Oleh: HERMAN KAJANG
Sudah beberapa hari saya berada di Karbala. Entah sudah berapa kali keluar masuk menuju Haram Imam Husain, melewati gerbang yang sama, bercampur dalam lautan manusia yang tak pernah surut siang maupun malam.
Namun, baru hari itu pandangan saya benar-benar berhenti pada sebaris ayat yang dipahat indah di atas gerbang. Mungkin selama ini mata saya hanya sibuk mencari jalan menuju haram, sementara hati belum siap menangkap pesan yang sejak awal telah menunggu untuk dibaca.
Bukankah sering kali kita melewati begitu banyak tanda, tetapi baru mampu memahaminya ketika Allah mengizinkan hati untuk melihat?
Kami tiba di salah satu gerbang menuju Haram Imam Husain. Dari kejauhan, gerbang itu tampak seperti pintu masuk biasa. Namun, semakin dekat melangkah, mata saya tertumbuk pada sebaris kaligrafi yang membentang di atasnya.
Saya tidak memahami bahasa Arab. Huruf-huruf itu hanya tampak sebagai untaian indah yang menyimpan sesuatu yang belum saya ketahui. Langkah kami pun terhenti sejenak.
Ustaz pendamping memandang tulisan itu. Rupanya sepotong ayat Al-Qur’an Surat Al Hijr:46, lalu membacanya perlahan, “Udkhulūhā bisalāmin āminīn.”
Beliau kemudian menjelaskan dengan pendekatan irfani. Katanya, “hā” dalam Udkhulūhā adalah kata ganti orang ketiga. Karena kalimat itu dipahat tepat di gerbang Haram Imam Husain, ia seakan menunjuk kepada Imam Husain dan para syuhada Karbala yang bersemayam di dalamnya. Maka panggilan itu bukan lagi sekadar, “Masuklah ke dalamnya,” tetapi, “Masuklah ke dalam wilayah Husain dan para syuhada dengan damai dan aman.”
Beliau menambahkan satu makna yang lebih menggetarkan, “Masuklah ke dalam wilayah Amirul Mukminin, niscaya engkau akan memperoleh kedamaian dan keamanan.”
Saya terdiam. Saat itulah saya menyadari, betapa Al-Qur’an tidak pernah habis dipahami hanya melalui makna harfiahnya. Setiap ayat adalah samudra yang memiliki permukaan dan kedalaman. Semakin dalam menyelam, semakin banyak mutiara yang ditemukan. Itulah salah satu keindahan Al-Qur’an; lafaznya tetap, tetapi cahayanya terus memancar, menghadirkan hikmah sesuai ruang dan keadaan tanpa kehilangan makna asalnya.
Kalimat itu menancap begitu dalam. Saya mulai menyadari bahwa yang hendak kami masuki bukan sekadar bangunan berkubah, melainkan ruang kesyahidan; ruang tempat ruh-ruh suci bersemayam. Imam Husain menjadi porosnya, sementara para syuhada Karbala mengelilinginya dalam keabadian.
Gerbang itu bukan lagi sekadar pintu menuju sebuah tempat, melainkan pintu masuk sebuah jalan. Jalan yang mengajarkan bahwa damai bukanlah hidup tanpa cobaan, melainkan keteguhan berpihak kepada kebenaran. Itulah jalan Ahlul Bait, jalan yang diwasiatkan Rasulullah saw untuk diikuti umatnya, agar tidak tersesat dalam perjalanan hidup dan memperoleh keselamatan di dunia hingga akhirat.
Lalu kami melangkah. ….
Pemeriksaan keamanan berlangsung sangat ketat. Tas dipindai, tubuh diperiksa, setiap orang harus melewati beberapa lapis pengamanan. Di tengah lautan manusia yang datang dari berbagai bangsa, tidak ada seorang pun yang merasa keberatan. Semua memahami bahwa tempat yang menyimpan warisan terbesar perlawanan terhadap kezaliman memang harus dijaga dengan penuh kehormatan.
Setelah melewati pemeriksaan terakhir, langkah saya semakin pelan. Kubah emas itu akhirnya terbentang di hadapan mata. Di sanalah Imam Husain bersemayam bersama para syuhada Karbala.
Saat itu saya merasa, yang telah melewati gerbang itu bukan hanya tubuh, ada sesuatu yang tertinggal di luar bersama hiruk-pikuk dunia, dan ada sesuatu yang baru lahir di dalam dada. Saat itu saya memahami, ada gerbang yang hanya mengantarkan manusia ke sebuah tempat, tetapi ada pula gerbang yang mengantarkan manusia memasuki wilayah para pecinta Ahlul Bait, tempat jiwa belajar menemukan damai dan aman di bawah cahaya Husain.
Ya Aba Abdillah Husain, …..
Andai bukan karena kasih-Nya, mungkin saya hanya melewati gerbang itu tapi tak pernah benar-benar memasukinya.
Andai bukan karena kemuliaanmu si sisi-Nya, mungkin saya tak pernah mengerti mengapa sebaris ayat di atas gerbang itu mampu mengguncang batin. Inilah jalan Allah membukakan rahasia firman-Nya kepada hati-hati yang mencari.
Karbala, 7/8/2026
Penulis adalah pelanggan FAJAR






Komentar (0)