HARIAN. FAJAR. CO. ID, BARRU – Para petani di Dusun Congko, Labulobulo, Desa Siddo, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, gigit jari. Mereka gagal panen akibat musim kemarau yang panjang.
Lahan sawah seluas 23 hektare seharusnya mulai siap dipanen. Kini padi justru berubah warna menjadi cokelat kering. Dipastikan gagal panen alias puso.
Petugas Pertanian Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Desa Siddo Kecamatan Soppeng Riaja, Herman, membenarkan kabar tersebut. Ia menceritakan bahwa sejak lama, para petani di wilayah ini memang tak memiliki sumur bor.
Satu-satunya andalan adalah air dari danau yang dipompa untuk mengairi sawah. Namun sayang, musim kemarau kali ini begitu lama hingga danau tempat mereka mengambil air pun ikut mengering tak bersisa.
“Sudah tak ada air lagi. Bagaimana lagi tanaman bisa hidup Semua sudah kering, tak tertolong lagi,” ujar Herman, Minggu (9/8/2026).
Kekeringan ekstrem itulah yang membuat tanaman padi tak mampu bertahan hingga menghasilkan bulir.
Andi Bahtiar, selaku Tim Kerja Dinas Pertanian yang membawahi wilayah Soppeng Riaja dan Mallusetasi, menjelaskan bahwa kondisi ini disebut puso saat tanaman mati secara menyeluruh sebelum sempat menghasilkan panen. Secara teknis, lahan dinyatakan puso apabila tingkat kerusakannya mencapai lebih dari 75 persen.
“Sudah hampir 5 bulan musim kemarau panjang, kendati pompa air memang masih ada, namun sumber airnya sudah tiada Inilah yang menjadi penyebab utama sehingga puso terjadi kali ini,” ungkap Andi Bahtiar.
Kini, para petani di Dusun Congko hanya bisa menunggu dan berharap hujan segera turun.Ini merupakan pelajaran berharga, bahwa setetes air sungguh berharga bagi kehidupan di ladang penghidupan para petani .(mrl)






Komentar (0)