REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Baru-baru ini viral video yang memperlihatkan seorang remaja putri di Kalimantan Barat menendang ibunya sendiri. Menurut keterangan dalam video yang beredar, tindakan tersebut diduga dipicu oleh ketidakpuasan sang remaja terhadap hasil foto yang diambil ibunya.
Menanggapi hal ini, psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan remaja memang cenderung memiliki emosi yang intens. Sementara itu, kemampuan mereka dalam mengendalikan impuls atau dorongan untuk langsung bereaksi terhadap suatu situasi, masih berkembang.
Baca Juga
Benarkah Sering Bergadang Bikin Remaja Jadi Pendek?
Satu dari Tiga Remaja di Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Aktor Jared Leto Dituduh Melecehkan 10 Wanita dan Remaja
Menurut Vera, di masa remaja persoalan yang terlihat sederhana juga sering kali menjadi trigger dari emosi sebelumnya yang telah menumpuk. Emosi tersebut dapat berkaitan dengan kelelahan, stres, kekecewaan, atau perasaan bahwa keinginan anak tidak dipahami.
"Hal yang terlihat kecil sebenarnya sering kali jadi pemicu atau trigger dari emosi yang sudah menumpuk. Di masa remaja, emosi juga cenderung lebih intens, sementara kemampuan mengendalikan impuls masih terus berkembang. Namun dari video yang beredar, kita jangan buru-buru menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi sebelum jelas duduk perkaranya," kata Vera saat dihubungi Republika, Selasa (11/8/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Vera mengatakan, kemarahan pada remaja masih dapat dianggap wajar apabila diekspresikan melalui cara-cara yang tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Misalnya, remaja mengeluh, menangis, berbicara dengan nada tinggi atau memilih masuk kamar untuk menenangkan diri.
Namun, ketika kemarahan sudah berupa menendang, memukul, mengancam orang lain dan bahkan menyakiti diri sendiri, atau juga merusak barang, itu bukan lagi reaksi yang dapat dimaklumi sebagai bagian dari perkembangan remaja. "Emosinya boleh diterima, tapi perilaku kekerasannya tetap harus dihentikan dan anak dibantu untuk mengekspresikan emosi dalam cara yang lebih tepat," ujar Vera.
Vera juga menyoroti pengaruh budaya visual di media sosial terhadap kehidupan remaja saat ini. Menurut dia, bagi sebagian remaja, foto yang diunggah ke media sosial bukan lagi sekadar foto. Foto dapat menjadi bagian dari identitas sekaligus cara mereka ingin dilihat oleh orang lain.
Ketika harga diri terlalu bergantung pada penampilan, jumlah likes, komentar orang lain, atau bagaimana dirinya terlihat dalam sebuah foto, hasil foto yang dianggap tidak sesuai harapan dapat terasa seperti ancaman terhadap citra diri. "Bagi sebagian remaja, foto di media sosial sudah menjadi bagian dari identitas dan tentang bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain. Ketika harga diri terlalu bergantung pada penampilan, jumlah likes, komentar, hasil foto yang dianggap tidak sesuai harapan dapat terasa seperti ancaman terhadap citra dirinya," kata Vera.
Komentar (0)