Membawa Tumbler Bukan Solusi Jika Air Bersih Belum Mudah Diakses

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi tumbler. (CNBC Indonesia/Edward Ricardo)

Salah satu kalimat yang paling saya ingat selama belajar sustainability di Harvard University adalah, "Stop buying bottled water. Just drink tap water."

Baca: Mengapa Kemasan Sachet Menjadi Tantangan Besar bagi Sustainability RI?


Di banyak negara, nasihat itu terdengar sangat masuk akal. Air keran aman untuk diminum, tersedia hampir di mana saja, dan masyarakat terbiasa membawa botol minum isi ulang. Membeli air minum kemasan justru dianggap sebagai pilihan yang sebaiknya dihindari karena menghasilkan limbah plastik yang tidak perlu.

Namun, ketika saya kembali ke Indonesia, saya menyadari bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks. Dalam berbagai diskusi tentang sustainability, air bersih dipandang bukan sebagai komoditas, melainkan hak dasar setiap manusia.

Pandangan ini juga ditegaskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang pada tahun 2010 mengakui akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi sebagai hak asasi manusia. Sayangnya, memiliki hak tidak selalu berarti memiliki akses.

Hari ini kita sering mendorong masyarakat untuk membawa reusable bottle sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan. Anjuran tersebut tentu baik. Namun, sebuah pertanyaan penting sering kali terlewat. Setelah membawa botol minum, di mana masyarakat bisa mengisinya dengan air yang benar-benar aman untuk diminum?

Di banyak wilayah Indonesia, air keran masih belum menjadi sumber air minum yang dipercaya. Stasiun pengisian ulang air minum juga belum tersedia secara luas di ruang publik. Akibatnya, masyarakat tetap bergantung pada air minum dalam kemasan atau air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 menunjukkan bahwa hampir sepertiga rumah tangga di Indonesia masih menggunakan air isi ulang sebagai sumber utama air minum. Sebaliknya, rumah tangga yang menggunakan air ledeng sebagai sumber utama air minum jumlahnya bahkan belum mencapai 10 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju sistem air minum yang aman dan mudah diakses masih panjang. Dalam kondisi seperti ini, menyederhanakan persoalan menjadi sekadar perubahan perilaku individu justru berisiko mengabaikan akar masalah yang sesungguhnya.

Sustainability tidak hanya berbicara tentang pilihan individu, tetapi juga tentang sistem yang memungkinkan pilihan tersebut benar-benar dapat dilakukan. Jika masyarakat memiliki akses terhadap air keran yang aman, infrastruktur pengisian ulang tersedia dengan mudah, dan kualitas air terjamin, maka mengurangi konsumsi air minum kemasan akan menjadi pilihan yang jauh lebih realistis.

Namun selama infrastruktur tersebut belum tersedia secara merata, kita juga perlu memahami mengapa banyak orang masih bergantung pada air minum kemasan.
Karena itu, membangun sustainability tidak cukup hanya melalui kampanye perubahan perilaku. Investasi pada infrastruktur air bersih, peningkatan kualitas layanan air minum, perlindungan sumber daya air, serta pengendalian pencemaran harus menjadi bagian dari agenda yang sama pentingnya.

Pada akhirnya, sustainability bukan sekadar mengurangi sampah plastik. Sustainability juga berarti memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk membuat pilihan yang lebih berkelanjutan.

Sebab, air bersih bukanlah kemewahan. Air bersih adalah hak dasar. Dan selama hak tersebut belum dapat dinikmati secara setara, keberlanjutan akan selalu menjadi tujuan yang belum sepenuhnya tercapai.




(miq/miq)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ayah Lionel Messi, Jorge Messi Meninggal Dunia di Usia 68 Tahun
• 14 jam lalu
0
thumb
Garap Hutan dan Tutup Mata Air Secara Ilegal, Masyarakat Gasing Mengkendek Tana Toraja Usir Penggarap
• 20 jam lalu
0
thumb
Pramono Bakal Bongkar JPO Love and Hate di Rasuna Said yang Tak Tersambung ke LRT
• 4 jam lalu
0
thumb
Kabid Humas Polda Papua Angkat Bicara soal Penembakan di Festival Lembah Baliem | KOMPAS PAGI
• 5 jam lalu
0
thumb
Video: Bos OJK Ungkap Alasan Dorong Konsolidasi BPD dan BPR Milik Pemda
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.