Beberapa bulan terakhir, peternak ayam di Sulawesi Selatan resah dengan kondisi usahanya. Harga pakan melambung tinggi. Kemarau bikin air sulit didapat. Pemodal besar pun kian agresif jadi pesaing peternak gurem. Semua terjadi saat harga ayam dan telurnya justru anjlok.
Kegelisahan H Tahir, peternak ayam asal Camba, Maros, akhirnya tumpah saat berada di ruang kerja Bagian Kesatuan Bangsa, Kantor Pemprov Sulawesi Selatan, Senin (10/8/2026). Dia menjadi satu dari perwakilan peternak dari berbagai daerah yang berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulsel.
“Saya pernah membawa telur dari Camba ke Turikalle, ibu kota Maros, jaraknya 50 kilometer, tidak laku. Lalu, saya bawa lagi ke Makassar, hanya sedikit yang beli. Saya lanjut lagi sampai ke Kabupaten Gowa hanya untuk menghabiskan telur yang saya bawa. Rasanya, saya tidak pernah sampai seperti ini hanya sekadar untuk menjual telur,” katanya.
Peternakan Tahir berada di Camba, perbatasan Kabupaten Bone dan Maros. Selama ini pedagang yang datang mengambil telur ke peternakan miliknya. Kalaupun dia menjual sendiri ke Makassar, tak butuh lama, kendaraan pick up berisi telur yang dia bawa, akan habis.
“Saya merugi sampai 5.000 butir telur. Tidak tahu lagi saya mau jual kemana. Padahal harganya sudah murah. Dijual pun tidak untung, hanya butuh setidaknya untuk kembalikan sebagian modal,” katanya.
Di Makassar, rata-rata harga telur per rak adalah Rp 46.000 untuk ukuran besar. Padahal beberapa bulan lalu, harganya mencapai hingga Rp 60.000 per rak yang berukuran besar.
Sementara yang berukuran sedang umumnya dijual hingga Rp 55.000 per rak. Paling murah telur berukuran kecil harganya Rp 47.000 per rak. Dibanding dua bulan terakhir telur berukuran besar kini seharga telur berukuran kecil
Celakanya, jatuhnya harga telur ini terjadi justru saat harga pakan sedang naik. Tak hanya itu, sebagian bahan pakan kini bahkan langka. Peternak juga menghadapi puncak kemarau yang akan membuat pasokan jagung dari petani kian berkurang.
Lain lagi unek-unek Patahuddin, peternak asal Kecamatan Citta, Kabupaten Sidrap. Di Sulsel, Sidrap adalah sentra peternakan ayam. Sebagian warga mengandalkan ternak ayam sebagai sumber penghidupan.
“Setiap pekan kami dan pemerintah daerah bersepakat menentukan harga jual. Namun kesepakatan ini tidak berjalan karena ulah pedagang besar yang menekan harga. Di peternak harga jual bisa sampai Rp 3.000 di bawah harga pokok pembelian,” katanya.
Dia juga mengungkap banyaknya peternak yang merugi akibat janji menjadi pemasok program makanan bergizii gratis (MBG). Saat program ini mulai jalan, peternak diberitahu bahwa kebutuhan telur dan ayam akan melonjak. Faktanya tidak seperti itu. Banyak produksi ayam maupun telur yang tidak terserap.
“Padahal banyak peternak yang menambah produksi, menambah kandang karena tergiur janji MBG, dan semua tentu berdampak penambahan modal. Ternyata faktanya berbeda. Sekarang banyak peternak yang menggadaikan lokasi, bahkan menjual kandang,” katanya.
Kompleksitas dan akumulasi persoalan di sektor peternakan membuat peternak turun ke jalan, Senin. Dalam aksinya, selain berorasi, mereka juga membagi-bagikan ayam dan telur kepada warga dan melintas di lokasi aksi. Ini juga adalah bentuk protes mereka.
“Tak mudah bagi kami untuk turun ke jalan dan melakukan aksi seperti ini. Jika sekarang semua peternak turun, itu karena kondisi di sentra-sentra peternakan memang tak baik-baik saja. Kami sudah cukup kesulitan karena harga pakan naik sementara harga telur dan ayam begitu-begitu saja,” kata Tahir.
Dalam pertemuan dengan perwakilan pemerintah Sulsel, mereka menyebut berbagai persoalan di lapangan yang membuat peternak didera kesulitan.
Soal kenaikan harga pakan, misalnya, harga konsentrat yang sebelumnya Rp 7.500 per kilogram, kini naik hingga Rp 9.500 per kilogram. Sementara campuran lain seperti tepung kedelai naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 9.500.
“Harga jagung yang ditetapkan pemerintah 6.500 di tingkat petani, kini juga sudah di atas 7.000 per kilogram. Ini belum di puncak kemarau. Perkiraan kami harganya di akhir tahun hingga awal tahun depan bisa mendekati 10.000 per kilo,” kata Basuki Suyuti, peternak yang mewakili peternak dari Kabupaten Gowa dan Maros.
Dia menyebut kenaikan ini terjadi sejak bulan Mei. Rata-rata kenaikan per item bahan campuran pakan antara Rp 1.000-Rp 2.000 per kilogram.
Sementara harga telur ayam tak banyak berubah, rata-rata di pasaran Rp 40.000- Rp 45.000 per rak. Ini adalah harga pembelian di tingkat konsumen. Dengan harga seperti ini, peternak merugi hingga Rp 3.000 per rak.
Persoalan lain adalah monopoli impor bahan pakan ternak termasuk kedelai oleh perusahaan yang ditunjuk pemerintah. Selain itu pembagian kuota impor. Peternak menyebut sistem ini tak hanya membuat mata rantai pasar bahan baku jadi panjang tapi juga berdampak pada kenaikan harga pakan. Di beberapa daerah, pakan juga langka.
Bahrul, peternak asal Kabupaten Sidrap mengatakan, pengaturan monopoli dan kuota impor oleh pemerintah memang melindungi petani di satu sisi. Namun di sisi lain membuat peternak kesulitan bahan baku terlebih saat kemarau dan produksi jagung bisa anjlok.
“Sebaiknya dikembalikan seperti sebelumnya yakni tidak ada monopoli. Impor juga bisa dibuka tutup sesuai kebutuhan. jika jagung produksi petani banyak, kami bisa beli di petani. Tapi jika produksi anjlok atau harga tidak kompetitif, bisa diimpor. Hal ini agar ada kestabilan harga pakan dan juga telur dan ayam. Selain itu petani dan peternak bisa sama-sama jalan dan bertahan,” katanya.
Persoalan lain yang tak pelik adalah keberadaan integrator yang ikut bersaing dengan peternak kecil. Integrator ini menguasai mata rantai produksi dari hulu ke hilir. Hal ini dinilai merugikan peternak dan ikut andil menyebabkan kelangkaan dan kenaikan bahan produksi termasuk DOC (day old ckick).
“Bisa nanti dicek, beberapa integrator yang sudah masuk dengan ekspansi besar-besaran. Mereka memproduksi DOC, mereka produksi pamannya, mereka juga beternak. Lalu mereka bersaing dengan peternak-peternak kecil. Mereka bisa melakukan lebih dari yang kami peternak kecil bisa lakukan,” kata Basuki.
Oleh karena itu, dia meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada peternak kecil. “Tolong ditinjau kembali implementasi Permentan Nomor 32 Tahun 2017 yang memberikan perlindungan kepada peternak kecil. Jangan sampai korporasi besar yang mendominasi usaha peternakan” tambahnya.
Di Sulsel, sentra peternakan berada di Sidrap. Sementara daerah lain seperti Bone, Maros, dan lainnya menjadi penyangga. Produksi telur maupun ayam pedagang di Sulsel diperdagangkan melintas pulau terutama di wilayah Indonesia Timur.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sulsel, pada tahun 2025, produksi telur unggas ayam petelur mencapai 249.111.898,61 kg. Adapun produksi telur unggas ayam buras 7.756.669,94 kg. Sementara populasi ayam ras petelur adalah 16.813.325 ekor.
Untuk produksi daging unggas ayam pedaging jumlahnya 120.510.202,57 kg. Daging unggas ayam petelur, 4.105.813,97 kg. Adapun produksi daging unggas ayam buras mencapai 1.844.830 kg. Populasi ayam ras pedagang mencapai 15.813.325 ekor.
Kepala Bidang Humas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, Rusdianto mengakui bahwa memang saat ini terjadi kondisi di mana harga pakan naik sementara harga telur tetap bahkan cenderung turun. Soal kebijakan impor, hal ini juga sudah lama meresahkan peternak.
“Beberapa kebutuhan pakan itu memang sumbernya dari impor, seperti bungkil kedelai, kemudian jagung dan dedak. Itu sebenarnya yang siap produksi di lokal kita ada, namun memang perlu ada pengaturan lain. Kami juga mengantisipasi dua bulan ke depan ini kemarauan panjang,” katanya.
Terkait soal integrator, dia mengatakan pihak Dinas Peternakan sudah meminta melakukan deteksi siapa saja integrator yang bermain dalam sektor komersil.
“Integrator sebenarnya mainnya hanya di pakan, tapi dia sudah juga menjadi peternak. Jadi kami berharap ada data tidak hanya mengada-ada. Kami akan mendeteksi siapa-siapa integrator yang bermain di situ,” katanya.






Komentar (0)