Desil 9-10 Berpotensi Tak Lagi Nikmati Subsidi Pertalite

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah tengah menyiapkan skema pembatasan Pertalite bagi masyarakat dari kelompok ekonomi atas atau desil 9 dan 10. Kelompok tersebut berpotensi tidak lagi menikmati subsidi Pertalite dan harus beralih menggunakan BBM nonsubsidi seperti Pertamax.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah masih mempelajari sistem pembatasan tersebut bersama PT Pertamina (Persero). Menurut dia, sistem yang dimiliki Pertamina sudah cukup baik dan dinilai siap mendukung penerapan kebijakan tersebut.

Baca Juga
  • Rapat dengan Bahlil, Purbaya Janji Pembatasan Pembelian Pertalite Dilakukan Bertahap
  • Bahlil Temui Purbaya Bahas Pembatasan Pembelian Pertalite
  • Dari Pertalite ke Gas Elpiji 3 Kg, Solusi Murah Petani Majalengka Lawan Kekeringan

"Yang desil 9, 10 enggak bisa beli yang bersubsidi. Dia mesti bayar harga Pertamax atau yang lain," kata Purbaya, di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Purbaya mengatakan waktu penerapan kebijakan tersebut belum ditentukan. Pemerintah masih menguji sistemnya dan menyiapkan skema yang memungkinkan pembatasan dilakukan secara bertahap.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pembahasan tersebut dilakukan untuk memastikan subsidi migas lebih tepat sasaran. Menurut dia, subsidi yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah harus diberikan kepada masyarakat yang berhak menerima.

“Sebagian subsidi tidak tepat sasaran. Masa orang kaya harus kita subsidi? Contoh, Pertalite. Desil 9, desil 10 masih dapat subsidi,” ujar Bahlil.

Ia mencontohkan pemilik kendaraan mewah tidak semestinya menikmati subsidi. Ia juga menegaskan sepeda motor tidak menjadi sasaran pembatasan dalam skema yang tengah dibahas pemerintah.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pramono Buka Opsi Hapus Jalur Sepeda di Jalan Protokol Jakarta
• 15 jam lalu
0
thumb
KP2MI Buka Pendaftaran Pelatihan Asta Mandala SMK Go Global!
• 17 jam lalu
0
thumb
Veteran Perang: Serangan Umum Surakarta Jadi Jalan Menuju Kedaulatan
• 2 jam lalu
0
thumb
Serangan Amerika Serikat di Yaman Menewaskan 153 Warga Sipil Sepanjang 2025
• 3 jam lalu
0
thumb
PB Mathla’ul Anwar ke Newport: Al-Quran Bukan Alat Gimmick Apalagi Promosi Miras
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.