Jalan Arief Rate Makassar Menyimpan Kisah Pejuang di Masa Revolusi

celebesmedia.id
47 menit lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi warga Makassar, Jalan Arief Rate mungkin lebih dikenal sebagai salah satu ruas jalan di kawasan pusat kota. Namun, nama tersebut menyimpan kisah seorang tokoh yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mencatat Jalan Arief Rate berada di Kecamatan Ujung Pandang. Nama ruas jalan itu masih tercantum dalam dokumen resmi jaringan jalan Kota Makassar.

Arief Rate sendiri merupakan salah satu tokoh pemuda yang terlibat dalam perjuangan rakyat Sulawesi Selatan pada masa revolusi kemerdekaan.

Dalam buku Tokoh-Tokoh di Balik Nama-Nama Jalan Kota Makassar karya Ahyar Anwar dan Aslan Abidin, Arief Rate masuk dalam kelompok tokoh perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang namanya kemudian diabadikan menjadi nama jalan.

Buku tersebut tercatat sebagai koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.

Salah satu episode penting dalam kisah Arief Rate terjadi pada 1 Januari 1949. Ia disebut turut dalam perencanaan serangan terhadap sejumlah tangsi militer Belanda di Makassar.

Aksi itu merupakan bagian dari perlawanan setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap Belanda dalam Agresi Militer II.

Salah satu langkah dalam operasi tersebut adalah membebaskan Wolter Monginsidi dari penjara di Hoogepad, kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani.

Namun, kebebasan Monginsidi hanya berlangsung singkat. Ia kembali ditangkap sekitar 12 jam kemudian di Maricayya. Arief Rate juga sempat ditahan sebelum berhasil melarikan diri.

Perjuangan Arief tidak berhenti setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada akhir 1949. Ia kemudian bergabung dengan kesatuan gerilya pro-Republik yang dipimpin Letnan Kolonel Kahar Mudzakkar.

Kesatuan tersebut kemudian berubah menjadi Mobile Brigade Ratulangi (MBR), dan Arief dipercaya memimpin Batalion III yang bergerak di wilayah Bantaeng dan sekitarnya.

Situasi kemudian berubah ketika terjadi konflik antara pasukan APRIS dan kelompok eks-KNIL di Makassar pada 1950.

Kelompok MBR yang dipimpin Arief Rate akhirnya berada di pihak APRIS dalam konflik tersebut. Namun, setelah pertempuran berakhir, Arief dan sejumlah petinggi MBR dilaporkan dieksekusi mati.

Kisah itu membuat nama Arief Rate tidak sekadar menjadi penanda sebuah ruas jalan. Namanya masuk dalam jejak sejarah perjuangan di Makassar, berdampingan dengan nama tokoh-tokoh lain yang juga diabadikan sebagai nama jalan.

Hingga kini, Jalan Arief Rate tetap menjadi bagian dari aktivitas warga di pusat Kota Makassar. Pemkot Makassar juga masih menggunakan nama tersebut dalam berbagai informasi resmi mengenai kegiatan dan peristiwa di kawasan itu.

Dengan demikian, setiap kali nama Jalan Arief Rate disebut, ada bagian dari sejarah perjuangan Sulawesi Selatan yang ikut terucap—sebuah nama yang diabadikan bukan sekadar sebagai alamat, tetapi sebagai pengingat tentang perjalanan panjang mempertahankan kemerdekaan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
MTQ Ke-34 Se-Kalbar Resmi Ditutup, Kubu Raya Raih Juara, Kayong Utara Sukses Gelar Acara dan Masuk 5 Besar
• 18 jam lalu
0
thumb
Cerita Siti Khodijah Orang Tertua di Indonesia, Usianya 120 Tahun
• 22 menit lalu
0
thumb
Perkuat Tata Kelola, Pertamina Resmikan Integrasi Informasi Publik
• 19 jam lalu
0
thumb
Manoj Punjabi Punya Alasan Kuat Filmkan Dhot Design, Siap Tayang 2027
• 21 jam lalu
0
thumb
Hari Anak Nasional, Komnas Anak Soroti Fenomena Bullying Sejak Kelas 1 SD
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.