Menyusuri Lini Masa Kesenian Jakarta

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Poster-poster pertunjukan yang tampak pudar dan beragam dokumentasi kegiatan seni menempel di sekat-sekat putih. Tepat di bawahnya, katalog pameran dan buku-buku lawas berjajar di dalam etalase. Meski tak seluruhnya tersusun rapi, benda-benda itu menyimpan jejak panjang perjalanan kesenian di Jakarta.

Di Selasar Nasar, Paviliun Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, beragam arsip kembali berbicara melalui pameran bertajuk ”Kepo Kosmopo: Melampaui Gincu Dunia Ketiga”. Selasa (11/8/2026) sore, suasana hening mengiringi Kompas menyusuri arsip dan koleksi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang dipamerkan hingga 14 Agustus 2026.

Dokumentasi foto hitam putih dalam pameran.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Koleksi buku terkait acara kesenian dekade 1970-an.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Poster acara seni berkolaborasi dengan negara lain.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Kali ini, arsip tak lagi dipandang sebagai benda yang sekadar layak disimpan. Melalui pameran ini, DKJ mengajak pengunjung melihat arsip sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana Jakarta bertumbuh sebagai kota kebudayaan. Dokumen, foto, rekaman, hingga surat-surat resmi memperlihatkan bahwa seni lekat dengan perjalanan kota.

Gagasan tersebut tecermin dalam judul pameran. Kata ”kepo”, yang menggambarkan rasa ingin tahu berlebihan, dimaknai sebagai keberanian untuk terus bertanya, mempelajari hal-hal baru, dan membuka ruang dialog. Adapun ”kosmopo” merujuk pada semangat kosmopolitan yang telah lama hidup di lingkungan Taman Ismail Marzuki.

Pembacaan itu berangkat dari sejarah Jakarta. Jauh sebelum Taman Ismail Marzuki berdiri pada 1968, kota ini telah menjadi pelabuhan yang mempertemukan beragam bahasa, budaya, dan praktik kesenian. Di kawasan, seperti Pasar Senen dan Ancol, para seniman dari latar belakang berbeda saling bertemu, bertukar pengalaman, sekaligus menegosiasikan batas antara tradisi dan modernitas.

Dari perjumpaan-perjumpaan itu, lahir beragam bentuk seni yang tidak sekadar menyalin pengaruh luar, tetapi mengolahnya menjadi karya yang berakar pada kebudayaan Indonesia. Ketika Taman Ismail Marzuki berdiri, semangat tersebut memperoleh ruang yang lebih kokoh. Melalui berbagai program DKJ, Jakarta kemudian berkembang menjadi salah satu titik temu kebudayaan di kawasan Asia.

Arsip poster acara kesenian tahun 1998.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Kliping koran dan arsip katalog pameran.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Suasana pameran arsip dan koleksi DKJ.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Jejak hubungan itu tampak nyata di ruang pamer. Pengunjung dapat melihat arsip kolaborasi DKJ dengan berbagai negara, seperti Belanda, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Polandia, Iran, serta sejumlah negara di Asia Tenggara. Berbagai arsip festival, pementasan, pameran, dan forum internasional menunjukkan bahwa seni turut menjadi jembatan diplomasi budaya antarmasyarakat dari berbagai penjuru dunia.

Pandangan tersebut dipertegas melalui frasa ”Melampaui Gincu Dunia Ketiga”. Frasa itu diambil dari kritik yang pernah mengemuka dalam Third World Theatre Festival and Colloquy di Seoul pada 1981. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai hiasan untuk mempercantik citra negara.

Melalui beragam arsip yang selama ini tersimpan, ”Kepo Kosmopo” mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar sesuatu untuk dikenang. Lebih dari itu, arsip juga menjadi bekal untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan kebudayaan Jakarta.

Baca JugaMenjaga Bedhaya, Merawat Budaya
Baca JugaKisah Fotografer di Antara Dedikasi dan Erupsi Gunung Api


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bea Cukai Langsa dan Bea Cukai Medan Gagalkan Penyelundupan Moge dan Suku Cadang Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar
• 21 jam lalu
0
thumb
Kenalan dengan Metode Sandwich Makeup, Teknik Riasan Anti Longsor dan Awet
• 7 jam lalu
0
thumb
Soal Rencana Pembatasan Pertalite, Bahlil: Biar Subsidi Tepat Sasaran
• 10 jam lalu
0
thumb
Foto: Usai Diguncang Gempa, Warga Kolombia Bertahan Dalam Gelap
• 2 jam lalu
0
thumb
Viral Pria Pakai Rok Mini Joget Seronok saat Gerak Jalan Agustusan di Bangkalan
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.