CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi warga Makassar, Jalan Lanto Daeng Pasewang merupakan salah satu ruas yang menghubungkan sejumlah kawasan penting di pusat kota.
Nama itu terpampang di papan jalan dan menjadi bagian dari keseharian warga, tetapi di baliknya tersimpan kisah seorang tokoh yang pernah ikut menggerakkan perjuangan kemerdekaan di Sulawesi.
Lanto Daeng Pasewang merupakan salah satu tokoh pergerakan asal Sulawesi Selatan yang kemudian dipercaya menduduki jabatan penting dalam pemerintahan.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat, ia menjadi bagian dari jajaran tokoh yang membantu Dr. G.S.S.J. Ratulangi dalam pemerintahan Republik Indonesia di Sulawesi setelah kemerdekaan.
Perannya bahkan telah muncul sebelum Indonesia memasuki masa mempertahankan kemerdekaan.
Dalam catatan sejarah yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Lanto Daeng Pasewang bersama Ratulangi, Andi Zainal Abidin dan sejumlah tokoh lainnya mendirikan Perguruan Nasional di Makassar pada Oktober 1945.
Sekolah tersebut menjadi salah satu ruang untuk menanamkan gagasan nasionalisme kepada generasi muda di tengah situasi politik yang masih bergejolak.
Lanto juga terlibat dalam penyebaran kabar Proklamasi Kemerdekaan ke berbagai wilayah Sulawesi.
Setelah rombongan Ratulangi tiba di Makassar pada 20 Agustus 1945, penyebaran berita kemerdekaan dilakukan ke sejumlah wilayah. Lanto Daeng Pasewang mendapat tugas membawa kabar tersebut ke arah selatan.
Perjuangan itu berlanjut ketika Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia. Arsip sejarah Sulawesi Selatan yang tersimpan di repositori pemerintah mencatat Lanto sebagai salah satu tokoh yang berada dalam lingkaran perjuangan mempertahankan kemerdekaan di kawasan Indonesia Timur.
Ia kemudian bersama sejumlah anggota staf Ratulangi ditangkap Belanda dan diasingkan ke Serui, Irian Jaya.
Setelah masa revolusi, kiprahnya berlanjut di pemerintahan. ANRI mencatat Lanto Daeng Pasewang sebagai Gubernur Sulawesi pada periode 1953–1956.
Ia memimpin ketika Sulawesi masih merupakan satu provinsi dengan Makassar sebagai ibu kota, jauh sebelum wilayah tersebut dimekarkan menjadi sejumlah provinsi seperti sekarang.
Jejaknya sebagai gubernur juga masih dapat ditemukan dalam catatan sejarah bangunan pemerintahan Kota Makassar.
Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar mencatat Lanto Daeng Pasewang pernah berkantor di gedung yang kini menjadi Balai Kota Makassar.
Ia tercatat sebagai gubernur pada periode 1953–1956, bersama sejumlah pejabat yang menjalankan pemerintahan pada masa transisi tersebut.
Nama Lanto kemudian melekat pada salah satu ruas jalan di Makassar. Dalam kajian sejarah sosial daerah yang diterbitkan melalui repositori Kemendikbud, ruas yang kini dikenal sebagai Jalan Lanto Daeng Pasewang sebelumnya tercatat sebagai Dadi-weg.
Kawasan di sekitar jalan tersebut dikenal sebagai Kampung Dadi, yang namanya dikaitkan dengan keberadaan perusahaan susu sapi pada masa lalu.
Sementara itu, dokumentasi mengenai nama-nama jalan di Makassar menempatkan Lanto Daeng Pasewang sebagai salah satu dari tokoh penting yang namanya diabadikan menjadi nama jalan.
Pengabadian tersebut memperlihatkan bagaimana ruang kota tidak hanya berfungsi sebagai jalur mobilitas, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga ingatan terhadap tokoh-tokoh yang pernah berperan dalam perjalanan sejarah daerah.
Kini, Jalan Lanto Daeng Pasewang terus menjadi bagian dari denyut Kota Makassar. Kendaraan melintas, aktivitas warga berlangsung, dan berbagai bangunan berdiri di sepanjang ruasnya.
Namun, setiap kali nama itu disebut, ada satu bagian dari sejarah Sulawesi yang ikut diingat: perjalanan seorang tokoh dari arena pergerakan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga memimpin pemerintahan di Sulawesi pada masa awal Republik.
Nama jalan itu pada akhirnya bukan sekadar penunjuk arah. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah kota kerap tersimpan dalam nama-nama yang setiap hari dilewati warganya.





Komentar (0)