TULISAN ini adalah sambungan dari tulisan penulis sebelumnya di kolom Kompas yang berjudul Sarjana Pengangguran, Pendidikan Orang Tua dan Kewirausahaan Sosial.
Tulisan kali ini akan menyoroti peran orang tua dalam isu tersebut.
Menjadi orang tua, apalagi yang anaknya banyak di zaman ini, semakin dituntut cerdas.
Bagaimana tidak, hampir seluruh unsur dan komponen penunjang biaya pendidikan semakin mahal, apalagi jika seluruh anaknya harus dibiayai sampai sarjana.
Biaya pendidikan mungkin bisa dibantu beasiswa, namun biaya hidup harian tidak bisa bohong.
Biaya kuliah hari ini bukan lagi sekadar mahal—bagi banyak keluarga, ia telah menjelma menjadi beban menentukan seluruh arah keuangan rumah tangga selama bertahun-tahun.
Orang tua menabung sejak anak masih balita, berutang di tahun-tahun terakhir, semua demi satu tujuan yang dianggap tak bisa ditawar: anak harus jadi sarjana.
Namun pertanyaan yang jarang berani diajukan adalah: apakah jalan itu benar-benar satu-satunya, atau justru konstruksi sosial yang perlu kita tinjau ulang?
Generalis Mahal, Spesialis DicariSistem pendidikan formal kita, secara struktural, adalah sistem generalis. Anak diminta menguasai semua mata pelajaran secara merata, ditarik dari satu jenjang ke jenjang berikutnya tanpa banyak ruang untuk menajamkan satu keahlian sejak dini.
Baca juga: Menagih Kerja Layak bagi Para Sarjana
Hasilnya bisa ditebak: di usia dua puluh dua tahun, banyak lulusan keluar dengan gelar, tapi tanpa keahlian yang benar-benar tajam—dan pasar kerja tidak mencari orang yang tahu sedikit tentang banyak hal, melainkan orang sangat ahli pada satu hal spesifik.
Walaupun tentu saja, penerapan kurikulum Merdeka 4-5 tahun ke belakang telah memberikan angin segar.
Namun, untuk mencetak para spesialis muda yang kompeten, atau bahkan memiliki sertifikat kompetensi nasional dari BNSP, jelas membutuhkan struktur program dan pola kurikulum yang lebih terarah dan terukur.
Mungkin sulit dan tidak langsung mudah diwujudkan, namun sinyal “sejuta sarjana pengangguran jelas tidak boleh diabaikan”.
Selanjutnya, fenomena yang dihadapi para pemuda-pemudi kita hari ini bukan hanya masalah kesempatan kerja, namun juga tentang kedewasaan dan pemahaman tentang makna hidup.
Banyak pemuda masih bingung tentang jatidirinya, self concept, juga arah hidupnya.






Komentar (0)