Tangan kecil membuka pintu bahasa

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Surabaya (ANTARA) - Ada jarak yang tidak selalu terlihat di ruang kelas, loket pelayanan, rumah sakit, terminal, hingga ruang publik. Jarak itu bukan soal kilometer, melainkan soal komunikasi. Seseorang berbicara, seorang lainnya menggunakan bahasa isyarat, tetapi keduanya tidak selalu memiliki bahasa yang sama untuk saling memahami.

Di tengah persoalan tersebut, lima siswa SDN Tenggilis Mejoyo I Kota Surabaya, Jawa Timur, justru datang membawa pendekatan yang tidak biasa. Mereka tidak menunggu dewasa untuk membuat teknologi.

Dengan kemampuan yang masih berada pada tahap belajar, mereka mengembangkan sign language translator, aplikasi pembelajaran bahasa isyarat berbasis kecerdasan buatan atau (AI).

Tim Nebula One yang terdiri atas Arjun, Shaka, Aghna, Siraj, dan Shauqi, siswa kelas V dan VI, ini mengembangkan aplikasi tersebut selama sekitar tiga hingga lima bulan. Mereka memanfaatkan platform Pictoblocks dan pembelajaran mesin untuk mengenali gerakan tangan. Karya tersebut kemudian meraih Juara I kategori Young Innovators dalam Impact Fest 2026.

Hal yang menarik bukan semata-mata teknologi yang mereka gunakan. Nilai pentingnya justru terletak pada cara anak-anak itu melihat persoalan sosial.

Mereka menemukan bahwa bahasa isyarat bukan sekadar kumpulan gerakan tangan yang perlu diterjemahkan mesin. Bahasa isyarat adalah jembatan komunikasi bagi warga tuli dan bagian dari identitas kebahasaan komunitas. Karena itu, teknologi seharusnya hadir untuk memperluas kemampuan manusia berkomunikasi, bukan menggantikan manusia yang selama ini menjadi penghubung.

Persoalan tersebut relevan dengan agenda pendidikan inklusif. Pemerintah Kota Surabaya telah memiliki Peraturan Wali Kota Nomor 52 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Regulasi itu mengatur penguatan sumber daya manusia, kurikulum adaptif, sarana dan prasarana, kemitraan, serta pendampingan satuan pendidikan.

Artinya, inovasi anak-anak SDN Tenggilis Mejoyo I muncul dalam ekosistem kebijakan yang sebenarnya sudah memiliki fondasi. Tantangannya adalah bagaimana fondasi tersebut diterjemahkan menjadi praktik yang terus berkembang.

Data di Satu Data Surabaya juga menunjukkan bahwa pemerintah kota memantau jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dan siswa yang mengikuti pendidikan inklusi secara berkala. Dataset tersebut diperbarui hingga Juni 2026.

Di sinilah aplikasi karya siswa menjadi lebih dari sekadar proyek perlombaan. Ia dapat dibaca sebagai cermin bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya berbicara tentang penerimaan siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Pendidikan inklusif juga membutuhkan lingkungan yang membuat semua anak mampu saling memahami.


Teknologi inklusif

Ada ironi kecil dalam perkembangan teknologi pendidikan. Di satu sisi, kecerdasan buatan berkembang sangat cepat. Di sisi lain, persoalan paling dasar manusia, yakni berkomunikasi dengan sesama, masih dapat terhambat oleh keterbatasan pengetahuan.

Karena itu, keberanian siswa SD membuat aplikasi penerjemah bahasa isyarat layak diapresiasi. Mereka tidak memulai dari pertanyaan tentang teknologi apa yang sedang populer, tetapi dari persoalan siapa yang selama ini kesulitan dilayani.

Pendekatan semacam itu penting dalam pendidikan. Anak tidak hanya diajarkan menggunakan teknologi, tetapi juga diajak memahami mengapa teknologi diperlukan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada April 2026 menyebut masih terdapat tantangan dalam pendidikan inklusif di Indonesia, antara lain stigma terhadap anak berkebutuhan khusus, keterbatasan akses layanan, dan belum meratanya guru dengan kompetensi khusus. Pada 2026, kementerian menargetkan 1.500 guru mengikuti pelatihan pendidikan inklusif tingkat mahir.

Pada Juli 2026, pemerintah juga menegaskan tiga arah penguatan pendidikan anak berkebutuhan khusus, yakni revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru.

Dua kebijakan tersebut memperlihatkan satu hal penting. Teknologi tidak dapat berdiri sendiri. Perangkat digital yang canggih tanpa guru yang memahami kebutuhan siswa hanya akan menjadi benda di dalam kelas. Sebaliknya, guru yang kompeten tanpa dukungan teknologi juga menghadapi keterbatasan ketika harus menjangkau kebutuhan pembelajaran yang semakin beragam. Inovasi Nebula One berada di titik temu keduanya.

Di sinilah sikap kritis diperlukan. Aplikasi tersebut masih berupa prototipe. Kesalahan penerjemahan gerakan atau translation error masih menjadi bagian dari proses pengembangan. Para siswa mengatasinya melalui debugging dan penyempurnaan program.

Kondisi itu wajar. Bahkan, justru menjadi bagian paling berharga dari proses belajar. Akan tetapi, aplikasi penerjemah bahasa isyarat tidak boleh diperlakukan seperti permainan digital biasa. Akurasi menjadi persoalan penting karena kesalahan terjemahan dapat mengubah maksud komunikasi.

Lebih jauh lagi, bahasa isyarat tidak selalu dapat dipahami sebagai padanan satu gerakan dengan satu kata. Konteks, ekspresi wajah, posisi tubuh, urutan gerakan, dan variasi bahasa dapat memengaruhi makna.

Indonesia sendiri mengenal beragam bahasa isyarat. Dalam dokumen kepada Komite PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas, pemerintah Indonesia menjelaskan bahwa negara belum menetapkan satu bahasa isyarat nasional dan mengakui perkembangan berbagai bahasa isyarat yang digunakan komunitas, termasuk BISINDO dan SIBI.

Karena itu, pengembangan aplikasi semacam ini membutuhkan keterlibatan komunitas tuli, guru pendidikan khusus, ahli bahasa, pengembang teknologi, dan pemerintah. Anak-anak dapat menjadi pemantik inovasi, tetapi pengembangan produk untuk publik membutuhkan proses validasi yang lebih panjang.

Di sinilah letak perbedaan antara memenangkan lomba dan menghasilkan manfaat sosial.


Dari prototipe publik

Pertanyaan terpenting setelah inovasi anak memperoleh penghargaan bukanlah siapa yang menang, melainkan apa yang terjadi setelah panggung perlombaan selesai.

Sign language translator menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar mampu melihat persoalan sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan teknologi. Tantangan berikutnya memastikan gagasan itu tidak berhenti sebagai prototipe di komputer sekolah.

Pemerintah Kota Surabaya memiliki peluang menjadikan karya semacam ini sebagai bagian dari laboratorium inovasi pendidikan. Sekolah dapat menjadi ruang uji coba, sedangkan Dinas Pendidikan mempertemukan siswa dan guru dengan perguruan tinggi, komunitas tuli, ahli bahasa isyarat, serta industri teknologi.

Pengujian bersama pengguna tuli menjadi langkah awal untuk memastikan aplikasi tidak hanya mampu mengenali gerakan tangan, tetapi juga menghasilkan terjemahan yang membantu komunikasi. Pengembangan juga perlu ditopang bank data yang etis dan representatif dengan memperhatikan persetujuan, privasi, serta keberagaman pengguna.

Fungsi aplikasi dapat dimulai sebagai media belajar bahasa isyarat. Setelah akurasi dan validasi memadai, pengembangannya dapat diarahkan pada fitur isyarat ke teks, teks ke isyarat, dan suara ke isyarat.

Namun, teknologi tidak boleh menggantikan kebutuhan masyarakat untuk belajar bahasa isyarat secara langsung. Bahasa isyarat berkaitan dengan pendidikan inklusif, pelayanan publik, kesehatan, transportasi, pekerjaan, keselamatan, dan partisipasi sosial.

Karena itu, keberhasilan lima siswa Surabaya semestinya menjadi sinyal bahwa inovasi pendidikan dapat tumbuh dari persoalan sehari-hari. Anak membutuhkan masalah nyata, guru yang memberi ruang, serta ekosistem yang berani menguji gagasan.

Inovasi akan benar-benar berarti ketika tidak berhenti sebagai piala di lemari sekolah, tetapi tumbuh menjadi jembatan yang membuat semakin banyak orang saling memahami.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kuasa Hukum Febrie Adriansyah Sebut Temukan Fakta Baru, Singgung Penyidikan TPPU dan Pidana Asal
• 13 jam lalu
0
thumb
Pelaku Pemotongan Kabel Persinyalan Kereta di Bekasi Ditangkap!
• 19 jam lalu
0
thumb
Isu Demo Besar Agustus Makin Panas, Istana: Semua Dipersiapkan Sebaik-baiknya
• 15 jam lalu
0
thumb
Yanti Tewas Ditembak Mantan Suami di Mesuji, Polisi Buru Pelaku
• 18 jam lalu
0
thumb
KPK Duga Kerugian Negara terkait Pengadaan Iklan BJB Capai Rp223 Miliar
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.