Lurah Soal Pungutan Juru Kunci di Makam Mertua Seniman Djaduk: Kearifan Lokal

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Kelurahan Pakuncen angkat bicara soal kasus perusakan dan pungutan di makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di Makam Kuncen Lama di Pakuncen, Kota Yogyakarta.

Juru kunci yang memotong nisan itu disebut sengaja merusak agar ahli waris mencari dirinya dan memberikan sejumlah uang jasa perawatan makam yang biasanya.

Istri Djaduk, Petra Ferianto, mengatakan dirinya selama ini selalu memberi uang ke tukang bersih-bersih di makam. Namun beberapa waktu dia memang tak bertemu tukang bersih-bersih makam, sehingga bingung memberikan uang ke siapa.

Dalam mediasi kemarin, akhirnya Petra memutuskan membayar Rp 500 ribu sebagai 'utang' atas jasa bersih-bersih ke juru kunci, membayar Rp 50 ribu untuk perbaikan makam yang dirusak juru kunci, dan akan membayar uang bulanan Rp 100 ribu. Padahal tak ada aturan tertulis soal pungutan ini.

Soal pungutan ini, Lurah Pakuncen Budhi Riyanto mengatakan hal itu merupakan kearifan lokal.

"Makam Kuncen Lama ini memang dikelola secara kearifan lokal oleh para juru kunci-juru kunci. Jadi, tanggung jawab dan pengelolaannya memang ada di beliau-beliau," kata Budhi ditemui kantornya, Rabu (12/6).

Soal uang bulanan ke juru kunci ini menurut Budhi juga tidak ada peraturannya. Katanya praktik ini sudah turun temurun.

"Ya itu diserahkan kearifan lokal. Kearifan lokal ya memang nanti biar dari juru kunci sendiri," katanya.

"Itu memang dari turun-temurun, kami dari pihak pemerintah itu baru akan menata setelah peraturannya mungkin ada. Karena selama ini kan memang baru ada perdanya nggih. Nanti kita menunggu peraturan yang lebih mendetail tentang pengelolaan makam ini nanti akan coba, akan kami tata," katanya.

Budhi mengatakan makam ini menggunakan tanah Sultan Ground atau tanah Kasultanan Yogyakarta. Status makam adalah makam umum yang diurus oleh juru kunci.

"Makam umum kan, jadi pengelolaannya dikelola oleh juru kunci," ujarnya.

"Kewenangannya, memang kalau makam umum itu diserahkan kearifan lokal," tuturnya.

Budhi berencana akan mengumpulkan para juru kunci dengan harapan mereka bisa tertata dan mengatur tarif.

"Ini nanti penginnya kita mengelola secara bersama-sama, mengumpulkan juru kunci-juru kunci ini, nanti berembuk bermusyawarah, biar kejadian seperti yang dialami Bu Petra ini tidak terjadi di masa depan. Karena ini baik, atas itikad dari beliau-beliau juga yang mempunyai apa ya istilahnya kewajiban mengelola-mengelola ini kan nanti biar bisa bersepakat, nanti kita musyawarahkan secara bersama-sama, tarif juga lebih jelas dan ahli waris merasa tidak dirugikan," katanya.

Cerita Perusakan

Istri Djaduk, Petra Ferianto, mengatakan ayahnya dimakamkan di Kuncen sejak 1971. Baru kali ini peristiwa perusakan terjadi.

Perusakan ini diketahui Petra saat ia datang untuk nyekar. Saat itu, Petra kesusahan mencari makam ayahnya. Ternyata nisan makam sudah dipotong.

"Terus ada orang saya tanya, juru kuncinya mana? 'Bentar lagi otw' katanya gitu. Kok otw?," kata Petra melalui sambungan telepon, Selasa (11/8).

Saat itu, Petra juga bertanya ke orang yang biasa bersih-bersih di makam. Orang tersebut mengatakan juru kuncinya sedang tidak ke makam.

"Saya minta nomor Hp-nya juga dia bilang nggak bisa, gitu kan. Terus saya ke kelurahan, ternyata itu bukan bagiannya kelurahan," katanya.

Petra lalu ke kantor polisi melaporkan kejadian ini. Petugas kemudian mendatangi lokasi. Selang beberapa saat Petra diminta kembali ke lokasi karena juru kuncinya sudah ketemu.

Juru kunci tersebut, menurut Petra, berkata nisan sengaja dipotong alasannya agar Petra mencari dirinya. Diduga hal itu karena masalah uang.

Petra bilang selama ini dia kerap nyekar di makam. Ketika ada sejumlah tukang bersih-bersih makam, dia selalu memberikan uang masing-masing Rp 10 ribu.

Namun, beberapa waktu terakhir dia tak menjumpai orang di makam tersebut, sehingga bingung harus memberikan uang ke mana.

"Saya selalu meninggalkan bunga, sebagai cara memberi tahu bahwa ada yang miliki loh makam ini. Dengan ada bunga. Nah, ternyata itu tadi dia mancing, 'Iki pancen tak aku pegel, nek orang ini kan tentu ora nggoleki aku' (kalau tidak dipotong, tidak mencariku) gitu loh juru kuncinya itu gitu," katanya.

"Jadi singkat kata saya bilang, 'Ya wis kalau itu dianggap aku masih punya utang, utangku piro (berapa)?' Kayak gitu, selama saya datang ke situ tidak ada orang," katanya.

Kedua, Petra minta agar makam ini dikembalikan seperti semula. Petra bahkan menawarkan untuk berlangganan saja, sehingga ketemu atau tidak, juru kunci tetap dapat uang.

"Padahal di situ ada 5 atau 6 polisi di situ. Terus, dia (juru kunci) menyetujui itu," katanya.

Bahkan juru kunci disebut sempat mengancam makam akan dibongkar jika ada jenazah lain yang hendak pakai lantaran Petra tidak memberikan uang.

Dugaan Pemerasan

Petra mengeluarkan uang Rp 500 ribu untuk juru kunci tersebut.

"Yang saya anggap utang itu tak transfer ke dia. Saya ngasihnya Rp 500 ribu. Harusnya sudah terlalu banyak sebetulnya. Kalau ngasih upah kan paling ya Rp 5.000 sampai Rp 20 ribuan, kan," katanya.

Soal perbaikan makam, juru kunci itu bahkan disebut sempat minta uang Rp 50 ribu ke Petra.

"Kok aku jadi keluar biaya untuk (yang) kamu rusak," katanya.

"Jadi kaya memeras gitu ya, pemerasan," katanya.

Selain itu juga ada uang bulanan Rp 100 ribu per bulan.

"Dia sempat bilang sesasi (sebulan) Rp 100 ribu, sehari berapa gitu," ujarnya.

Terkait kasus ini, Petra sudah melapor ke kepolisian karena ada perusakan. Namun, karena pelaku mengakui, disarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

"Cuma harapan saya kan tidak bukan dengan kasus saya toh, tidak berhenti di sini. Harus ada efek jera," katanya.

Petra khawatir kasus serupa justru menimpa makam-makam lainnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KMP Putri Yasmin Terbakar di Pantai Sekotong Lombok Barat, Tim SAR Dikerahkan
• 18 jam lalu
0
thumb
Kurangi Subjektivitas Pengisian Jabatan, Setelah Jatim Menkum Supratman Serahkan Pemilihan KaKanwil Sumut Lewat E-Voting
• 5 jam lalu
0
thumb
Manchester City Resmi Datangkan Kiper Juara Dunia Argentina, Pernah Bikin Manchester United Merana di Final Liga Europa
• 9 jam lalu
0
thumb
Kaesang Berencana Maju dari Dapil Puan pada Pemilu 2029, Puan Maharani: Hak Setiap Parpol
• 2 jam lalu
0
thumb
Istana Pastikan Anugerah Gelar Bintang Tanda Jasa Digelar Sepakan Setelah HUT RI
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.