Kebakaran di Bromo Yang Menyatukan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Di kaki Bukit Dingklik, para pelaku usaha di antaranya pengemudi jip telah berkumpul. Tidak hanya berjumlah puluhan, namun ratusan dan menyebar di beberapa tempat. Mereka datang tidak untuk mengantarkan wisatawan seperti biasanya mereka lakukan sehari-hari, namun untuk membantu petugas dalam memadamkan kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (10/8/2026).

Banyak dari mereka datang dengan apa yang mereka punya. Ada yang membawa truk, ada yang membawa tangki air, ada yang membawa pompa, dan ada yang menyediakan jipnya untuk transportasi warga menuju tempat kebakaran.

Di tempat tersebut api masih berkobar hebat, namun dengan cekatan para warga tersebut naik ke bukit sambil membawa selang untuk menyemprotkan air. Mereka pun berbagi tugas. Ada yang mengurusi pompa air, ada yang memegang selang air, dan ada yang memadamkan api dengan cara tradisional yaitu memukul-mukulnya dengan menggunakan ranting pohon.

Kerja sama yang bagus antara warga dengan petugas yang bertugas membuahkan hasil maksimal. Di titik kebakaran tersebut api berhasil dijinakkan. Setelah berhasil memadamkan kebakaran, mereka pun beristirahat untuk makan dan minum sejenak.

Pompa air disiapkan untuk memadamkan kebakarn. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Warga yang merupakan pengemudi Jip menarik selang air.

Api membakar semak-semak. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Salah satu warga  Aldis Titon Fauzi yang merupakan perwakilan anggota dari paguyuban Jip Bromo, mengungkapkan bahwa ini adalah inisiatif dari para pelaku usaha. “Kami juga ingin kebakaran ini segera tertangani, dan kondisi ini mempengaruhi kehidupan kami di Bromo. Apalagi sejak Minggu lalu kawasan lautan pasir tertutup dari segala arah, baik itu Malang, Pasuruan, maupun Probolinggo, bisa dibilang kami libur melayani wisatawan, ” ujar Aldis.

Salah satu warga lainnya Fendi yang juga berprofesi sebagai pengemudi jip mengaku ingin terlibat dalam penanganan kebakaran bersama rekan-rekan satu profesinya. “Biasanya biaya sewa jip itu dimulai dari Rp 600.000 tergantung berapa spot yang akan dikunjungi. Kini banyak wisatawan yang kecewa karena tidak bisa ke lautan pasir dan titik-titik lainnya padahal untuk itulah mereka jauh-jauh datang ke Bromo,” ujarnya.

Berdasarkan laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Minggu (9/8) pukul 23.30 WIB, luas lahan yang terbakar di kawasan Bromo telah mencapai sekitar 520 hektare. Vegetasi yang terdampak antara lain cemara gunung, mentingen, akasia, serta semak belukar. Titik api di kawasan Lembah Dingklik juga dilaporkan masih membesar. Perkembangan terbaru pada Senin (10/8) siang menunjukkan luasan area terdampak terus bertambah.

Pemerintah terus memperkuat operasi pemadaman. Tiga helikopter dikerahkan untuk melakukan pemadaman udara (water bombing) guna menjangkau titik-titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Medan yang terjal dan luasnya kawasan terbakar menjadi salah satu kendala utama bagi petugas. Selain pemadaman dari udara, pemerintah pusat juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, serta jajaran Balai Besar TNBTS untuk mencegah api semakin meluas. Pemerintah menyatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran ini.

Bukit menghitam. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Asap kebakaran. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Menembus asap. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Demi keselamatan wisatawan dan mendukung proses pemadaman, seluruh akses wisata menuju kawasan Gunung Bromo telah ditutup sejak Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan mencakup sejumlah pintu masuk dari wilayah Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.

Penutupan dilakukan karena kebakaran telah meluas ke sejumlah bagian kawasan TNBTS dan terdapat titik api yang masih aktif. Masyarakat maupun wisatawan diimbau tidak memaksakan diri memasuki kawasan yang ditutup.

Kebakaran di kawasan Gunung Bromo bukan hal baru khsusunya saat musim kemarau, namun hal tersebut bisa diminimalkan jika semua yang beraktivitas di kawasan tersebut teredukasi dengan tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu kebakaran. 

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
YouTuber Bigmo Diperiksa Polisi Siang Ini
• 9 jam lalu
0
thumb
Komisi XIII Soroti Video Hoaks Demo, Singgung Dugaan Dalang dan Demokrasi Sehat
• 5 jam lalu
0
thumb
Pemprov DKI Luncurkan Call Center Transportasi, Pramono Sorot Kendala Pengantaran Jenazah di Jakarta
• 15 jam lalu
0
thumb
336 Ribu Orang Berebut Ikut Upacara HUT RI di Istana, Kuota Ditambah
• 6 jam lalu
0
thumb
Menanti Pidato Kenegaraan Prabowo di Tengah "Banjir" Kabar dari AS
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.