JAKARTA, KOMPAS.TV – Dokter Forensik Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Oktavinda Safitry menganalisis upaya otopsi jenazah Sutrimo, pegawai eks Jampidsus Febrie Adriansyah, yang ditemukan tewas dengan mulut berbusa.
Sebagai informasi, otopsi akan dilakukan seusai ekshumasi atau pembongkaran makam Sutrimo di Banyumas, Jawa Tengah pada Rabu 12 Agustus 2026 atau tepat tiga pekan sejak pemakaman.
Oktavinda menjelaskan, otopsi merupakan upaya untuk mencari tahu penyebab kematian seseorang, dan waktu terbaik pelaksanaannya adalah secepat mungkin pascameninggal.
Baca Juga: Susno Duadji Desak Ekshumasi Guna Ungkap Kematian Sutrimo, Sebut Belum Dikatakan Wajar Tanpa Otopsi
Ia mengaku agak sulit menjawab pertanyaan tentang bisa sejelas apa ekshumasi tersebut mengungkap penyebab kematian Sutrimo.
“Agak sulit nih saya jawabnya gitu ya, karena sebenarnya gini kan memang kita tahu bahwa otopsi itu untuk mencari sebab pasti kematian gitu ya. Otopsi itu paling baik tentu secepat mungkin gitu ya begitu orang itu meninggal begitu,” ujarnya dalam dialog Kompas Petang, Kompas TV, Senin (10//8/2026).
Menurutnya, ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan proses otopsi terhadap mayat yang sudah dimakamkan, termasuk kondisi tanah makamnya.
“Jadi kan ada banyak penyulit nih, ada faktor pembusukan, kemudian kita juga enggak tahu nih kondisi tanah di dalamnya seperti apa. Itu juga kan mempengaruhi proses pembusukannya tadi, begitu,” ujarnya.
“Jadi bukannya enggak bisa, masih bisa, tapi memang mungkin akan ada penyulit gitu ya. Ada berbagai hal yang ya kita masih belum tahu nih. Jadi memang biasanya harus sangat hati-hati, gitu.”
Sebab, lanjut dia, dalam melakukan otopsi dokter akan membuka rongga-rongga tubuh jenazah dan memeriksa organnya satu persatu.
Dari situ kemudian dokter forensik akan mencari kelainan pada masing-masing organ untuk menyimpulkan penyebab kematian.
Saat ditanya apakah masih bisa ditemukan dalam waktu tiga minggu setelah jenazah dikuburkan, ia menyebut tergantung apa yang ingin ditemukan dari otopsi itu.
“Tergantung sebenarnya mau kita cari apa, kan gitu. Gitu ya. Jadi tergantung juga tadi pembusukannya sudah sejauh mana. Itu yang sebenarnya kita belum tahu kan, begitu.”
Baca Juga: Polda Metro Jaya Ekshumasi Jenazah Sutrimo di Banyumas pada 12 Agustus
“Jadi mungkin aja ternyata tanahnya tadi justru baik sehingga mempreservasi jenazahnya, gitu sehingga masih ada organ-organ yang masih cukup baik pemeriksaannya,” ujarnya.
Meski demikian, kata dia, tidak menutup kemungkinan kondisi tanahnya justru mempercepat pembusukan.
“Ya ada kemungkinan kita memang enggak ketemu apa-apa, gitu. Itu yang sebenarnya kita belum tahu, sehingga tetap eksumasi menjadi salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencari jawaban sebab kematiannya, sebenarnya gitu.”
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- dokter forensik
- sutrimo
- kematian sutrimo
- ekshumasi kuburan sutrimo
- pegawai eks jampidsus






Komentar (0)