HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — PSM Makassar belum berhenti membangun kerangka tim untuk menghadapi Super League 2026/2027. Pemusatan latihan di Yogyakarta menjadi salah satu tahap penting bagi Darije Kalezic untuk mengenali lebih jauh komposisi skuad yang dimilikinya, sekaligus menentukan bagian mana yang masih membutuhkan tambahan tenaga.
Sebanyak 26 pemain diboyong ke Yogyakarta. Jumlah tersebut belum menggambarkan komposisi final Juku Eja untuk musim depan. Manajemen masih membuka ruang bagi sejumlah pemain baru untuk melengkapi skuad.
Kondisi itu menunjukkan bahwa PSM belum sepenuhnya selesai membangun tim.
Dari 26 pemain yang mengikuti pemusatan latihan, sektor gelandang menjadi kelompok terbesar dengan sembilan pemain. Kemudian terdapat tujuh pemain belakang, enam penyerang, dan empat penjaga gawang.
Komposisi tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi Kalezic. Pelatih asal Belanda itu menilai kekuatan PSM saat ini belum cukup untuk mengarungi kompetisi yang panjang.
Bahkan, meski enam pemain akademi telah dilibatkan dalam persiapan, kebutuhan tambahan pemain tetap ada hampir di seluruh sektor.
“Komposisi pemain memang belum cukup, meskipun kami sudah dibantu oleh enam pemain akademi. Saat ini saya masih butuh pemain di semua lini, kecuali penjaga gawang,” ujar Kalezic.
Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pemusatan latihan di Yogyakarta tidak semata-mata digunakan untuk meningkatkan kondisi fisik pemain.
Kalezic ingin menggunakan fase tersebut untuk membangun fondasi permainan.
Persiapan PSM sejauh ini baru berada di kisaran 40 persen. Artinya, masih ada ruang yang cukup besar bagi tim pelatih untuk mengembangkan pola permainan, menguji kombinasi pemain, serta menentukan kerangka utama sebelum kompetisi dimulai.
Di tengah proses tersebut, kedatangan Navarone Foor menjadi salah satu bagian menarik dari proyek baru PSM.
Foor merupakan rekrutan anyar Juku Eja untuk musim 2026/2027. Gelandang serang kelahiran Belanda itu membawa pengalaman panjang dari sepak bola Eropa dan kini memasuki babak baru dalam kariernya bersama PSM.
Kehadiran Foor tidak hanya menarik karena statusnya sebagai pemain baru.
Ada sejarah panjang yang membuat namanya memiliki hubungan khusus dengan sepak bola Indonesia.
Foor sebelumnya pernah masuk dalam radar program naturalisasi Timnas Indonesia. Namanya sempat dibicarakan pada 2017, bersamaan dengan sejumlah pemain keturunan lain seperti Sandy Walsh dan Ezra Walian.
Namun, rencana tersebut tidak pernah berujung pada Foor mengenakan seragam Garuda di level senior.
Kini, hampir satu dekade kemudian, Foor justru benar-benar berada di Indonesia.
Bukan sebagai pemain Timnas, melainkan sebagai bagian dari PSM Makassar.
Perjalanan itu membuat kedatangan Foor memiliki cerita tersendiri.
Navarone Chesney Kai Foor tumbuh sebagai pesepak bola di Belanda. Ia berkembang melalui sistem sepak bola Negeri Kincir Angin sebelum menembus level profesional bersama NEC Nijmegen.
NEC menjadi salah satu klub yang paling penting dalam perkembangan kariernya. Foor bergabung dengan klub tersebut pada 2011 dan mendapatkan pengalaman dalam berbagai situasi kompetisi.
Termasuk ketika NEC harus turun kasta ke Eerste Divisie pada 2014.
Foor tetap bertahan.
Ia kemudian menjadi bagian dari perjalanan NEC kembali ke Eredivisie. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai karakter karier Foor yang tidak selalu berada di klub papan atas, tetapi cukup panjang untuk membentuk pengalaman kompetitifnya.
Lebih dari 160 penampilan bersama NEC membuat namanya kemudian mendapatkan kesempatan memperkuat Vitesse Arnhem.
Di Vitesse, Foor menjalani salah satu periode paling menarik dalam kariernya.
Ia membantu klub tersebut meraih KNVB Cup atau Piala Belanda pada musim 2016/2017. Tidak hanya itu, Foor juga mendapatkan pengalaman tampil di kompetisi Eropa ketika Vitesse bermain di Europa League.
Setelah bertahun-tahun bermain di Belanda, Foor kemudian memperluas pengalamannya ke berbagai negara.
Ia pernah bermain di Uni Emirat Arab bersama Ittihad Kalba, kemudian melanjutkan karier ke Siprus, Latvia, kembali ke Belanda, dan kemudian Turki.
Pada Januari 2024, Foor bergabung dengan Bandirmaspor di Turki.
Rentetan pengalaman tersebut membuat Foor datang ke PSM dengan bekal yang relatif berbeda dibanding sejumlah pemain asing lain. Ia sudah merasakan atmosfer berbagai kompetisi dengan karakter permainan yang tidak sama.
Namun, yang akan menjadi perhatian Kalezic bukanlah panjangnya daftar klub Foor.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan ke dalam permainan PSM.
Foor dikenal sebagai pemain yang bisa beroperasi sebagai gelandang serang. Ia dapat bermain di belakang striker dan memiliki kemampuan untuk bergerak dari lini tengah menuju area yang lebih dekat dengan kotak penalti.
Karakter seperti ini berpotensi membuatnya menjadi salah satu pemain penting dalam konstruksi permainan Kalezic.
Apalagi PSM membutuhkan sosok yang dapat menghubungkan lini tengah dengan lini depan.
Dalam konteks tersebut, Foor berpotensi mendapatkan peran yang pernah begitu identik dengan salah satu pemain asing paling berpengaruh dalam sejarah modern PSM: Wiljan Pluim.
Tentu, membandingkan Foor dengan Pluim bukan perkara sederhana.
Pluim memiliki hubungan yang sangat kuat dengan PSM dan meninggalkan jejak panjang di Makassar. Ia bukan hanya pengatur serangan, tetapi juga menjadi pusat permainan Juku Eja selama bertahun-tahun.
Foor tidak harus menjadi “Pluim baru”.
Namun, jika Kalezic memberinya peran sebagai penghubung antarlini, pengatur ritme serangan, sekaligus pemain yang bergerak di ruang antara gelandang dan penyerang, maka Foor bisa mengisi kebutuhan yang selama ini sering dicari PSM setelah era Pluim.
Di sinilah pemusatan latihan menjadi penting.
Kalezic memiliki kesempatan untuk melihat sejauh mana Foor dapat beradaptasi dengan rekan-rekan barunya. Sepak bola Indonesia memiliki karakter berbeda dengan kompetisi Eropa yang selama ini menjadi lingkungan Foor.
Kecepatan permainan, kondisi lapangan, perjalanan antarkota, cuaca, serta intensitas kompetisi akan menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, rekam jejak Foor di Eropa tidak otomatis menjamin keberhasilannya di PSM.
Ia tetap harus membuktikan kemampuan di lapangan.
Kalezic pun masih memiliki pekerjaan besar. Selain Foor, PSM masih membutuhkan tambahan pemain di beberapa posisi.
Manajer PSM Makassar Muhammad Nur Fajrin sebelumnya menyampaikan bahwa beberapa pemain baru akan bergabung dalam pemusatan latihan di Yogyakarta. Termasuk pemain yang sebelumnya memperkuat tim nasional masing-masing di Piala AFF.
Rizky Eka Pratama menjadi salah satu pemain yang dijadwalkan menyusul ke Yogyakarta. PSM juga memiliki satu pemain lain yang tampil di Piala AFF.
Artinya, skuad yang berada di Yogyakarta belum sepenuhnya final.
Pemusatan latihan hingga 21 Agustus akan menjadi semacam ruang uji bagi Kalezic. Dari sana, pelatih akan mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai siapa yang siap menjadi bagian utama tim dan sektor mana yang masih membutuhkan perbaikan.
Bagi Foor, fase ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan dirinya bukan melalui cerita masa lalu, melainkan melalui permainan.
Ia pernah dikaitkan dengan Timnas Indonesia.
Ia pernah bermain di Eredivisie.
Ia pernah merasakan kompetisi Eropa.
Ia pernah memperkuat klub di sejumlah negara.
Namun, semua catatan tersebut akan kehilangan makna jika tidak mampu membantu PSM meraih hasil.
Musim 2026/2027 akan menjadi ujian baru bagi Foor.
Sekaligus menjadi ujian bagi Kalezic untuk membuktikan bahwa perekrutan pemain dengan pengalaman panjang seperti Foor memang sesuai dengan kebutuhan taktik PSM.
Juku Eja tidak hanya membutuhkan nama besar.
Mereka membutuhkan pemain yang mampu bekerja dalam sistem, memahami karakter permainan tim, dan bertahan dalam tuntutan kompetisi sepanjang musim.
Foor memiliki modal pengalaman.
Kalezic memiliki tugas mengubah pengalaman tersebut menjadi kontribusi.
Jika berhasil, PSM bukan hanya mendapatkan gelandang serang berpengalaman dari Eropa. Mereka bisa mendapatkan sosok yang mampu memberi warna baru pada lini tengah sekaligus menjadi salah satu pusat permainan Juku Eja.
Dan mungkin, tanpa harus menjadi Wiljan Pluim berikutnya, Navarone Foor dapat menciptakan perannya sendiri di Makassar.






Komentar (0)