SEANDAINYA Immanuel Kant hidup hari ini dan menghadiri sebuah rapat di Indonesia, mungkin ia tidak akan langsung berbicara.
Ia hanya akan mendengarkan. Filsuf dari Königsberg itu memperhatikan satu per satu peserta menyampaikan laporan.
Presentasi berlangsung baik. Data dipaparkan. Analisis disampaikan.
Namun setiap kali seseorang selesai berbicara, kalimat penutupnya selalu sama."Mohon arahan."
Orang berikutnya menyampaikan usulan. Kalimat penutupnya tidak berubah. "Mohon arahan." Begitu pula peserta berikutnya. Lagi. Dan lagi.
Pada kali keenam, Kant mulai terlihat gelisah. Ia mengangkat tangan. "Maaf," katanya, "apakah kalian semua belum tahu apa yang sebaiknya dilakukan?"
Ruangan mendadak hening. Seorang peserta tersenyum. "Kami tahu. Kami hanya menghormati pimpinan."
Kant mengangguk pelan. "Kalau kalian sudah mempelajari persoalannya, sudah memiliki pertimbangan, bahkan mengetahui apa yang menurut kalian paling baik, mengapa masih menunggu orang lain menentukan arahnya?"
Tidak ada yang menjawab.
Pengandaian itu tentu tidak pernah terjadi. Kant tidak datang ke Indonesia.
Baca juga: Ketika Empati Mati di Kolom Komentar
Namun, seandainya ia menyaksikan begitu akrabnya ungkapan "mohon arahan" dalam kehidupan kita, mungkin ia akan teringat pada semboyan yang dijadikannya moto Pencerahan: Sapere aude—beranilah menggunakan akal budimu sendiri.
Dalam esainya Was ist Aufklärung? (Apa Itu Pencerahan?), Kant mengatakan, manusia sering berada dalam keadaan Unmündigkeit—ketidakdewasaan.
Bukan karena mereka tidak memiliki akal budi, melainkan karena tidak berani menggunakannya tanpa tuntunan orang lain.
Tentu Kant tidak akan mempersoalkan ungkapan "mohon arahan" jika itu dimaksudkan sebagai permintaan nasihat kepada orang yang lebih berpengalaman.
Komentar (0)