BERLIN, KOMPAS.TV - Gelombang panas yang melanda Eropa Barat sepanjang musim panas 2026, memecahkan rekor suhu rata-rata untuk periode Juni-Juli yang sebelumnya tercatat pada 2022.
Badan pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus, mencatat suhu rata-rata Eropa Barat pada periode Juni-Juli 2026 mencapai 21,62 derajat Celsius atau sekitar 70,92 derajat Fahrenheit.
Gelombang panas ekstrem telah berlangsung sejak Mei dan berdampak luas di sejumlah negara Eropa. Kondisi tersebut turut memicu kebakaran hutan, kekeringan berkepanjangan, serta sejumlah rekor suhu nasional.
Suhu ekstrem juga meningkatkan risiko kematian terkait panas. Sejumlah kajian memperkirakan ribuan kematian di Eropa berkaitan dengan kondisi panas ekstrem yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Viral Cara China Lawan Cuaca Panas Ekstrem, Gedung-Gedung Semburkan Kabut Air
Di tingkat global, 2026 sejauh ini menjadi tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat, setelah 2024 dan 2025.
Namun, para ilmuwan memperkirakan 2026 masih berpeluang menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah, bahkan berpotensi melampaui rekor 2024.
Kondisi tersebut dipengaruhi pemanasan global akibat aktivitas manusia serta fenomena El Nino yang sedang berkembang di wilayah Pasifik.
Seperti dikutip dari The Associated Press, Copernicus juga mencatat suhu rata-rata permukaan laut global pada Juli 2026 mencapai rekor tertinggi untuk bulan Juli di wilayah laut di luar kawasan yang mengalami es laut musiman.
Suhu rata-rata permukaan laut pada Juli mencapai 20,96 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya pada Juli 2023 sebesar 20,89 derajat Celsius.
Sementara itu, suhu udara rata-rata global pada Juli 2026 mencapai 16,90 derajat Celsius. Angka tersebut menjadi suhu Juli tertinggi kedua bersama Juli 2024.
Baca Juga: Gelombang Panas Eropa Lumpuhkan Listrik hingga Transportasi, Italia Siaga Merah Nasional
Menurut Samantha Burgess, Strategic Lead for Climate di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, sistem tekanan tinggi yang bertahan lama menyebabkan panas terperangkap di wilayah Eropa Barat.
“Pola tekanan udara tinggi yang berlangsung terus-menerus memerangkap panas di wilayah Eropa Barat. Suhu ekstrem tersebut juga memperparah kekeringan yang meluas. Ketika tanah mengering, kemampuannya untuk memberikan pendinginan alami berkurang, sehingga panas lebih mudah terakumulasi,” ujar Burgess.
Dia mengatakan kondisi tersebut menjadi contoh bagaimana perubahan iklim memperkuat terjadinya cuaca panas ekstrem. Selain itu, perubahan iklim semakin memperparah kekeringan yang terjadi.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : The Associated Press
- perubahan iklim
- gelombang panas eropa
- cuaca ekstrem
- panas ekstrem
- gelombang panas
- suhu panas






Komentar (0)