JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang juru kamera bernama Ardy (35) mendadak ramai diperbincangkan di media sosial setelah unggahannya di portal lowongan kerja LinkedIn viral.
Unggahan tersebut berisi informasi bahwa Ardy sedang mencari pekerjaan sebagai kameramen pada 2025.
Unggahan itu kemudian disandingkan dengan unggahan terbarunya yang menunjukkan bahwa ia juga mencari pekerjaan sebagai office boy (OB), sopir, hingga sekuriti.
Baca juga: Sejak 2019, Warga RW 07 Joglo Jakbar Tak Lagi Buang Sampah Rumah Tangga, Diolah Jadi Kompos dan Maggot
Hal tersebut menarik perhatian warganet. Doa dan dukungan dari warganet membanjiri unggahan yang dibuat akun @infonetizone di Instagram.
Terkait unggahan tersebut, Ardy mengungkapkan cerita di baliknya. Ia mengatakan, unggahan tersebut tidak dibuat karena dirinya merasa putus asa, melainkan ada pesan tersirat yang ingin disampaikan kepada sesama jurnalis dan pemerintah.
“Di LinkedIn itu intinya gua hanya mencurahkan apa yang ada di pikiran. Bukan hanya buat diri sendiri, rapi buat banyak jurnalis atau kameramen yang kena layoff (PHK) umur 30 ke atas, dan susah cari kerja,” jelas Ardy saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Selasa (11/8/2026).
Ardy mengaku bingung dengan perhatian publik terhadap unggahannya.
“Gua kan hanya posting di LinkedIn. Bingung juga viral ke mana-mana. Padahal cuma buat ngasih dukungan ke teman-teman yang lain,” tutur dia.
Selain itu, unggahan tersebut juga menjadi bentuk kritik Ardy terhadap pemerintah.
Menurut dia, gelombang PHK yang melanda berbagai industri, termasuk media, bertentangan dengan janji penciptaan 19 juta lapangan kerja yang disampaikan saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Baca juga: MC Minta Maaf soal Challenge Hafalan Al Quran Berhadiah Miras di Booth Newport
“Sama untuk menyindir pemerintah, dari kebijakannya. 19 juta lapangan itu di mana sih? Itu juga ibaratnya ketika pengalaman udah enggak dihargai, tidak ada yang menampung, ya mau gimana lagi?” kata Ardy.
Ardy mengatakan, dirinya sudah berulang kali mengikuti wawancara di sejumlah perusahaan media. Namun, ia kerap terkendala usia ketika hendak melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya.
Padahal, Ardy memiliki pengalaman panjang bekerja di sejumlah media televisi nasional. Ia kemudian terkena PHK dengan alasan efisiensi.
Menurut Ardy, saat itu ada delapan kameramen, termasuk dirinya, yang terkena PHK. Kemudian, lima kameramen lainnya juga terkena PHK pada periode berikutnya.
Saat ini, Ardy mengisi hari-harinya dengan bekerja sebagai videografer lepas (freelance). Ia mengaku tawaran pekerjaan yang diterimanya tidak datang secara rutin.






Komentar (0)