Kisah Perjuangan di Balik Nama Jalan Andi Djemma Makassar

celebesmedia.id
3 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Setiap hari, Jalan Andi Djemma menjadi salah satu ruas yang dilalui masyarakat Kota Makassar. Namanya mungkin terdengar biasa bagi sebagian pengguna jalan. Namun, nama tersebut menyimpan kisah seorang tokoh dari Tana Luwu yang memilih berdiri bersama Republik Indonesia pada masa mempertahankan kemerdekaan.

Andi Djemma lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, pada 15 Januari 1901. Ia merupakan bangsawan Luwu yang kemudian menjadi Datu Luwu.

Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar mencatat, sejak muda Andi Djemma tidak hanya mendapat pendidikan formal, tetapi juga banyak belajar mengenai adat dan kehidupan kerajaan dari lingkungan istana.

Jalan perjuangannya mulai terlihat ketika ia terlibat dalam pemerintahan lokal. Pada 1919, Andi Djemma menjadi Sulewatang atau kepala distrik di Ngapa.

Ia kemudian dipindahkan ke Ware dan menjalankan jabatan tersebut hingga 1931. Dalam periode yang sama, ia juga dipercaya sebagai wakil Datu Luwu.

Momentum penting terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ketika mendengar kabar kemerdekaan pada 19 Agustus 1945, Andi Djemma segera memerintahkan agar berita tersebut disebarluaskan kepada masyarakat Luwu.

Ia juga mengutus sejumlah pemuda ke Makassar untuk mencari informasi mengenai perkembangan Republik Indonesia dan berkomunikasi dengan Gubernur Sulawesi, Dr. Sam Ratulangi. Tidak lama kemudian, gerakan yang dipimpinnya mulai mengambil langkah lebih tegas.

Pada 2 September 1945, kelompok Soekarno Muda, organisasi yang didirikan Andi Djemma, bergerak merebut senjata Jepang di Palopo. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kemerdekaan di Luwu setelah Jepang menyerah.

Perjuangan Andi Djemma kemudian semakin kuat ketika pasukan Sekutu dan NICA datang ke Sulawesi Selatan.

Pada Oktober 1945, ia memprakarsai pertemuan para raja Sulawesi Selatan. Dalam pertemuan tersebut, para raja menyatakan dukungan terhadap pemerintah Republik Indonesia.

Sepulang dari pertemuan itu, Andi Djemma menyatakan Luwu sebagai bagian dari Republik Indonesia dan menolak kerja sama dengan Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Sikap tersebut menempatkannya berhadapan langsung dengan upaya Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia.

Perlawanan tersebut memiliki konsekuensi. Pada 3 Juli 1946, Andi Djemma ditangkap Belanda dan kemudian diasingkan ke Ternate. Penangkapan itu berkaitan dengan sikap kerasnya terhadap pasukan Sekutu yang berada di Palopo.

Meski berada dalam pengasingan, nama Andi Djemma tetap melekat dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Tana Luwu. Ia meninggal pada 23 Februari 1965.

Pemerintah kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Andi Djemma melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 073/TK/2002 pada 6 November 2002. Catatan tersebut tercantum dalam Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar.

Pengabadian nama Andi Djemma menjadi nama jalan membuat kisah perjuangannya tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Makassar.

Pemerintah Kota Makassar masih mencatat dan menggunakan Jalan Andi Djemma dalam berbagai kegiatan pemerintahan, termasuk kegiatan kebersihan lingkungan di ruas jalan tersebut pada 2024.

Penamaan jalan dengan nama tokoh perjuangan bukan sekadar penunjuk lokasi. Pemkot Makassar sebelumnya menjelaskan bahwa nama-nama jalan yang diambil dari tokoh perjuangan merupakan bentuk penghargaan sekaligus pengingat sejarah bagi masyarakat.

Kisah Andi Djemma akhirnya tidak hanya tersimpan dalam buku sejarah. Namanya hidup di tengah aktivitas Kota Makassar, terpampang di papan jalan dan disebut setiap hari oleh masyarakat yang melintas.

Dari seorang Datu Luwu yang memilih berdiri bersama Republik hingga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, perjalanan Andi Djemma memperlihatkan bagaimana sebuah nama jalan dapat menjadi pengingat sederhana tentang perjuangan yang pernah berlangsung jauh sebelum jalan itu dipenuhi kendaraan dan aktivitas perkotaan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BMKG Deteksi 54 Titik Panas Tersebar di Sumatra Utara
• 15 jam lalu
0
thumb
Karhutla di Banjarbaru, Petugas dan Relawan Padamkan Kebakaran Hutan | SAPA SIANG
• 22 jam lalu
0
thumb
Pramono Siapkan Aset Jakarta Rp 126,9 T untuk Creative Financing
• 4 detik lalu
0
thumb
Kubu Gus Yaqut Pertanyakan Proses Penyidikan Saksi Kunci Kasus Kuota Haji
• 12 jam lalu
0
thumb
Jalan Rawa Jadi Akses Tunggal Penghubung Desa Renah Kasah Kerinci
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.