JAKARTA, KOMPAS — Para tokoh yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyatakan keprihatinan atas kondisi bangsa yang dinilai masih jauh dari cita-cita kemerdekaan 81 tahun silam. Seluruh elemen bangsa diharapkan dapat bertaubat dan memperbaiki moral demi mewujudkan Indonesia yang demokratis. Para pemimpin diharapkan menjaga etika serta memberikan keteladanan bagi rakyat.
”Akhir-akhir ini bangsa kita dihadapkan pada kondisi sangat memprihatinkan. Rakyat marah kepada ketidakadilan. Demonstrasi yang tidak kunjung henti. Kelompok keamanan melakukan kekerasan berlebihan, sementara tindakan-tindakan amoral kian hari kian marak dan merebak sampai membawa korban jiwa,” kata Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, salah satu tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) di Grha Pemuda, kompleks Gereja Katedral Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Para tokoh GNB berkumpul dalam sarasehan untuk membicarakan kondisi bangsa setelah 81 tahun merdeka. Selain Sinta Nuriyah, sejumlah tokoh lain yang hadir di antaranya Franz Magnis-Suseno, Ignatius Kardinal Suharyo, Emil Salim, Mahfud MD, Omi Komaria, Nurcholish, Lukman Hakim Saifuddin, Halida Nuriah Hatta, dan Alissa Wahid.
”Sebagai orang tua, kami berharap bangsa dan negara Indonesia terus maju mewajibkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Ini hanya bisa dipenuhi dengan menyelenggarakan negara yang berpihak pada rakyat adil dan berdasarkan kedaulatan sipil dan kedaulatan hukum,” lanjut istri dari mendiang Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid tersebut.
Dalam momentum peringatan 81 kemerdekaan Indonesia, GNB juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk menegaskan kembali makna kemerdekaan. Sarasehan ini, kata Sinta, juga menghasilkan rumusan bersama berupa delapan pesan untuk kemerdekaan.
Empat dari pesan di antaranya dibacakan oleh Lukman Hakim Saifuddin, tokoh moderasi beragama yang pernah menjabat Menteri Agama periode 2014-2019. Pertama, kata Lukman, adil dan makmur adalah tujuan berbangsa dan bernegara dengan prasyarat merdeka, bersatu, dan berdaulat.
Kedua, rasa aman warga adalah ukuran nyata kemerdekaan. Ketiga, demokrasi dan hukum harus kembali berpijak pada kedaulatan rakyat. Keempat, profesionalitas TNI-Polri perlu dijaga sebagai fondasi demokrasi.
Empat pesan berikutnya disampaikan Alissa Wahid. Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia ini menyampaikan, pesan kelima adalah sumber daya alam dan anggaran publik harus diarahkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Keenam, etika dan keteladanan pemimpin adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Pesan ketujuh menegaskan pendidikan, kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia adalah investasi masa depan bangsa. Terakhir, masyarakat sipil adalah pelaku cipta-bersama demokrasi, bukan sekadar menjadi penonton.
”Delapan pesan ini bukan penutup, melainkan ajakan untuk memulai. Gerakan Nurani Bangsa mengajak segenap elemen bangsa, penyelenggara negara, dunia usaha, tokoh agama, kalangan kampus, media, dan warga, untuk bersama merawat cita-cita kemerdekaan menuju Indonesia yang adil dan makmur,” ungkap Alissa.
Ignatius Kardinal Suharyo mengingatkan, moralitas berbangsa dan bernegara telah dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Di sini, etika dan keteladanan pemimpin adalah fondasi yang tidak bisa ditawar.
Uskup Agung Jakarta ini menyebut, cita-cita moral tersebut juga seharusnya dirumuskan dalam undang-undang yang adil. Sayangnya, dia melihat pemerintah bukannya taat kepada hukum, melainkan mengubah regulasi sesuai keinginan dan kepentingannya.
”Nah, kerusakan saya duga mulai dari tempat itu,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, Suharyo berharap, semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dapat bertobat dan berintrospeksi diri. Terlebih saat ini, ketidakadilan masih dirasakan, tetapi kemakmuran yang menjadi cita-cita bangsa justru semakin menjauh.
”Mungkin tidak menyenangkan istilahnya perdebatan. Namun, itu langsung berkaitan dengan sikap moral yang menjadi landasan dari peraturan perundang-undangan. Kalau itu tidak dijalankan, entah bagaimana dengan cita-cita yang dirumuskan tetapi kemudian diubah-ubah sesuai sesuai kemauan yang punya kuasa,” tuturnya.
Halida Nuriah Hatta juga menilai moral bangsa perlu diperbaiki untuk merawat Indonesia. Dia juga mengingatkan Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga sebagai bangsa yang bermartabat dan bisa dihargai oleh diri sendiri dan seluruh dunia.
”Perjuangan bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya itu dilakukan dengan kekuatan moral dan kekuatan fisik resiliensi untuk tangguh, meraih kemerdekaan itu dengan upaya sendiri, serta menempa diri dan merumuskan untuk apa kita merdeka,” kata putri Proklamator RI Mohammad Hatta tersebut.






Komentar (0)