JAKARTA,KOMPAS--Insiden penumpang tertemper kereta api terus saja berulang. Kejadian ini seharusnya menjadi momentum bagi Kereta Api Indonesia untuk berbenah. Pembuatan pagar di sepanjang peron dinilai krusial untuk mencegah adanya penumpang yang jatuh ke lintasan kereta api.
Pada Senin (10/9/2026), seorang siswi berinisial AP (14) ditemukan meninggal dunia di lintasan kereta api Stasiun Jurangmangu. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.43 WIB. Kapolsek Ciputat Timur Komisaris Bambang Askar Sodiq dan jajaran kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan dan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP).
Berdasarkan keterangan awal saksi, korban terlihat berada di peron saat kereta api dari arah Tanah Abang memasuki area Stasiun Jurangmangu. "Petugas keamanan yang berada di sekitar lokasi kemudian melihat korban terjatuh ke jalur kereta," ujarnya, Selasa (11/8/2026).
Petugas stasiun selanjutnya melakukan evakuasi terhadap korban dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.Salah seorang saksi yang merupakan teman sekolah korban juga telah dimintai keterangan.
Sebelumnya, saksi bersama korban diketahui pulang sekolah dan menuju Stasiun Jurangmangu. Saat berada di stasiun, keduanya kemudian berpisah untuk menunggu kereta di lokasi yang berbeda.
Dari hasil pemeriksaan awal di TKP, korban ditemukan dalam kondisi mengalami luka pada bagian kepala. Namun demikian, penyebab pasti kematian korban masih diselidiki.
Polisi telah melakukan pemeriksaan TKP, mendata dan meminta keterangan para saksi, melakukan pemeriksaan terhadap kondisi korban, serta mengamankan sejumlah barang milik korban untuk kepentingan penyelidikan.
Jenazah korban selanjutnya dievakuasi ke RSUD Tangerang Selatan untuk dilakukan pemeriksaan medis/visum. Pihak kepolisian juga telah menghubungi keluarga korban dan berkoordinasi dengan pihak terkait dalam penanganan kejadian tersebut.
Bambang menuturkan Polsek Ciputat Timur masih menyelidiki peristiwa itu untuk memastikan rangkaian peristiwa dan penyebab meninggalnya korban. "Saat ini, jenazah korban sudah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Marabunta, Pondok Ranji. Kami turut berdukacita atas kejadian ini," ujar Bambang.
Sebelumnya, Manager Public Relation KAI Commuter Leza Arlan mengatakan, korban diduga melakukan bunuh diri dengan cara melompat ke rel kereta saat sebuah kereta hendak berhenti.
"Kami menyampaikan keprihatinan atas peristiwa ini. Petugas KAI Commuter Bersama pihak terkait telah melakukan penanganan sesuai prosedur," ujar Leza.
Akibat insiden ini, ungkap Leza, berimbas pada keterlambatan perjalanan KRL relasi Tanah Abang-Rangkasbitung antara 14 menit sampai 25 menit.
Leza mengimbau seluruh penumpang untuk memprioritaskan keselamatan selama berada di area stasiun dan senantiasa mematuhi arahan dari petugas lapangan. Dia juga mengajak agar masyarakat lebih peduli serta memberikan dukungan psikologis kepada orang-orang di sekitarnya.
Insiden ini menambah panjang daftar penumpang yang harus kehilangan nyawa akibat terjatuh di lintasan kereta api. Pada Kamis (2/7/2026), seorang pria berusia 67 tahun tewas setelah terjatuh di lintasan kereta api juga di stasiun Jurangmangu. Dugaan awal, juga korban melakukan bunuh diri.
Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menuturkan terus berulangnya penumpang KRL yang jatuh di lintasan kereta seharusnya menjadi momentum KAI untuk berbenah. "Sudah saatnya ada pagar pengaman di peron agar kejadian seperti ini (penumpang jatuh di rel) dapat dicegah," katanya.
Pagar pengaman yang dimaksud seperti yang terpasang di fasilitas MRT atau LRT Jabodebek. Dengan ketinggian sekitar 1 meter sampai 1,5 meter risiko warga terjatuh ke lintasan dapat diminimalisasi," ujarnya.
Djoko melihat risiko penumpang jatuh ke lintasan sangatlah tinggi apalagi situasi peron akan sangat padat di jam-jam sibuk.
Di jalur green line (relasi Tanah Abang-Rangkasbitung), jumlah penumpang harian terus melonjak pesat. Pada 2021, jumlah pengguna harian Green Line tercatat sebanyak 115.372 orang per hari. Angka tersebut naik 3 persen menjadi 118.679 pengguna per hari pada 2022.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada 2023, yakni melonjak 43 persen menjadi 170.097 pengguna per hari. Tren ini berlanjut pada 2024 dengan 191.779 pengguna per hari (naik 13 persen), dan kembali meningkat pada 2025 menjadi 212.473 pengguna per hari (naik 11 persen).
Secara tahunan, jumlah pengguna juga terus bertambah. Pada 2021 tercatat 42,11 juta pengguna, naik menjadi 43,31 juta pada 2022, kemudian 62,08 juta pada 2023. Tahun 2024 meningkat menjadi 69,99 juta dan pada 2025 mencapai 77,55 juta pengguna.
Hanya saja, ujar Djoko, memang ada masalah yang masih mendera yakni spesifikai kereta yang berbeda membuat pemasangan pagar pengaman di stasiun KRL sulit untuk dilakukan. Seperti diketahui saat ini, KRL menggunakan beberapa kereta. Mulai dari kereta bekas dari Jepang hingga kereta buatan INKA dan buatan China.
"Sudah saatnya kereta KRL dibuat seragam agar pagar pengaman dapat terpasang," ujarnya.
Langkah ini penting agar kejadian penumpang terjatuh akibat terdorong atau ada niat bunuh diri dapat dicegah. "Kalau pagar terpasang, andai memang niat (penumpang) untuk bunuh diri, tentu ada waktu bagi orang sekitar atau petugas untuk mencegahnya," ujarnya.
Menurutnya, pengamanan seperti ini sudah menjadi standar di setiap negara salah satunya di Singapura. "Sudah saatnya pagar pengaman dipasang karena keselamatan penumpang adalah yang utama," ujar Djoko.






Komentar (0)