DEPOK, KOMPAS.com - Pemilik usaha Piscok Selamat Pagi, Dwi Purwadi (31), mengaku sempat mengalami kerugian setelah nama usahanya terseret kasus mutilasi di Depok.
Nama Piscok Selamat Pagi ramai diperbincangkan setelah pernyataan Saepul, tersangka kasus mutilasi terhadap Kunaefi (51), bahwa dia pernah bekerja di usaha tersebut viral di media sosial.
Dwi mengatakan, sejumlah masyarakat bahkan mengira Saepul merupakan pemilik usaha pisang cokelat (piscok) yang berada di dekat Stasiun Pondok Cina, Depok, tersebut.
Baca juga: Jejak Niat Saepul Mutilasi Pria di Depok, Berawal Ingin Gasak Motor PCX Korban
Padahal, Saepul hanya bekerja sebagai karyawan freelance sejak akhir Mei 2026 dan telah mengundurkan diri pada 23 Juli 2026, tepat sebelum pembunuhan dan mutilasi terjadi.
"Karena dia sempat nyebutin dia pedagang Piscok Pocin, nah itu yang beban karena omzet langsung turun gitu," ujar Dwi saat ditemui, Jumat (7/8/2026).
Dwi mengatakan, penurunan omzet terjadi setelah pemberitaan mengenai kasus mutilasi tersebut viral.
Baca juga: Kaki Korban Mutilasi di Depok Belum Ketemu, Polisi: Kami Belum Berhenti Cari
Omzet usahanya bahkan sempat turun sekitar 20 persen dari kondisi sebelumnya.
"20 persenan kemarin (Kamis). Kalau hari belum kelihatan, tapi sejak siang belum ada greget," ungkapnya.
Kendati demikian, Dwi tidak tinggal diam setelah nama usahanya ikut terseret dalam kasus tersebut.
Pihaknya berupaya memberikan klarifikasi kepada masyarakat bahwa Saepul bukan pemilik Piscok Selamat Pagi.
Baca juga: Pencarian Hari Kedua, Bagian Kaki Korban Mutilasi di Depok Masih Belum Ditemukan
Tak hanya dari pihak usaha, sejumlah pelaku UMKM lainnya dan pelanggan yang merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) turut membantu memberikan klarifikasi melalui media sosial.
"Rata-rata aku lihat akun sepertinya pemiliknya anak anak UI, melihat market kita didominasi anak anak UI termasuk Danusan. Sabtu, alhamdulillah temen temen dari circle UMKM bantuin ada aksi beli untuk di menu mereka," jelasnya kepada Kompas.com, Minggu (9/8/2026).
Upaya klarifikasi tersebut membuat penurunan omzet tidak berlangsung lama. Lapak Piscok Selamat Pagi kembali didatangi pembeli pada Sabtu dan Minggu.
Baca juga: Hari Kedua Pencarian Kaki Korban Mutilasi Depok, Polisi Hadapi Kendala Arus Deras dan Sampah
"Jadi agak drop, cuma 1 hari aja ka, karena jumat kita fight back (klarifikasi 1 per 1 di tiktok ) jumat masih terasa cuma ga separah kamis," kata dia.
Namun, Dwi melihat sebagian pembeli yang datang ke tempat usahanya bukan hanya untuk membeli piscok, tetapi juga karena penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh soal Saepul.
"Pembelian bukan normal market. Aku lihat banyak dateng, alih alih sambil beli untuk konfirmasi berita beredar antusias masyarakat ingin lebih tau," ujar Dwi.
Baca juga: 4 Jam Pencarian, Bagian Bawah Tubuh Korban Mutilasi di Depok Belum Ditemukan
Kendati demikian, Dwi tidak mempermasalahkan rasa ingin tahu para pembeli tersebut.
Ia justru berharap penjelasan yang diberikan secara langsung dapat menghapus anggapan bahwa Saepul merupakan pemilik Piscok Selamat Pagi.
"(Yang datang) Lebih ke FOMO, tapi semoga baik baik saja," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)