Sektor pariwisata Indonesia mencatatkan kinerja positif sepanjang Semester I 2026. Salah satu indikator yang menunjukkan pertumbuhan signifikan yakni realisasi investasi pariwisata yang mencapai Rp39,68 triliun, meningkat 16,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pertumbuhan investasi tersebut menjadi salah satu bukti semakin kuatnya peran sektor pariwisata dalam mendorong aktivitas ekonomi nasional.
"Capaiannya tidak terjadi dengan sendirinya. Pemerintah terus menjalankan strategi yang adaptif, termasuk melakukan pivot atau penyesuaian pasar, memperkuat promosi ke negara-negara yang masih memiliki potensi pertumbuhan, menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri, serta mengembangkan produk dan destinasi yang semakin berkualitas," kata Widiyanti dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp12,19 triliun, tumbuh 37% secara tahunan. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp27,48 triliun, meningkat 9,39% dibandingkan Semester I 2025.
Menurut Widiyanti, investasi di sektor pariwisata tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas wisata. Arus modal tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mendorong munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
"Investasi pariwisata tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi," ujarnya.
Pertumbuhan investasi tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas wisata sepanjang paruh pertama 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Januari-Juni 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan, naik 5,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan juga terlihat dari mobilitas wisatawan nusantara (wisnus). Jumlah perjalanan wisnus selama Semester I 2026 mencapai 630,41 juta perjalanan, tumbuh 2,71% secara tahunan.
Baca Juga: Raup USD25,8 Miliar, Türkiye Optimistis Pariwisata Bangkit pada Paruh Kedua 2026
Sementara itu, tingkat okupansi hotel tercatat sebesar 48,20%, atau meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan Semester I 2025.
Widiyanti menilai pertumbuhan berbagai indikator tersebut menunjukkan sektor pariwisata semakin memberikan dampak terhadap perekonomian. Pada kuartal II 2026, sejumlah sektor yang berkaitan erat dengan pariwisata turut mencatat pertumbuhan, antara lain akomodasi dan makan minum sebesar 10,60% serta transportasi dan pergudangan sebesar 5,65%.
Pemerintah pun terus memperluas pasar pariwisata Indonesia dengan melakukan promosi ke negara-negara yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Salah satunya India, yang menjadi salah satu fokus promosi setelah kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada Juli 2026.
Selain memperluas pasar mancanegara, Kementerian Pariwisata mendorong pemerataan aktivitas wisata melalui pengembangan destinasi baru. Di Bali, misalnya, pemerintah menyiapkan masterplan dispersi wisatawan untuk mengurangi konsentrasi kunjungan di Bali Selatan dan mendorong pertumbuhan Bali Utara, Bali Timur, serta Bali Barat.
Pengembangan pariwisata juga diarahkan pada produk berbasis minat khusus dan ekonomi kreatif, termasuk wisata kebugaran, gastronomi, wastra, seni, dan desain.
"Tujuan kami jelas, menjadikan pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja, sumber devisa, sekaligus jalan menuju pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia," tutup Widiyanti.






Komentar (0)