Astronaut NASA di ISS Abadikan Topan Raksasa di Samudra Pasifik Pakai iPhone

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Astronaut NASA, Anil Menon, berhasil mengabadikan pemandangan topan raksasa yang berputar di Samudra Pasifik dari atas Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Menariknya, foto tersebut diambil menggunakan iPhone dari ketinggian sekitar 400 kilometer di atas permukaan Bumi.

Menon membagikan foto tersebut melalui media sosial pada 2 Agustus 2026. Dalam unggahannya, ia menulis: “The Pacific Ocean this morning from the cupola with an iPhone”.

Dia memotret topan itu dari jendela Cupola, modul observasi di ISS yang memberikan pandangan luas ke Bumi. Di jendela itu, Menon dapat melihat langsung sistem badai tropis yang berputar di bawahnya.

Menon tidak menyebutkan secara spesifik topan yang terlihat dalam foto tersebut. Namun, berdasarkan waktu dan lokasinya, fenomena yang diamatinya kemungkinan adalah Topan Dolphin.

Topan Dolphin mencapai kekuatan kategori 5 pada 30 Juli ketika bergerak di wilayah barat laut Samudra Pasifik. Saat itu, kecepatan anginnya mencapai sekitar 270 kilometer per jam Kekuatan tersebut sempat membuat Dolphin dikategorikan sebagai super typhoon. Namun, sistem badai itu kemudian melemah dan turun ke kategori yang lebih rendah.

Hingga 7 Agustus, Topan Dolphin masih bergerak di atas lautan. Badai tersebut melintas di antara wilayah barat daya Jepang dan Taiwan pada Jumat (8/8) pagi. Dolphin diperkirakan terus bergerak ke arah timur sebelum mencapai daratan di pesisir timur China, antara Shanghai dan Fuqing di Provinsi Fujian, pada awal Senin (10/8).

iPhone Baru Dipakai Astronaut di ISS

Foto Topan Dolphin tersebut juga menarik perhatian karena perangkat yang digunakan untuk mengambilnya. iPhone dan smartphone lainnya tergolong sebagai perangkat baru yang digunakan secara resmi di ISS.

Kendati begitu, belum diketahui iPhone model apa yang digunakan Menon untuk memotret topan tersebut.

Selama ini, astronaut NASA memang kerap mengabadikan pemandangan Bumi menggunakan kamera digital. Namun, 2026 menjadi tahun pertama kru astronaut diperbolehkan menggunakan smartphone pribadi mereka di luar angkasa.

"Para astronaut NASA akan segera terbang dengan smartphone terbaru, dimulai dari Crew-12 dan Artemis II," kata Administrator NASA Jared Isaacman dalam unggahan pada Februari lalu.

Menurut Isaacman, penggunaan smartphone memungkinkan para astronaut mengabadikan momen-momen spesial untuk keluarga mereka sekaligus membagikan foto dan video yang menginspirasi kepada masyarakat di seluruh dunia.

NASA juga menggunakan kesempatan tersebut untuk menguji dan menyesuaikan perangkat keras modern agar memenuhi persyaratan penerbangan luar angkasa dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan proses sebelumnya.

"Ini merupakan langkah kecil ke arah yang benar," ujar Isaacman.

El Nino Bisa Bikin Musim Topan Pasifik Tak Biasa

Di luar foto yang diambil Menon, aktivitas Topan Dolphin juga menjadi bagian dari fenomena cuaca yang diperkirakan membuat musim badai Pasifik pada 2026 cukup berbeda.

Ahli cuaca memperkirakan fenomena El Nino kuat akan berkembang dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi tersebut biasanya berkaitan dengan berkurangnya jumlah siklon tropis secara keseluruhan.

Namun, siklon yang terbentuk di Pasifik memiliki peluang lebih besar berkembang menjadi badai yang sangat kuat atau super typhoon. Topan Dolphin menjadi salah satu contohnya.

Dampak El Nino berbeda di wilayah Samudra Atlantik. Fenomena tersebut cenderung mengurangi jumlah dan intensitas badai tropis di kawasan itu. Aktivitas badai yang relatif rendah bahkan sudah terlihat pada musim badai yang sedang berlangsung.

Para ilmuwan dari Colorado State University memperkirakan kemungkinan badai besar (major hurricane) mencapai daratan di sepanjang pesisir Amerika Serikat bagian kontinental dan kawasan Karibia berada jauh di bawah rata-rata. Kendati begitu, mereka mengingatkan bahwa rendahnya aktivitas badai bukan berarti kawasan pesisir sepenuhnya aman.

"Seperti pada semua musim badai, penduduk di wilayah pesisir perlu diingatkan bahwa hanya dibutuhkan satu badai yang mencapai daratan untuk membuat sebuah musim menjadi aktif," tulis para peneliti.

Bagi wilayah pesisir timur Amerika Serikat, rendahnya aktivitas badai menjadi kabar baik. Namun, El Nino sendiri berpotensi membawa dampak lain bagi berbagai wilayah di dunia hingga akhir 2026 dan memasuki 2027.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pengungkapan Kasus Eks Jampidsus Harus Tuntas
• 10 jam lalu
0
thumb
LPSK Jemput Bola Lindungi Keluarga Sutrimo, Siap Beri Perlindungan Darurat
• 19 jam lalu
0
thumb
Awas Perang Arab! Houthi Rudal Kilang Minyak Saudi, Picu Kebakaran
• 10 jam lalu
0
thumb
Laporan Keluarga Sutrimo soal Dugaan Kematian Tak Wajar Diterima Polda Metro
• 1 jam lalu
0
thumb
Pemkot Surabaya Putus Kontrak Runner Up Raka Raki Jatim Usai Viral Dugaan Permintaan Aborsi
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.