Jakarta dan Palestina: Diplomasi Kemanusiaan di Tengah Krisis

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

PERTEMUAN Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Sattiri di Balai Kota Jakarta, pada Kamis (6/8/2026), bukan sekadar agenda diplomatik antara seorang kepala daerah dan seorang diplomat asing. 

Di tengah berlanjutnya krisis kemanusiaan di Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki, pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana solidaritas terhadap Palestina dapat diterjemahkan dari politik luar negeri nasional ke dalam praktik diplomasi kota, kemanusiaan, dan hubungan antarmasyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, Pramono menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung sepenuhnya perjuangan masyarakat Palestina yang sedang menghadapi persoalan kemanusiaan yang sangat berat. 

Pernyataan itu penting karena Jakarta bukan hanya ibu kota administratif Indonesia, melainkan juga ruang politik, ekonomi, sosial, dan simbolik tempat berbagai aspirasi internasional Indonesia berinteraksi dengan masyarakat.

Baca juga: Orang Dalam KPK Jadi Tersangka, Siapa Lagi yang Dipercaya?

Pramono menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi warga sipil Palestina yang menghadapi kehilangan nyawa, pengungsian berulang, serta keterbatasan akses terhadap air, pangan, dan layanan kesehatan. 

Dengan demikian, narasi yang dibangun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak semata-mata ditempatkan dalam kerangka konflik politik Palestina-Israel, tetapi juga dalam perspektif kemanusiaan yang menempatkan keselamatan dan martabat warga sipil sebagai perhatian utama.

Di titik inilah pertemuan Pramono dan Al-Sattiri memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pertemuan protokoler.

Pertemuan tersebut menunjukkan, isu Palestina tetap memiliki resonansi kuat dalam politik Indonesia, sekaligus memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah dapat mengambil bagian dalam membangun solidaritas internasional melalui jalur kemanusiaan dan hubungan antarkota.

Hubungan Jakarta dengan Palestina sendiri bukanlah hubungan yang baru dibangun pada Agustus 2026.

Salah satu fondasinya adalah kerja sama sister city antara Jakarta dan Al-Quds Al-Sharif yang telah berlangsung sejak 21 Oktober 2007, sebuah hubungan yang memperlihatkan bahwa solidaritas Indonesia terhadap Palestina memiliki dimensi kelembagaan dan historis.

Kerja sama sister city tersebut penting untuk dibaca sebagai bagian dari perkembangan diplomasi kota atau city diplomacy. 

Dalam hubungan internasional kontemporer, kota tidak lagi hanya dipandang sebagai pelaksana kebijakan domestik, tetapi juga dapat menjadi aktor yang membangun jejaring internasional melalui kebudayaan, pendidikan, kemanusiaan, ekonomi, lingkungan, dan hubungan antarmasyarakat.

Jakarta karena itu memiliki modal simbolik kuat untuk memainkan peran tersebut dalam konteks Palestina. 

Sebagai ibu kota Indonesia, Jakarta membawa identitas politik Indonesia yang selama puluhan tahun memiliki kedekatan historis dengan perjuangan kemerdekaan Palestina, sekaligus memiliki kapasitas administratif dan jaringan masyarakat sipil yang dapat mendukung berbagai agenda kemanusiaan.

Pertemuan 6 Agustus 2026 juga memperlihatkan adanya komunikasi dua arah antara pemerintah daerah Indonesia dan representasi diplomatik Palestina. 

Pramono menyampaikan posisi serta komitmen Jakarta, sementara Al-Sattiri memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat Palestina, khususnya perkembangan situasi kemanusiaan di Gaza dan kerusakan infrastruktur di Tepi Barat.

Dalam konteks diplomasi, komunikasi semacam ini mempunyai arti penting karena seorang duta besar tidak hanya berfungsi menyampaikan kebijakan pemerintahnya kepada pemerintah negara penerima, tetapi juga membangun hubungan dengan aktor-aktor politik dan sosial di negara tersebut. 

Al-Sattiri, dalam pertemuannya dengan Pramono, secara tidak langsung memperluas ruang diplomasi Palestina dari pemerintah pusat Indonesia menuju salah satu pemerintahan daerah paling strategis di Indonesia.

Respons Al-Sattiri juga memperlihatkan dimensi emosional dari hubungan Indonesia-Palestina. 

Baca juga: Ketika Empati Mati di Kolom Komentar

Ia mengaku bahagia dan bangga dapat bertemu dengan Pramono serta menggambarkan pertemuan tersebut dengan ungkapan bahwa dirinya merasa telah menemukan seorang kakak, sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Palestina tidak selalu dibangun melalui bahasa diplomasi formal.

Lebih jauh, Al-Sattiri menyampaikan salam dari Presiden Palestina, pemerintah, dan rakyat Palestina kepada Pramono serta masyarakat Indonesia. 

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia juga menyampaikan ucapan selamat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, sehingga pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana simbolik yang mempertemukan dua pengalaman sejarah mengenai perjuangan kemerdekaan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sayembara Dedi Mulyadi Tangkap Begal Rp50 Juta Disorot, Pakar: Kurang Tepat | ROSI
• 23 jam lalu
0
thumb
Bulog Salurkan Bantuan Pangan untuk 37.338 Penerima di Alor, Setiap Keluarga Dapat 30 Kilogram Beras
• 5 jam lalu
0
thumb
Seskab Teddy: Anak Putus Sekolah Berani Bermimpi Besar di Sekolah Rakyat
• 4 jam lalu
0
thumb
Timnas Tersingkir dari Piala AFF 2026, Anggota DPR Minta Evaluasi Naturalisasi Pemain
• 19 jam lalu
0
thumb
Nikita Willy Rutin Bacakan Buku ke Anak Sebelum Tidur, Ini Manfaatnya
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.