Wall Street Tertekan, Nasdaq & S&P 500 Turun saat Investor Khawatir Selat Hormuz

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Wall Street ditutup melemah pada Senin (10/8), dengan indeks Nasdaq dan S&P 500 tertekan oleh penurunan saham Intel dan sejumlah produsen chip.

Mengutip Reuters, Selasa (11/8), investor semakin pesimistis terhadap tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan AS dan Iran.

Pada perdagangan kemarin, S&P 500 turun 0,06 persen menjadi 7.753,12 poin. Nasdaq Composite turun 0,32 persen menjadi 26.605,36 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,11 persen menjadi 53.976,04 poin.

Ketidakpastian terkait penyelesaian perang Iran dan Amerika Serikat (AS) mendorong harga minyak mentah AS melonjak sekitar 5 persen hingga ditutup di level USD 82,13 per barel. Kenaikan harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi dan risiko suku bunga tetap tinggi.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuntut Iran memberikan kompensasi atas orang-orang yang menurutnya tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes.

Iran merespons dengan meminta Washington memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk memberikan kompensasi atas kerusakan yang terjadi sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran lebih dari lima bulan lalu.

“Jelas belum ada kepastian mengenai jalur untuk kembali ke kondisi sebelum konflik dimulai, sehingga premi risiko terus terbentuk. Sejauh ini dunia masih mampu mengatasinya, tetapi solusi sementara itu tidak akan bertahan selamanya,” ujar Tom Hainlin, investment strategist di U.S. Bank Wealth Management.

Saham Intel jadi salah satu pemberat utama pasar setelah perusahaan chip mengumumkan rencana menghimpun USD 15 miliar melalui penjualan saham. Saham Intel langsung turun 4,1 persen.

Saham Nvidia juga melemah 2,9 persen. Di tengah tekanan, Reuters melaporkan sejumlah perusahaan keuangan, termasuk Apollo Global dan Blackstone, tengah bekerja sama dengan Nvidia untuk menyiapkan paket pendanaan senilai USD 500 miliar guna mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

“Ini adalah margin dan laba yang berada di rekor tertinggi. Itulah cerita pasar ini, tetapi konflik Iran membuat sentimen risiko naik-turun,” kata Hainlin.

Pasar Masih Menunggu Arah The Fed

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat menunjukkan perusahaan-perusahaan AS secara tak terduga mengurangi 23.000 pekerja pada Juli. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September sebesar 52 persen.

Di sisi lain, musim laporan keuangan masih berlangsung. Sekitar 85 persen dari 436 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja sejauh ini berhasil membukukan laba di atas ekspektasi, berdasarkan data LSEG.

Di New York Stock Exchange (NYSE), saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,39 banding 1. Sebanyak 297 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 149 saham mencatat level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 1.928 saham naik dan 2.841 saham turun, dengan rasio saham turun terhadap saham naik sebesar 1,47 banding 1. S&P 500 mencatat 20 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu level terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite membukukan 107 level tertinggi baru dan 74 level terendah baru.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
X-Men Mulai Terintegrasi ke MCU, Avengers: Doomsday Jadi Titik Penting
• 1 jam lalu
0
thumb
Penyelundupan 2,7 Juta Rokok Ilegal Berhasil Digagalkan Bea Cukai, Nilainya Capai Rp4 Miliar
• 2 jam lalu
0
thumb
Puan Minta Kebakaran Bromo Segera Ditangani: Keselamatan Warga yang Utama
• 19 jam lalu
0
thumb
Istana Tambah 3.400 Kuota Upacara HUT Ke-81 RI, Pendaftaran Dibuka 11 Agustus 2026
• 7 jam lalu
0
thumb
Komisi III DPR Gelar RDPU Kasus Kematian Mantan Istri Polisi di Medan Secara Tertutup
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.