Bukan Sekadar Mata Uang, Ini Alasan Dolar AS Sulit Digantikan Negara Lain

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Amerika Serikat (AS) baru saja merayakan hari kemerdekaannya yang ke-250 pada Juli 2026, menandai perjalanan seperempat milenium sejak negara tersebut mendeklarasikan kemerdekaan pada 1776, tetapi ada satu warisan yang terus memperkuat pengaruh AS hingga hari ini, yakni keberadaan dolar AS.
 
Dolar AS tidak lagi sekadar alat pembayaran bagi masyarakat Amerika, melainkan telah menjadi bagian penting dari sistem ekonomi dunia karena digunakan bank sentral, pemerintah, perusahaan, dan investor untuk menyimpan cadangan devisa, membayar perdagangan internasional, menerbitkan utang, hingga melakukan transaksi valuta asing. Dolar AS Awalnya Bukan Mata Uang Dunia Perjalanan dolar sebagai mata uang global ternyata tidak dimulai dengan dominasi seperti yang terlihat sekarang karena ketika pertama kali ditetapkan sebagai satuan moneter resmi AS, pengaruhnya masih sangat terbatas dibandingkan mata uang Eropa, khususnya pound sterling milik Inggris yang saat itu menjadi pusat perdagangan dan keuangan internasional.
 
Dolar AS secara resmi mulai memperoleh dasar hukumnya melalui Coinage Act of 1792, aturan yang sekaligus membentuk U.S. Mint dan menetapkan dolar sebagai unit standar mata uang Amerika Serikat, tetapi selama masa awal berdirinya negara tersebut, pusat kekuatan ekonomi global masih berada di Inggris sehingga pound sterling jauh lebih banyak digunakan dalam transaksi lintas negara.
  Baca juga: Rupiah Tertekan pada Awal Perdagangan Balik Lagi ke Rp18.003 Lawan Dolar AS
Perubahan besar baru mulai terlihat pada awal abad ke-20 ketika Perang Dunia I membuat banyak negara Eropa membutuhkan makanan, bahan baku, peralatan industri, dan perlengkapan perang dari AS dalam jumlah besar, yang kemudian secara perlahan mengubah posisi keuangan kedua kawasan tersebut.

Ketika negara-negara Eropa mengalami tekanan finansial akibat perang, AS justru memperoleh kekuatan ekonomi yang semakin besar, sehingga negara yang sebelumnya banyak bergantung pada modal Eropa tersebut mulai berubah menjadi salah satu pusat pembiayaan dunia dan menciptakan fondasi bagi kebangkitan dolar. Bretton Woods Mengubah Dolar Menjadi Pusat Sistem Keuangan Babak paling menentukan dalam perjalanan dolar terjadi setelah Perang Dunia II ketika 44 negara berkumpul dalam Konferensi Bretton Woods pada 1944 untuk merancang sistem moneter internasional baru yang diharapkan mampu menciptakan stabilitas ekonomi setelah kehancuran perang.
 
Dalam sistem tersebut, mata uang negara-negara peserta dipatok terhadap dolar AS, sedangkan dolar sendiri dipatok terhadap emas dengan harga USD35 per ounce, sehingga negara-negara tidak perlu secara langsung mengaitkan mata uang mereka dengan emas karena cukup menggunakan dolar sebagai penghubungnya.
 
Posisi AS pada periode tersebut juga sangat kuat karena banyak negara besar di Eropa dan Asia baru saja keluar dari perang dan membutuhkan waktu panjang untuk membangun kembali perekonomian mereka, sementara AS memiliki perekonomian yang relatif kokoh serta cadangan emas dalam jumlah besar. Dunia Masih Menyimpan Dolar dalam Jumlah Besar Kekuatan dolar setelah era emas tidak hanya terlihat dalam perdagangan, tetapi juga dari keputusan bank sentral di berbagai negara untuk menyimpan dolar sebagai bagian penting dari cadangan devisa mereka karena cadangan tersebut diperlukan untuk membayar kewajiban luar negeri, menjaga stabilitas nilai tukar, membiayai impor, dan menghadapi gejolak pasar global.
 
Berdasarkan data IMF, dolar masih menyumbang sekitar 57 persen cadangan devisa global pada kuartal I 2026, jauh di atas sejumlah mata uang utama lainnya seperti euro, yen, pound sterling, dan yuan China, yang menunjukkan bahwa posisi dolar sebagai mata uang cadangan belum mudah digeser. Pasar Keuangan AS Menjadi Senjata Utama Dolar Selain itu, sejarah memang menjadi bagian penting dari kekuatan dolar, tetapi alasan yang membuat mata uang tersebut sulit digantikan hingga sekarang adalah keberadaan pasar keuangan AS yang sangat besar, dalam, dan likuid sehingga mampu menampung transaksi dalam skala yang sulit ditandingi negara lain.
 
Bank sentral dan investor global membutuhkan aset yang relatif aman, mudah diperjualbelikan, dan mampu menyerap dana dalam jumlah sangat besar, sehingga US Treasury atau surat utang pemerintah AS menjadi salah satu instrumen utama yang digunakan untuk menyimpan dan mengelola kekayaan dalam denominasi dolar.
 
Keunggulan tersebut menciptakan efek berantai karena semakin banyak investor membutuhkan aset dolar, semakin besar pula kebutuhan terhadap dolar itu sendiri, sementara semakin banyak transaksi menggunakan dolar, semakin besar pula insentif bagi pihak lain untuk tetap menggunakan mata uang yang sama. (Wisa Irena Br Sitepu)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Media Sosial Dongkrak Omzet UMKM Lokal
• 11 jam lalu
0
thumb
Cara Cairkan Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan Tanpa Resign di 2026
• 3 menit lalu
0
thumb
Kericuhan Pecah, Wasit Jadi Sasaran Emosi Kiper Perseka di Bupati Cup 2026
• 19 jam lalu
0
thumb
Dua Pekan Misteri Kematian Satpam di Waduk Jatiluhur Belum Terungkap
• 18 jam lalu
0
thumb
Wacana Pilkada Tanpa Wakil, Partai Perindo: Revisi UU Pemda Perlu Pertegas Kewenangan Pimpinan Daerah
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.