Chicago: Harga emas dunia memasuki pekan baru dengan momentum penguatan setelah berhasil pulih dari level psikologis USD4.000 per troy ons. Pelemahan dolar AS dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve yang lebih longgar.
Mengutip Fxleaders.com, Senin, 10 Agustus 2026, harga emas menembus USD4.360 per troy ons. Level ini sekaligus mencapai level tertinggi dalam tujuh pekan.
Penguatan tersebut terjadi setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan sektor nonpertanian secara tidak terduga pada Juli. Adapun, laporan ketenagakerjaan Juli menunjukkan jumlah pekerjaan turun 23 ribu, berbanding dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 80 ribu pekerjaan.
Data tersebut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve pada September. Pelaku pasar mulai memperkirakan ruang yang lebih besar bagi The Fed untuk mengambil kebijakan yang tidak terlalu agresif.
Pada saat yang sama, dolar AS mengalami tekanan terhadap sejumlah mata uang utama. Kombinasi pelemahan dolar dan perubahan ekspektasi suku bunga memberikan dorongan bagi harga emas. Harga logam mulia tersebut naik hampir 10 persen dalam sepekan.
Penguatan emas juga mendorong saham perusahaan pertambangan emas. ETF GDX mencatat kinerja mingguan terbaik kedua sepanjang sejarahnya.
Baca Juga :
Kesepakatan Iran-Oman Dongkrak Harga Emas, Berpeluang Tembus USD5.000/Troy OnsPemulihan dari level USD4.000 membuat pergerakan harga emas dinilai lebih kuat dibandingkan sekadar pemantulan jangka pendek. Harga emas kini telah bergerak menjauh dari area dukungan tersebut dan berupaya mempertahankan momentum penguatan.
Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah turut mengurangi kekhawatiran mengenai tekanan berlebihan pada perekonomian dan inflasi yang dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Sebaliknya, data tersebut memperlihatkan kondisi pasar tenaga kerja yang ditandai dengan perekrutan lebih rendah, sementara tingkat pemutusan hubungan kerja juga tetap rendah.
Kondisi ekonomi yang lebih lemah dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Penurunan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah biasanya mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Data inflasi AS jadi katalis berikutnya
Perhatian pasar kini beralih ke data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Rabu.
Pasar memperkirakan CPI utama naik 0,1 persen secara bulanan pada Juli, setelah sebelumnya turun 0,4 persen. Sementara itu, CPI inti diproyeksikan meningkat 0,2 persen secara bulanan, setelah tidak mengalami perubahan pada bulan sebelumnya.
Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi pasar untuk menilai apakah pelemahan dolar AS masih dapat berlanjut.
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat meningkatkan tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan emas.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dan memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.
Pergerakan harga barang pokok diperkirakan menjadi salah satu komponen yang diperhatikan dalam laporan tersebut. Sejumlah kategori jasa juga dapat memberikan pengaruh terhadap angka inflasi secara keseluruhan.





Komentar (0)