HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat persaingan bisnis semakin cepat. Hampir seluruh perusahaan kini memiliki akses terhadap teknologi serupa. Namun, teknologi saja dinilai belum cukup untuk membuat sebuah perusahaan menjadi pemenang.
Founder dan Chairman MCorp, Hermawan Kartajaya, menekankan pentingnya diferensiasi bagi perusahaan yang ingin memenangkan persaingan di era AI. Hal tersebut disampaikan Hermawan saat berkunjung ke Graha Pena Makassar sebagai narasumber podcast, Rabu, (12/08/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Hermawan membahas perkembangan pemasaran di tengah pesatnya penggunaan AI, termasuk strategi perusahaan dalam membangun pembeda, meningkatkan efisiensi, hingga menciptakan pertumbuhan baru.
Hermawan mengatakan, banyak pelaku usaha kini mempertanyakan apa yang harus dilakukan selain menggunakan AI. Menurutnya, jawabannya justru kembali pada prinsip dasar pemasaran, yakni positioning, differentiation, dan branding.
“Sebetulnya sebelum AI, yang diperlukan itu adalah diferensiasi. Positioning, differentiation, branding,” kata Hermawan dalam podcast di Graha Pena.
Menurut Hermawan, diferensiasi yang kuat dan sulit ditiru kompetitor kemudian dapat diperkuat dengan teknologi AI. Sebaliknya, jika perusahaan tidak memiliki pembeda yang jelas, penggunaan teknologi hanya akan menjadi pemborosan.
“Kalau kita sudah punya diferensiasi, kebedaan yang sulit ditiru orang, maka AI itu tinggal nge-push diferensiasi itu dengan cara yang baik dan benar. Tapi kalau tidak punya diferensiasi, buang-buang saja teknologi itu,” jelasnya.
Hermawan mengatakan AI tetap penting digunakan perusahaan. Namun, teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat strategi bisnis, bukan menggantikan seluruh peran manusia.
Menurutnya, AI dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, termasuk menekan biaya. Dengan memasukkan data yang tepat, perusahaan dapat menggunakan AI untuk menganalisis berbagai kemungkinan dan memberikan rekomendasi terhadap strategi operasional.
AI juga dapat membantu perusahaan memahami perilaku konsumen. Data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk memberikan layanan dan pesan yang lebih personal kepada setiap konsumen.
Ia mencontohkan pola rekomendasi yang diterapkan berbagai platform digital seperti Netflix dan TikTok. Ketika pengguna memiliki kebiasaan mengakses konten tertentu, algoritma akan memberikan rekomendasi yang sesuai dengan preferensi pengguna.
Namun, Hermawan mengingatkan perusahaan agar tidak menyerahkan seluruh keputusan kepada AI. Manusia tetap harus memegang kendali dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Menurutnya, perkembangan AI bahkan telah memasuki era agentic AI yang mampu menjalankan berbagai tindakan berdasarkan instruksi. Kondisi tersebut membuat kontrol manusia semakin penting.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai augmented human, yakni manusia yang memanfaatkan kemampuan teknologi untuk memperkuat kapasitasnya, tetapi tetap menjadi pengambil keputusan.
Hermawan juga menekankan pemanfaatan AI harus diarahkan untuk menciptakan nilai baru dan mendorong pertumbuhan bisnis. Ia menggunakan konsep QCDS sebagai ukuran pemanfaatan AI dalam operasional perusahaan.
Q merupakan quality atau kualitas, C adalah cost atau biaya, D adalah delivery atau kecepatan, sementara S adalah service atau pelayanan.
“AI itu diharapkan bisa meningkatkan konsistensi kualitas, menurunkan cost, lebih cepat dalam melakukan sesuatu, dan meningkatkan service,” jelasnya.
Menurut Hermawan, peningkatan kualitas pelayanan pada akhirnya akan berdampak terhadap kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan perusahaan.
Khusus bagi pelaku usaha di Makassar, Hermawan mengingatkan agar tidak sekadar mengikuti tren penggunaan AI. Perusahaan perlu memilih teknologi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis.
“Jangan ragu-ragu pakai AI. Pakai AI, cuma masalahnya pilih AI yang tepat untuk kita, yang bisa meningkatkan quality, cost, delivery. Tetapi yang penting semua itu dipersembahkan untuk service,” ujarnya.
Hermawan juga menilai Makassar memiliki potensi ekonomi yang besar. Ia menyebut kondisi ekonomi Makassar relatif kuat dan memiliki daya tahan menghadapi berbagai perubahan eksternal, termasuk dinamika geopolitik.
Kehadiran Hermawan di Graha Pena juga menjadi bagian dari rangkaian agenda Makassar Marketing Festival 2026 yang berlangsung 12-14 Agustus 2026. Dalam festival tersebut, Hermawan menjadi salah satu narasumber yang membahas strategi pemasaran dan persaingan bisnis di era AI.
Hermawan dijadwalkan membawakan materi mengenai perkembangan marketing melalui konsep Marketing 7.0. Buku Marketing 7.0 merupakan karya terbarunya yang membahas strategi memenangkan persaingan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen.
Makassar Marketing Festival 2026 digelar selama tiga hari dengan sejumlah agenda, mulai dari campus day, corporate day, hingga knowledge day. Kegiatan tersebut menghadirkan pembicara dari tingkat nasional maupun lokal.






Komentar (0)