Jakarta: Silaturahmi menjadi ruang bagi para pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai daerah untuk mempererat komunikasi sekaligus membahas keberlanjutan pengabdian organisasi. Dalam suasana tersebut, KH Abdul Hakim Mahfudz menyatakan kesiapannya menjalankan amanah apabila dipercaya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Hal itu disampaikan Abdul Hakim saat menghadiri silaturahmi bersama sejumlah pengurus cabang NU dari berbagai daerah di Jakarta. Ia menyebut pertemuan tersebut sebagai bagian dari tradisi NU yang tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pandangan.
“Sore ini kami silaturahmi. Setelah tadi siang ada acara mendengarkan PBNU mengenai Qanun Asasi dan ini masih banyak dari PC-PC seluruh Indonesia. Kita berkumpul secara silaturahmi. Ini tradisi NU, silaturahmi, berdiskusi,” kata Abdul Hakim di Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Baca Juga :
Kesuksesan Muktamar NU Didukung lewat Layanan KesehatanIa mengatakan, pengabdian di lingkungan NU tidak semata-mata ditentukan oleh posisi yang ditempati. Menurutnya, setiap kader memiliki kesempatan untuk memberikan manfaat sesuai dengan amanah yang diterimanya.
"Jadi kita berkhidmat di NU itu mau di posisi mana pun, kita bisa berkhidmat. Yang jadi pertimbangan itu bagaimana kita berkhidmat untuk menjadikan masyarakat lebih berkat," jelasnya.
KH Abdul Hakim Mahfudz saat menghadiri silaturahmi bersama sejumlah pengurus cabang NU dari berbagai daerah di Jakarta. Dokumentasi/ istimewa.
Abdul Hakim menekankan pentingnya meneruskan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para pendahulu NU. Baginya, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pengabdian di berbagai ruang kehidupan masyarakat.
Ketika ditanya mengenai kesiapannya jika mendapat penugasan untuk maju dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, Abdul Hakim memberikan jawaban singkat. Ia menyatakan kesediaannya menjalankan amanah apabila memang mendapat tugas tersebut.
"Siap. Siap. Lah wong sudah ditugaskan ya harus siap, kan," ungkapnya.
Baca Juga :
Muktamar NU Diharapkan Melahirkan Pemimpin yang Mampu Bawa PerubahanDukungan terhadap Abdul Hakim Mahfudz untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU disebut datang dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. KH Abdul Matin Jawahir mengatakan, pencalonan tersebut tidak berangkat dari ambisi pribadi Abdul Hakim untuk menduduki posisi Ketua Umum PBNU.
“Sedikit saya sampaikan, saat saya minta waktu di Lampung, beliau masih menolak untuk menjadi calon ketua umum,” ujar KH Abdul Matin Jawahir.
Menurutnya, Abdul Hakim pada awalnya tidak menghendaki posisi tersebut. Namun, setelah mendapatkan penugasan dan dukungan dari NU Jawa Timur, ia akhirnya bersedia menjalankan amanah organisasi.
Sikap tersebut dinilai mencerminkan semangat khidmah, dengan menempatkan kesiapan menjalankan tugas di atas kepentingan pribadi. Abdul Matin juga menyampaikan harapan agar dinamika organisasi tetap berlangsung dalam suasana yang teduh dan mengedepankan persatuan.
“NU teduh tanpa gaduh,” tegas KH Abdul Matin Jawahir.
Dengan demikian, dinamika pencalonan Ketua Umum PBNU tidak hanya menjadi pembahasan mengenai posisi kepemimpinan, tetapi juga menyangkut bagaimana tradisi silaturahmi, khidmah, dan persatuan tetap menjadi bagian dari perjalanan organisasi.





Komentar (0)