Suka Cita Langkah Anak Berkebutuhan Khusus di Malang Saat Mulai Kuliah…

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Suasana Kota Malang, Jawa Timur, belakangan ini semarak dengan kedatangan mahasiswa baru di beberapa perguruan tinggi. Seminggu ini, jalanan Kota Malang mulai padat oleh mahasiswa baru tersebut di mana hendak mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dahulu disebut Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).

Seorang pemuda dengan pita merah putih di lengan kanan, berjalan pelan di antara lalu lalang mahasiswa baru Universitas Negeri Malang. Saat bertemu teman dan pendampingnya, raut muka tegang pun akhirnya berubah sumringah.

Oleh pendamping berbaju hijau, mereka lalu diarahkan untuk duduk di lokasi tertentu, hingga menunggu teman-teman lainnya datang. Tak lama, satu persatu mahasiswa baru (maba) berpita merah putih lainnya berdatangan. Ada di antaranya menggunakan kursi roda, kruk (alat bantu berjalan), atau lainnya.

Para pendamping dari UKM Gempita UM (unit kegiatan mahasiswa yang mendampingi disabilitas), mengarahkan mahasiswa baru dengan kebutuhan khusus itu untuk menunggu dengan tenang. Maba berkebutuhan khusus tersebut mulai dari disabilitas fisik, autis, gangguan belajar, dan lainnya. Setiap maba disabilitas didampingi oleh seorang relawan Gempita.

Setelah maba disabilitas berkumpul, mereka diarahkan menuju lokasi PKKMB secara berkelompok. Dalam rangkaian PKKMB, ada kalanya mereka tetap berkelompok dan ada kalanya mereka bergabung dengan teman-teman se-fakultasnya. Selama proses, mereka selalu didampingi oleh relawan.

“Anak saya sebenarnya juga lulus seleksi nasional kuliah di universitas negeri di Jakarta. Namun oleh ayahnya, dipilih untuk kuliah di Malang. Katanya agar belajar mandiri. Nanti kami rencananya sebulan sekali akan ke Malang untuk menjenguk,” kata Eka, orang tua dari salah satu anak berkebutuhan khusus asal Depok, Rabu (12/08/2026).

Menurut Eka, sebenarnya berat melepas anaknya yang terkadang hilang fokus dan sulit belajar itu, hidup jauh dari keluarga. Namun, ia dan suami memilih untuk melatihnya, demi bisa mejalani masa depan lebih mandiri.

Selama mengikuti PKKMB, maba UM dengan disabilitas tersebut memiliki proses berbeda-beda. Ada anak rajin dengan rutin mencatat arahan dan penugasan, ada anak yang lupa melakukan presensi, dan ada anak yang semangat berkenalan dengan maba lainnya.

“Kami mendampingi maba dengan disabilitas selama PKKMB, dan menyiapkan kegiatan khusus bagi mereka berupa pemberian materi adaptasi kehidupan perkuliahan. Pembekalan tersebut bertujuan membantu mahasiswa memahami lingkungan kampus, berinisiatif menyampaikan kebutuhan, serta mampu mengadvokasi hak dan kebutuhannya selama menempuh pendidikan di UM,” kata Ketua Gempita UM, Juhari.

Juhari mengatakan, timnya mendapati ada 31 maba dengan kebutuhan khusus mengikuti PKKMB UM tahun 2026. Setiap maba tersebut mendapatkan pendampingan mulai dari proses pengurusan administrasi di universitas hingga saat ini mengikuti PKKMB.

“Pendampingan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa, mulai dari membantu mobilitas hingga menyediakan fasilitas pendukung seperti kursi roda dan juru bahasa isyarat. Untuk kegiatan di luar ruangan, Gempita juga menyiapkan tenda sebagai tempat beristirahat bagi mahasiswa yang membutuhkan,” kata Juhari. Menurut Juhari, fasilitasi itu dilakukan agar mahasiswa disabilitas dapat mengikuti seluruh rangkaian PKKMB secara aman, nyaman, dan setara sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Juhari menambahkan, mahasiswa disabilitas juga diberi ruang untuk berpartisipasi dalam rangkaian PKKMB. Salah satunya melalui penampilan mahasiswa tunanetra yang membawakan lagu Buka Album Biru sambil bermain gitar. Penampilan tersebut dipersiapkan melalui latihan bersama Gempita selama beberapa hari.

Pelaksanaan PKKMB inklusif tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya UM membangun lingkungan kampus ramah terhadap keberagaman. Pendampingan dan penyediaan aksesibilitas tersebut memberikan kesempatan setara bagi mahasiswa disabilitas untuk berpartisipasi dalam kegiatan akademik maupun kemahasiswaan.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penyelenggaraan pendidikan inklusif dan setara. Selain itu, PKKMB ramah disabilitas turut mendukung SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan dengan memperluas akses dan kesempatan setara bagi mahasiswa disabilitas dalam kehidupan pendidikan dan kemahasiswaan.

Baca JugaDisabilitas Mendamba Akses Inklusif

Salah satu mahasiswa baru Program Studi D4 Animasi UM, Kresna, mengapresiasi pendampingan dari UKM Gempita. Menurutnya, pendamping membantu mahasiswa berkebutuhan khusus mengikuti kegiatan PKKMB dengan lebih nyaman.

“Saya sangat terbantu dengan adanya Gempita ini. Dengan adanya Gempita, kami sebagai mahasiswa berkebutuhan khusus merasa dimudahkan dan nyaman dalam mengikuti PKKMB,” katanya.

Pendidikan

Selama ini, tingkat pendidikan teman-teman disabilitas di tanah air secara umum masih terbatas. Penyandang disabilitas menurut Susenas BPS tahun 2025 mencapai 24,67 juta jiwa. Jumlah tersebut prevalensinya 8,56 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, akses pendidikan menengah ke atas masih 28,5 persen.

Buku Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 terbitan BPS bekerjasama dengan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) menunjukkan, 39,21 persen penduduk dengan disabilitas lebih banyak belum tamat SD/tidak pernah sekolah. Adapun disabilitas berhasil tamat perguruan tinggi hanya 3,9 persen. Jumlah tamat perguruan tinggi ini 2-3 kali lipat untuk penduduk usia tersebut di atas di mana tanpa memiliki disabilitas.

Dari data di atas, terlihat bahwa lebih banyak masyarakat dengan disabilitas belum mengenyam pendidikan tinggi. Oleh karena itu, upaya maba disabilitas berani kuliah di UM tersebut patut diacungi jempol. Mereka adalah generasi yang mau mendobrak dan enggan menyerah pada keadaan. Kampus pun cukup tanggap, dengan mendukung niat tersebut. Semoga saja, upaya menjadi inklusif tersebut terus berjalan baik dan berkembang ke berbagai bidang kehidupan.

Baca JugaMembangun Ruang Aman Autisme, Bahwa Beda Bukan Salah


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Update Korban Gempa M 7,4 di Kolombia: 224 Orang Tewas
• 17 jam lalu
0
thumb
Misteri Hilangnya 2.000 Dollar Singapura dari Amplop Bupati Kuansing ke Menhut Raja Juli
• 12 jam lalu
0
thumb
Polda Lampung tangkap 41 pelaku C3 dalam sehari
• 8 jam lalu
0
thumb
Amran Minta Polisi Periksa Perusahaan Pakan Ternak Ini, Ada Apa?
• 6 jam lalu
0
thumb
Gus Alex Didakwa Perkaya Diri Rp 93,6 M dari Kasus Kuota Haji
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.