Setahun lalu, Butter Baby datang ke Jakarta dengan cerita yang tidak biasa. Kapalnya dikisahkan mendarat darurat di Bumi dengan misi mengumpulkan 500 triliun ton mentega untuk menyelamatkan Butterlandia, planet asalnya yang hampir mati. Namun, dari misi tersebut, karakter ini justru menemukan tempat baru yang kemudian disebutnya rumah.
Rumah itu adalah Jakarta. Berawal dari gerai pertama di Blok M, Butter Baby dalam satu tahun berkembang menjadi character-led dessert universe yang tidak hanya menjual makanan, tetapi juga membangun karakter, cerita, desain, merchandise, hingga berbagai pengalaman untuk pengunjungnya.
Perkembangannya pun tidak berhenti di satu sudut Jakarta. Dalam satu tahun, Butter Baby telah memiliki lima gerai di Indonesia dan mulai membawa dunia Butterlandia ke luar negeri melalui sejumlah aktivasi di Bangkok dan Los Angeles.
Dari Blok M hingga Los AngelesSalah satu penanda perjalanan Butter Baby adalah kehadirannya di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di sana, karakter Butter Baby hadir lewat instalasi landmark setinggi delapan meter dengan berat mencapai 7,5 ton, membuat dunia kecil yang sebelumnya hadir di gerai ikut menjadi bagian dari ruang publik yang lebih besar.
Pada saat yang sama, Butter Baby mulai memperkenalkan diri kepada audiens internasional. Pop-up di Bangkok dihadiri sejumlah nama seperti Jackson Wang, Bright Vachirawit, dan Gulf Kanawut.
Sementara di Los Angeles, aktivasi Butter Baby menarik perhatian North West, Kathy Hilton, hingga Mark Tuan secara organik, sekaligus membawa brand ini meraih nominasi Webby Award dan dua penghargaan di bidang inovasi brand dalam waktu kurang dari setahun.
Butterlandia juga perlahan masuk ke kehidupan penggemarnya lewat merchandise. Bag charm, keychain, hingga karakter kolektibel menjadi bagian dari dunia Butter Baby yang bisa dibawa pulang dan digunakan sehari-hari. Beberapa koleksinya bahkan terlihat dipakai oleh nama-nama seperti Jae Hyun NCT, Bright, Usher, Jason Derulo, Vernon SEVENTEEN, dan Jay Park.
“Butter Baby terdampar di Jakarta, tetapi kemudian memilih untuk tinggal,” ujar Karen Tjahja, Head of Marketing & Business Development Butter Baby.
Menurutnya, tahun pertama ini bukan hanya soal jumlah gerai atau penghargaan, tetapi tentang bagaimana karakter dan dunia yang dibangun di Indonesia mulai menjadi bagian dari kehidupan banyak orang.
Kembali ke tempat semuanya bermulaMeski mulai menjangkau berbagai kota di luar negeri, Indonesia tetap menjadi bagian penting dari cerita Butter Baby. Interaksi dengan pelanggan, kolaborator, kreator, hingga kultur lokal sejak awal ikut membentuk bagaimana Butter Baby berkembang dan membawa identitasnya ke tempat-tempat baru.
Karena itu, ketika memasuki usia satu tahun pada Minggu (9/8), Butter Baby memilih kembali ke Blok M untuk merayakannya bersama komunitas. Lewat Butter Baby Block Party, suasana ulang tahun diisi dengan kuliner, musik, permainan bertema Butterlandia, serta berbagai aktivitas yang merepresentasikan perjalanan mereka selama setahun terakhir.
Pengunjung dapat menikmati free-flow Butter Baby Donut dan berbagai F&B dari brand pilihan seperti Everyday Weekend, Tori-Ma Kashi, Tacos El Taco, Jul's Pizza, Hainambah, Tokyo 2100, Madhouse, Gemini Hard Iced Tea, dan Beaches Brewing Co. Acara tersebut juga menghadirkan DJ Merdi dari Diskoria serta sejumlah figur seperti Carissa Putri, Gabriel Prince, Raline Shah, dan Yoriko Angeline.
Memasuki tahun kedua, Butter Baby masih punya banyak cerita untuk dikembangkan. Mulai dari karakter, produk, merchandise, pengalaman, hingga pasar baru, termasuk rencana membawa Butterlandia kembali ke Bangkok.






Komentar (0)