Selama ini, kelemahan utama kebijakan ekonomi dalam mendorong pertumbuhan bukan terletak pada kurangnya program, melainkan pada orientasi kebijakan yang terlalu berfokus ke dalam negeri (inward looking). Berbagai kebijakan terus diluncurkan untuk menggerakkan sektor domestik, bahkan kerap memunculkan kontroversi. Namun, hasil akhirnya tetap sama, yakni pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5 persen.
Dengan orientasi kebijakan seperti saat ini, Indonesia sulit mengejar negara seperti Vietnam yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 8,3 persen. Karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi kembali arah kebijakan ekonominya apabila ingin mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi.
Persoalan utamanya bukan karena Indonesia sama sekali mengabaikan sektor luar negeri. Aktivitas ekspor, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), dan hilirisasi tetap berjalan. Namun, sektor luar negeri belum ditempatkan sebagai mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi nasional.
Kebijakan ekonomi masih lebih berorientasi pada pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi dalam negeri. Padahal, orientasi tersebut perlu bergeser menuju strategi yang lebih outward looking, yakni memperkuat daya saing industri, memperluas pasar ekspor, memanfaatkan investasi asing, serta terhubung dengan rantai pasok global (global supply chains).
Perubahan orientasi tersebut akan menciptakan sistem yang lebih menarik bagi investasi. Dengan dukungan insentif yang tepat, infrastruktur yang memadai, serta birokrasi yang efisien dan ramah terhadap dunia usaha, investasi asing berpotensi meningkat tanpa mengorbankan investasi domestik. Sebaliknya, keduanya dapat tumbuh secara bersamaan melalui strategi pembangunan yang berorientasi ekspor.
Dalam kondisi demikian, sektor industri nasional juga memiliki peluang berkembang lebih cepat karena ditopang oleh kekuatan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sebagai basis industri (resource-based industry). Dengan demikian, sektor luar negeri tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan menjadi penggerak utama transformasi ekonomi.
Tanpa perubahan orientasi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit melampaui capaian saat ini. Salah satu penyebabnya adalah ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri. Padahal, bagi negara sebesar Indonesia, pasar domestik memang penting, tetapi tidak cukup untuk melahirkan industrialisasi yang mampu bersaing di tingkat global.
Jumlah penduduk yang besar memang memberikan keunggulan berupa pasar domestik yang luas. Namun, kekuatan tersebut tidak akan optimal apabila dunia usaha Indonesia tidak didorong untuk naik kelas melalui persaingan di pasar internasional. Kebijakan outward looking menjadi penting karena membuka peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing sekaligus menghasilkan devisa yang lebih besar.
Indonesia sebenarnya pernah memiliki pengalaman keberhasilan melalui strategi tersebut. Pada dekade 1980-an, pemerintah mendorong investasi dan pengembangan industri yang berorientasi ekspor. Kebijakan outward looking ketika itu mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7–8 persen selama dua dekade. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa strategi serupa pernah memberikan hasil yang signifikan bagi perekonomian nasional.
Sebaliknya, mengandalkan belanja pemerintah bukanlah strategi yang berkelanjutan untuk mengejar pertumbuhan tinggi. Selama ini, belanja pemerintah lebih berfungsi sebagai penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak turun di bawah 5 persen. Di sisi lain, kondisi fiskal juga menghadapi tantangan, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran, sehingga ruang untuk terus mengandalkan stimulus fiskal semakin terbatas.
Konsumsi rumah tangga juga tidak lagi dapat menjadi satu-satunya motor pertumbuhan. Menurunnya jumlah kelas menengah membuat kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi tidak sekuat sebelumnya.
Karena itu, pemerintah perlu meninjau kembali orientasi kebijakan ekonominya. Jika target pertumbuhan 7–8 persen ingin dicapai, transformasi dari kebijakan yang inward looking menuju outward looking menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Tanpa perubahan tersebut, pertumbuhan ekonomi kemungkinan hanya akan bertahan di kisaran 5 persen atau bahkan lebih rendah, sehingga target pertumbuhan yang lebih tinggi akan sulit diwujudkan.






Komentar (0)