Anda Harus Tahu, Rahasia Putih Telur dalam Sains Benteng Gowa-Tallo

celebesmedia.id
13 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Menelusuri wilayah pesisir Makassar hingga Gowa, mata kita akan disambut oleh deretan dinding batu raksasa yang berdiri tegap menantang zaman.

Dua nama paling tersohor, Benteng Somba Opu dan Benteng Rotterdam (dahulu Benteng Ujung Pandang), bukan sekadar benteng pertahanan biasa.

Keduanya adalah bukti nyata kecanggihan rekayasa arsitektur Kerajaan Gowa-Tallo abad ke-16 yang sanggup bertahan dari guncangan gempa, hempasan ombak pasang, hingga gempuran meriam maut.

Namun, di balik kegagahan benteng-benteng ini, muncul satu pertanyaan besar: rahasia bahan dan teknik apa yang digunakan oleh para arsitek Nusantara masa lalu hingga karyanya tak lapuk dimakan abad?

Banyak cerita rakyat menyebutkan bahwa dinding benteng direkatkan menggunakan putih telur dan kapur.

Cerita tersebut tidak sepenuhnya mitos, melainkan wujud kearifan lokal dalam memanfaatkan material alami sebagai zat geopolimer.

Pada masa kejayaannya, masyarakat Gowa-Tallo meracik adonan perekat dari campuran tanah liat, kapur sirih alami, pasir sungai, hingga cairan bahan organik seperti putih telur atau getah tumbuhan lokal untuk mengikat susunan batu bata merah.

Menariknya, keandalan Benteng Rotterdam tak lepas dari pemilihan batuan tufa serta batu padas hitam yang ditambang langsung dari kawasan karst Maros dan wilayah Gowa.

Batuan sedimen berbasis tufa ini memiliki sifat yang unik, tidak terlalu keras seperti batuan andesit, melainkan lebih elastis dan berpori padat.

Saat diterjang peluru meriam musuh, batuan tufa tidak mudah retak atau hancur berkeping-keping, melainkan mampu menyerap energi benturan sehingga hantaman meriam hanya meninggalkan lubang kecil.

Dari segi tata ruang, arsitektur benteng buatan Gowa-Tallo memancarkan identitas kosmologi masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.

Benteng Ujung Pandang, misalnya, dirancang membentuk siluet penyu yang sedang merayap menuju laut.

Penyu dipilih bukan tanpa alasan. Satwa ini melambangkan ketangguhan Kerajaan Gowa-Tallo yang mampu bertaji di daratan sekaligus berjaya menguasai lautan.

Secara teknis, dinding Benteng Somba Opu dibangun setinggi 7 hingga 8 meter dengan ketebalan mencapai 2 hingga 3 meter.

Penggunaan teknik susun timbun batu bata merah yang dibakar sempurna menghasilkan massa dinding yang sangat solid.

Penataan dinding dibuat melengkung halus di sudut-sudutnya demi meredam tekanan angin laut dan mengalirkan getaran tanah saat terjadi gempa bumi.

Kemegahan benteng Gowa-Tallo bahkan pernah mengejutkan bangsa Eropa. Menurut catatan arsip sejarah Indonesia Kaya, Benteng Somba Opu pada abad ke-17 diakui sebagai salah satu benteng terkuat di kawasan Asia Tenggara yang dilengkapi ratusan meriam, termasuk meriam raksasa "Anak Makassar".

Ada perbedaan mendasar antara prinsip rancang bangun benteng asli Nusantara dengan gaya Eropa.

Benteng Eropa abad pertengahan sangat mengandalkan batuan masif keras yang direkatkan semen kapur tebal. Jika terkena dentuman berat, strukturnya rentan mengalami retak menjalar.

Sebaliknya, dinding batu tufa dan bata bakar Gowa-Tallo lebih adaptif terhadap getaran bumi dan hantaman meriam.

Arsitek Gowa-Tallo merancang benteng dengan sistem drainase bawah tanah yang mengalirkan air hujan deras langsung ke laut atau parit luar.

Hal ini mencegah terjadinya kelembapan berlebih yang dapat mengikis perekat batu, berbeda dengan rancangan Eropa yang sering mengalami kerusakan struktural akibat pembekuan atau pelapukan air tanah di iklim tropis.

Ketika VOC mengambil alih Benteng Ujung Pandang setelah Perjanjian Bungaya dan mengubah namanya menjadi Fort Rotterdam, mereka menambahkan lima bastion (sudut pertahanan) bergaya Renaisans Belanda.

Meskipun interiornya disesuaikan dengan arsitektur kolonial, fondasi dasar dan dinding penyangga utamanya tetap mempertahankan karya asli tangan-tangan pembangun Kerajaan Gowa-Tallo.

Hingga saat ini, jejak-jejak batu padas dan bata tua di Makassar dan Gowa tersebut menjadi saksi bisu bahwa peradaban masa lalu tidak hanya mengandalkan otot untuk bertahan, tetapi juga kecerdasan sains bahan yang melampaui zamannya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Romelu Lukaku Resmi Bergabung dengan Fenerbahce setelah Tinggalkan Napoli
• 11 jam lalu
0
thumb
Sutrimo Disebut Keluarkan Buih dari Mulut dan Hidung saat Ditemukan, Ini yang Dilakukan Tim Dokter Forensik
• 11 jam lalu
0
thumb
Dimas Aditya Tumbang Usai Syuting Film Urang Bunian, Sampai Berobat ke Malaysia
• 5 jam lalu
0
thumb
Pemkot Makassar Siapkan Skema Investasi Ducting Sharing untuk Tata Kabel Fiber Optik
• 18 jam lalu
0
thumb
Kepala BGN: Sudah 504 Dapur Ditutup Permanen, Tak Penuhi Standar Sanitasi
• 32 menit lalu
0
Berhasil disimpan.