jpnn.com, BALIKPAPAN - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Timur menggelar 9th Borneo Forum 2026 pada 5–8 Agustus 2026 di Balikpapan.
Forum yang mengangkat tema “Resilience, Innovation, and Transformations: Empowering the Palm Oil Industry Beyond Sustainability” tersebut membahas berbagai tantangan dan peluang industri kelapa sawit nasional di tengah perubahan ekonomi, teknologi, serta tuntutan keberlanjutan.
BACA JUGA: BPDP Tantang Mahasiswa Bikin Riset yang Mendongkrak Produktivitas Sawit, Kakao, Kelapa
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menegaskan masa depan industri kelapa sawit akan semakin kuat apabila bertumpu pada tiga hal, yaitu ketahanan dalam menghadapi perubahan, keberanian menghadirkan inovasi, dan kemampuan melakukan transformasi.
“Oleh karenanya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong pengembangan industri hilir berbasis kelapa sawit. Kami ingin potensi yang dimiliki Kalimantan Timur memberikan nilai tambah yang semakin besar, memperkuat investasi, mengembangkan industri turunannya, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Seno Aji.
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Genteng dari Limbah Sawit dan Serabut Kelapa
Sementara itu, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan industri kelapa sawit telah berkali-kali membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008–2009, hingga pandemi COVID-19.
Menurutnya, di setiap periode sulit, sektor sawit justru tampil sebagai salah satu penyangga utama perekonomian nasional melalui kontribusi devisa yang besar sekaligus kemampuannya menjaga penyerapan tenaga kerja.
BACA JUGA: Polda Sumsel Ringkus 2 Pengedar Sabu-Sabu di Perkebunan Sawit Musi Rawas
“Pada masa pandemi, devisa sawit mencapai sekitar USD 39,2 miliar. Bahkan ketika banyak sektor melakukan PHK, industri sawit tetap membuka kesempatan kerja baru,” ungkapnya.
Eddy menambahkan peningkatan produktivitas petani plasma maupun swadaya harus menjadi fokus bersama agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar minyak sawit dunia.
Salah satu langkah strategis yang terus didorong adalah percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas kebun rakyat melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi, serta pendampingan yang berkelanjutan.
9th Borneo Forum yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini diselenggarakan pada 5-8 Agustus 2026 dengan menghadirkan rangkaian acara terdiri dari Golf Tournament, International Conference and Exhibition, serta diakhiri dengan GAPKI Run.
Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Timur, Rachmat Perdana Angga, menyampaikan bahwa pelaksanaan Borneo Forum diharapkan dapat memperkuat peran Kalimantan Timur dalam pengembangan industri kelapa sawit nasional.
“Borneo Forum menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan gagasan dan kolaborasi yang dapat mendukung kemajuan industri sawit Indonesia,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, GAPKI berharap kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dapat terus berkembang dalam menghadapi tantangan industri sawit yang semakin kompleks, baik di tingkat nasional maupun global. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kemendag Janji Stok MinyaKita Aman Meski Ada Penurunan DMO Sawit
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan





Komentar (0)