JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, tersisa dua titik api.
“Seperti Bromo, kita kerahkan tiga heli (helikopter) dan langsung bisa mengatasi, dari 34, tinggal 2 titik (api),” kata Suharyanto saat ditemui Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Karhutla Bromo, Anggota DPR Dorong Pemadaman Lewat Modifikasi Cuaca dan Usulkan Status BLU
Kendati demikian, Suharyanto tidak menjelaskan lebih lanjut terkait kebakaran Bromo tersebut.
Sementara itu, Menko Polkam Djamari Chaniago menyampaikan bahwa kebakaran Bromo akan segera dituntaskan oleh pemerintah.
“Kemudian di Jawa Barat juga sudah selesai, di Gunung Gede Pangrango di situ itu pun sudah selesai (diatasi),” ujar dia.
Baca juga: Karhutla Bromo, Anggota DPR Tekankan Pentingnya Pengawasan dan Penegakan Aturan di Kawasan Hutan
Bukan hanya itu, Djamari menyampaikan bahwa kebakaran yang melanda kawasan Gunung Rinjani juga telah selesai diatasi oleh pemerintah.
107.000 Hektare hutan dan lahan hangusMenurut data hingga Senin (10/8/2026), Djamari mengungkapkan, sebanyak 107.000 hektare hutan dan lahan yang tersebar di seluruh Indonesia hangus terbakar.
Karhutla itu terjadi di tengah El Nino, yakni fenomena pemanasan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di atas kondisi normal.
Dalam konteks ini, Djamari menyampaikan bahwa sebanyak enam provinsi tengah diwaspadai oleh pemerintahan terkait karhutla di tengah fenomena El Nino.
Enam provinsi itu terdiri dari Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Sebanyak 43 helikopter dikerahkan untuk mengatasi karhutla yang tengah terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.
Baca juga: 520 Hektare Gunung Bromo Terbakar, Potensi Kerugian Pariwisata Jatim Dihitung
Penanganan melalui operasi darat tetap dilakukan, terutama karena ketersediaan air di sejumlah lokasi mulai terbatas.
Pemerintah, kata Djamari, menyiapkan sejumlah alternatif, seperti penggunaan flexible tank untuk menampung dan mendistribusikan air.
Pemerintah juga mempertimbangkan pembuatan sumur di lokasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan air dalam penanganan karhutla.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)