BEKASI, KOMPAS.com – Ketika banyak prajurit memilih pulang setelah tugas di medan perang usai, Kolonel Inf (Purn) Deden Nugraha justru memilih tinggal lebih lama dalam dunia yang sama.
Bukan untuk kembali mengangkat senjata.
Melainkan untuk membantu mereka yang pulang dari perang dengan tubuh yang tak lagi utuh.
Setelah selamat dari Operasi Seroja di Timor-Timur dan melewati masa pemulihan akibat luka tembak yang nyaris merenggut nyawanya, Deden meninggalkan Bandung, kota tempat ia membangun karier militernya.
Baca juga: Luka Perang Tak Hilang, Deden Kini Berjuang agar Veteran Tak Dilupakan
Pada 1984, ia pindah ke Bekasi untuk mengabdikan diri membina para penyandang disabilitas korban Operasi Seroja di Pusat Rehabilitasi Cacat (PRC) Bintaro, Jakarta Selatan.
Keputusan itu kemudian membawanya menetap di Kompleks Wisma Seroja, Jalan Delima, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.
Kompleks tersebut hingga kini menjadi rumah bagi para veteran penyandang disabilitas dan keluarga prajurit yang gugur dalam Operasi Seroja.
"Waktu itu saya bertugas di Brigif 17 Kostrad Bandung, ada senior yang mengajak saya pindah ke sini karena beliau kewalahan membina orang-orang cacat korban Timor-Timur di pusat rehabilitasi. Akhirnya saya diminta membantu," ujar Deden kepada Kompas.com, Kamis (6/8/2026).
Saat itu, Deden sebenarnya sudah memiliki rumah sendiri, meski masih berstatus kredit.
Namun, ajakan untuk membantu sesama prajurit membuatnya berpikir ulang.
Ia akhirnya memilih berangkat ke Bekasi.
Bahkan, keputusan itu harus dibayar dengan konsekuensi lain. Jabatan yang diembannya turun dari posisi sebelumnya.
Baca juga: Veteran Seroja di Ujung Senja: Kami Hanya Ingin Pemerintah Menyapa
Bagi Deden, itu bukan persoalan besar.
"Dulu saya datang ke Jakarta jabatan saya turun. Tapi saya pikir enggak apa-apa, nanti juga naik lagi," ujarnya.
Memilih Merawat Mereka yang Pulang dari Perang
Di Pusat Rehabilitasi Cacat Bintaro, tugas Deden berubah.
Ia tak lagi memimpin pasukan di medan tempur.
Ia justru berhadapan dengan para prajurit yang baru saja pulang dari sana—dengan kaki yang hilang, tangan yang tak lagi utuh, atau tubuh yang menyimpan cacat permanen akibat perang.
Pusat rehabilitasi itu juga, menurut Deden, menampung warga sipil Timor-Timur yang terluka karena membantu operasi militer.
Mereka mendapatkan hak yang sama untuk menjalani rehabilitasi medis maupun pelatihan keterampilan.
"Mereka juga mendapat hak yang sama untuk direhabilitasi secara medis maupun keterampilan," katanya.
Baca juga: Yang Saya Temui di Timor Timur Hanya Bertempur, Cerita Soerito di Garis Depan
Bagi Deden, tugas tersebut terasa begitu dekat.
Ia tahu seperti apa rasanya ketika tubuh tiba-tiba kehilangan sebagian kemampuannya.
Pada penugasan keduanya di Timor-Timur pada 1978, Deden tertembak di bagian perut saat memimpin peleton dalam operasi di kawasan Gunung Matebian.
Peluru itu merobek usus dua belas jari dan sebagian usus halusnya hingga harus diangkat melalui operasi.






Komentar (0)