Trump Tuntut Iran Bayar Ganti Rugi Perang, Harapan Kesepakatan Selat Hormuz Meredup

metrotvnews.com
15 jam lalu
Cover Berita

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi syarat-syarat Iran untuk kesepakatan damai dengan tuntutan balasan agar Iran membayar kompensasi bagi korban tewas dalam perang, serangan, dan unjuk rasa.

Langkah retoris ini kemungkinan akan mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.

Usulan Trump, yang sebelumnya belum pernah disampaikan, merupakan tanggapan atas tuntutan Teheran mengenai kompensasi dan penghentian sanksi. Tuntutan Iran tersebut sebagian besar sejalan dengan ketentuan kesepakatan damai awal yang ditandatangani pada bulan Juni, namun kesepakatan itu kemudian gagal terlaksana.

Baca Juga :

Negosiasi Mandek, Opsi Trump untuk Keluar dari Perang Iran Kian Menyempit
Sejak perang dimulai pada Februari, Trump berulang kali berubah sikap antara melontarkan ancaman eskalasi dan mengklaim bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai.

"Kami akan meminta ganti rugi atas kerusakan yang mereka timbulkan selama periode 50 tahun," ujar Trump di Gedung Putih, seraya menambahkan bahwa pembayaran tersebut akan mencakup korban jiwa di kalangan warga sipil yang berunjuk rasa maupun personel militer AS di kawasan tersebut.

"Jadi, jika ada ganti rugi yang harus dibayarkan, menurut saya Iran-lah yang harus membayarnya," kata Trump, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa 11 Agustus 2026.

Harga minyak ditutup naik 5 persen pada Senin setelah tuntutan tersebut meredupkan prospek kesepakatan untuk membuka kembali selat itu. Trump salahkan Al-Qaeda bukan Iran Merujuk pada tindakan keras Teheran terhadap unjuk rasa pada akhir tahun 2025 dan 2026, Trump mengatakan bahwa Iran telah menewaskan sekitar 52.000 pengunjuk rasa hingga enam minggu yang lalu.

Meskipun beberapa kelompok oposisi dan kelompok pengasingan Iran mengklaim adanya puluhan ribu korban jiwa, Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS melaporkan sekitar 7.000 kematian pada bulan Februari, termasuk 6.500 pengunjuk rasa.

Trump sempat mendorong para pengunjuk rasa untuk menggulingkan pemerintah Iran ketika perang dimulai dengan serangan udara AS dan Israel pada Februari. Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa pemerintah Iran terus menindak pihak oposisi sejak saat itu.

Trump juga mengatakan Iran harus memberikan kompensasi kepada keluarga dari 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan bulan Oktober 2000 di Yaman terhadap kapal Angkatan Laut USS Cole—sebuah serangan yang selama ini dikaitkan dengan al-Qaeda, bukan Iran.

"Selain itu, terkait negosiasi dengan Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami oleh penduduk Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!" tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Sebelumnya, Iran menyatakan sedang mendekati kesepakatan akhir dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru di antara kedua negara yang melintasi Selat Hormuz. Namun, Iran menegaskan kembali bahwa AS harus memenuhi sejumlah syarat -,termasuk pemberian kompensasi serta penghentian sanksi dan ancaman militer,- sebelum jalur perairan vital tersebut dibuka kembali.

Selat tersebut -,yang sebelum konflik menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia,- praktis tertutup sejak perang dimulai, sehingga memicu kenaikan harga minyak dan inflasi. Trump di bawah tekanan Ironisnya, kesepakatan dengan Oman ini justru akan memberikan Teheran posisi tawar yang lebih kuat atas jalur perairan vital tersebut dibandingkan sebelum perang pecah.

Trump kini berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang yang sangat tidak populer di dalam negeri menjelang pemilihan umum sela bulan November; selain itu, tingginya harga bahan bakar menjadi isu utama di wilayah pedesaan yang selama ini menjadi basis pendukungnya.

"Apa yang kita saksikan di sini adalah awal dari sebuah penyerahan diri," ujar anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Bill Keating, kepada CNN.

"Inilah kenyataannya. Hal ini mulai disadari sepenuhnya,” kata Keating.

Sebelumnya pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Oman "berjalan lancar dan konstruktif". Kesepakatan mengenai peta rute pelayaran telah dicapai, meskipun masih ada beberapa masalah teknis yang belum terselesaikan.

Baghaei menambahkan bahwa pembahasan tersebut juga mencakup layanan yang biasanya melibatkan pembayaran, seperti navigasi yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim, dan pemberantasan kejahatan.

Para pejabat AS telah berulang kali menegaskan penolakan terhadap kesepakatan apa pun yang memungkinkan Teheran memungut biaya atas akses ke selat tersebut.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mengejutkan! Houthi Lancarkan Serangan Baru, Trump Ungkap Iran Sedang Kehabisan Uang
• 12 jam lalu
0
thumb
GIIAS The Series 2026 Hadir di Lima Kota Besar
• 9 jam lalu
0
thumb
Waspada Karhutla! 1.483 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan Barat
• 21 jam lalu
0
thumb
Penyebab IHSG Kembali di Zona Merah, Sesi 1 Turun 0,97%
• 9 jam lalu
0
thumb
Istana Tambah 3.400 Kuota Upacara HUT Ke-81 RI, Pendaftaran Dibuka 11 Agustus 2026
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.