10.000 Mangrove Ditanam di Gresik, Jadi Benteng Pesisir dan Harapan Generasi

beritajatim.com
8 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita:

Gresik (beritajatim.com) – Di ujung timur Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, garis pantai bukan sekadar batas antara daratan dan laut. Di kawasan tersebut, keberadaan mangrove menjadi salah satu penyangga kehidupan warga pesisir.

Kini, benteng alami tersebut diperkuat dengan penanaman 10.000 bibit mangrove melalui Program Konservasi Mangrove Pesisir Lestari – Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang, Selasa (11/8/2026).

Program yang digagas Pemerintah Kabupaten Gresik bersama PT Smelting itu dipusatkan di Dusun Ujung Timur (Brang Wetan), Desa Randuboto.

Penanaman ribuan bibit tersebut bukan sekadar memperbanyak tutupan hijau di kawasan pesisir. Ada persoalan yang jauh lebih besar yang hendak dijawab, yakni bagaimana daratan tetap bertahan, ekosistem laut tetap hidup, dan masyarakat pesisir tetap memiliki ruang untuk menggantungkan penghidupan.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, pesisir merupakan ruang ekologis sekaligus ruang kehidupan bagi masyarakat. Karena itu, kerusakan kawasan pesisir tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kehidupan ekonomi warga.

“Mangrove memiliki peran yang sangat strategis, membantu melindungi pantai dari abrasi, menjadi tempat hidup berbagai jenis biota, menjaga kualitas ekosistem pesisir, serta berperan dalam menyerap karbon dan menghadapi dampak perubahan iklim,” katanya.

Menurutnya, 10.000 bibit yang ditanam hari ini harus dilihat sebagai investasi jangka panjang.

“Kegiatan yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menanam 10.000 bibit mangrove. Kita sedang menanam perlindungan bagi pesisir Gresik, menanam kepedulian terhadap lingkungan, dan menanam harapan untuk generasi yang akan datang,” ujarnya.

Namun, tantangan terbesar justru dimulai setelah kegiatan penanaman selesai. Bibit yang ditanam harus bertahan, tumbuh, dan membentuk kawasan mangrove yang berfungsi secara ekologis.

Karena itu, Yani meminta Pemerintah Desa Randuboto bersama masyarakat dan kelompok pengawas tidak berhenti pada penanaman. Pemeliharaan dan pengawasan dinilai menjadi bagian penting agar bibit yang telah ditanam tidak sekadar menjadi angka dalam sebuah program.

“Yang lebih penting adalah bagaimana setelah ditanam, mangrove ini kita rawat dan kita jaga bersama,” tegasnya.

Randuboto sendiri memiliki modal ekologis yang tidak sedikit. Kepala Desa (Kades) Randuboto Andhi Sulandra mengatakan, desanya telah menjaga kawasan mangrove seluas sekitar 200 hektare secara utuh sejak 2013.

Artinya, upaya menjaga pesisir di Randuboto bukan pekerjaan yang baru dimulai hari ini. Lebih dari satu dekade, warga telah mempertahankan kawasan mangrove tersebut.

Bagi masyarakat pesisir, keberadaan mangrove bukan hanya perkara penghijauan, tetapi bagian dari sistem perlindungan pantai sekaligus ekosistem yang menopang kehidupan biota laut.

“Desa Randuboto mempunyai kawasan mangrove seluas 200 hektare, dan ini sudah kita jaga utuh mulai dari tahun 2013,” ungkap Andhi.

Kawasan yang terjaga itu juga membuka peluang lain. Jika dikelola secara konsisten, mangrove dapat dikembangkan menjadi ruang edukasi lingkungan, kawasan konservasi hingga ekowisata berbasis masyarakat.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Smelting Darma Djojonegoro menuturkan, penanaman 10.000 mangrove di Randuboto tidak ditempatkan semata sebagai program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Menurut dia, mangrove merupakan investasi lingkungan untuk jangka panjang. Selain menjadi benteng alami menghadapi gelombang laut, kawasan tersebut diharapkan berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui ekowisata.

Program ini juga menjadi bagian dari komitmen PT Smelting terhadap keberlanjutan lingkungan di Gresik. Perusahaan yang tahun ini memasuki usia 30 tahun tersebut menyebut pertumbuhan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan Pemkab Gresik dan masyarakat.

Darma menilai keberhasilan konservasi mangrove tidak mungkin dibebankan kepada satu pihak.

“Mangrove mempunyai peran penting dalam menjaga lingkungan dan masyarakat sesuai tagline ‘Menjaga Mangrove Mengamankan Generasi Mendatang’. Keberhasilan ini tidak dapat dicapai sendiri tanpa kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Gresik,” tuturnya.

Di Randuboto, pekerjaan sebenarnya baru dimulai ketika seremoni penanaman berakhir. Sepuluh ribu bibit membutuhkan waktu untuk tumbuh menjadi benteng hijau. Kawasan 200 hektare yang selama ini dijaga warga juga membutuhkan pengawasan agar tetap bertahan menghadapi tekanan lingkungan dan perubahan zaman.

Jika konsisten dirawat, hutan mangrove Randuboto bukan hanya akan menjadi pagar alami bagi garis pantai Sidayu. Kawasan itu berpeluang menjadi ruang belajar bagi generasi muda, habitat bagi biota pesisir, sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat. [dny/beq]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
120 Siswa Baru SMA Sukma Bangsa Pidie Bangun Kekompakan Lewat Outbound
• 13 jam lalu
0
thumb
Mukanya Bikin Pangling, Ternyata Segini Usia Titi DJ Sekarang
• 21 jam lalu
0
thumb
Pihak Sekolah Swasta Jaksel Minta Buktikan Klaim 996 Senjata untuk Kegiatan Ekskul
• 1 jam lalu
0
thumb
Baru Selesai Jalani Operasi, Yaqut Ajukan Status Tahanan Rumah
• 1 jam lalu
0
thumb
Identitas Siswi SMA Tewas Tertemper KRL di Stasiun Jurangmangu, Detik-Detik Kronologi Diungkap
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.