engeluaran bernilai kecil yang dilakukan berulang setiap hari dinilai menjadi salah satu penyebab utama terganggunya arus kas (cash flow) masyarakat. Di tengah kenaikan biaya hidup dan kebutuhan pokok, kebiasaan membeli kopi, memesan makanan secara daring, membayar parkir, transportasi, hingga langganan digital dapat menggerus kondisi keuangan jika tidak dipantau secara rutin.
Sebagai ilustrasi, secangkir kopi seharga Rp25.000 yang dibeli setiap hari kerja dapat menghabiskan sekitar Rp500.000 per bulan atau sekitar Rp6 juta dalam setahun. Nilai tersebut belum termasuk berbagai pengeluaran rutin lain yang dipotong secara otomatis.
Certified Financial Planner Melvin Mumpuni mengatakan persoalan utama masyarakat Indonesia bukan terletak pada besaran persentase menabung, melainkan kebiasaan menjadikan tabungan sebagai sisa dari pengeluaran.
"Kalau ditanya hasil tabungan itu berapa, menurut teori, 20%. Bukan persentasenya yang jadi concern saya, tapi yang jadi concern utama saya adalah prioritasnya. Karena orang Indonesia itu bukan masalah di persentase, masalahnya itu seringnya enggak ada karena ada sisanya," ujar Melvin dalam acara OVOFinTalk 2026 di Jakarta, dikutip Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, menjaga kesehatan keuangan sebaiknya diawali dengan mengevaluasi pola pengeluaran harian maupun bulanan. Langkah tersebut dinilai lebih efektif untuk mengidentifikasi sumber kebocoran anggaran dibanding hanya berfokus pada target persentase tabungan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan histori transaksi pada dompet digital untuk mengelompokkan pengeluaran berdasarkan kategori. Melalui pencatatan tersebut, masyarakat dapat mengetahui pos pengeluaran yang paling banyak menyerap dana sekaligus mengidentifikasi transaksi yang sebenarnya dapat dikurangi.
Selain mengevaluasi transaksi, Melvin menilai masyarakat perlu menyusun kembali skala prioritas pengeluaran. Kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan tagihan rutin sebaiknya didahulukan, sedangkan belanja hiburan maupun gaya hidup disesuaikan dengan kemampuan keuangan agar tidak mengganggu kondisi arus kas.
Baca Juga: Batas Kemiskinan Naik, Pengeluaran Rp3 Juta Kini Masih Dianggap Miskin
Baca Juga: OJK Siapkan 5 Jurus Baru Jaga Stabilitas Sistem Keuangan di Tengah Gejolak Global
Upaya tersebut dinilai semakin penting di tengah kondisi ekonomi yang dinamis dan meningkatnya biaya hidup, sehingga masyarakat memiliki ruang yang lebih besar untuk membangun dana darurat maupun tabungan jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, OVO memperkenalkan OVO Nabung by Superbank, fitur yang menggabungkan fungsi dompet digital dan tabungan sehingga pengguna dapat memantau transaksi sekaligus menyisihkan dana secara lebih praktis. Fitur tersebut menawarkan bunga hingga 5% per tahun sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.






Komentar (0)