan usaha juga didukung pemanfaatan energi terbarukan. Panel surya yang terpasang di tengah hamparan sawah memasok kebutuhan listrik untuk aktivitas produksi dan gerai penjualan. Teknologi tersebut membantu menekan biaya operasional sekaligus menjadi bagian dari upaya warga beradaptasi dengan kondisi lingkungan pesisir.
Ketua Pondok Mami Sera, Utami Dewi, mengatakan, kehadiran program tersebut mulai memberikan dampak bagi aktivitas ekonomi warga. Sebagian hasil panen bandeng kini dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual lebih tinggi.
”Sekarang sebagian hasil panen bandeng bisa banyak diolah dengan beragam jenis bentuknya dan punya nilai jual,” kata Utami sambil menunjukkan etalase gerai yang dipenuhi aneka produk olahan warga.
Namun, penguatan ekonomi tersebut berlangsung di tengah tantangan lingkungan yang tidak ringan. Mangunharjo merupakan kawasan pesisir yang menghadapi ancaman banjir, pasang air laut, dan intrusi air laut ke daratan.
Air payau bahkan telah memasuki lahan pertanian warga. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidup sebagai petani harus menyesuaikan pola pemanfaatan lahannya. Sebagian beralih menjadi petambak, sementara warga yang tetap ingin menanam padi harus menggunakan varietas yang lebih tahan terhadap kondisi air payau.
Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Mangunharjo, Bahrun, mengatakan, fenomena tersebut telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ketika pasang air laut mulai kerap terjadi. ”Ketika warga tetap ingin menanam padi, berarti harus mengganti bibitnya yang tahan terhadap air payau,” katanya.
Beras hasil panen warga yang ditanam pada lahan sawah air payau.
(Kompas/Raditya Mahendra Yasa)
Kesibukan warga saat mereka mengolah beragam makanan olahan berbahan dasar ikan bandeng.
KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Bandeng presto menjadi salah satu komoditas perikanan yang dijual di Pondok Mami Sera.
KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Perubahan lingkungan akhirnya memaksa masyarakat pesisir untuk tidak hanya mempertahankan sumber penghidupan, tetapi juga mencari cara baru agar potensi yang mereka miliki tetap bernilai ekonomi.
Di Mangunharjo, pengolahan hasil tambak, pengembangan usaha rumahan, koperasi, hingga pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari upaya tersebut. Pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada bantuan peralatan, tetapi diarahkan agar warga mampu mengembangkan usaha sekaligus beradaptasi dengan perubahan lingkungan di wilayah pesisir.






Komentar (0)