Komdigi Ungkap Anak Indonesia Gunakan Ponsel Habiskan 5-7 Jam Sehari

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com- Staf Khusus Menteri Bidang Pemuda dan Startup Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Alfreno Kautsar Ramadhan mengungkapkan bahwa anak-anak Indonesia menghabiskan waktu menggunakan ponsel (screen time) mencapai 5-7 jam sehari.

Alfreno menuturkan, Menkomdigi Meutya Hafid menunjukkan perhatian besar pada pengawasan ruang digital, terutama untuk melindungi anak.

"Teman-teman harus mengerti bahwa hari ini screen time anak-anak gitu ya, itu kurang lebih menyentuh 5 sampai 7 jam sehari. Ibu Menteri itu very much concerned terhadap pengawasan di ruang digital," ujar Alfreno dalam Hari Game Indonesia di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

Baca juga: Pasutri Jambret Ponsel Anak di Bawah Umur, Sang Suami: Untuk Beli Susu

Karena itu, pemerintah kini menerbitkan PP Tunas (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025) untuk melindungi anak di bawah usia 16 tahun dari risiko paparan internet.

Kendati demikian, persoalan bukan hanya adiksi berselancar di internet. Tetapi juga paparan gim online yang memicu kecanduan.

Menurut Alfreno, tidak semua gim diciptakan untuk tujuan belajar. Ada juga tim yang dibuat murni untuk hiburan semata.

"PP Tunas itu menargetkan platform, namun what if ada orang-orang yang sudah affected, mostly by games. Kita bisa lihat teman-teman bahwa enggak semua game itu edukasional," kata dia.

Baca juga: Pura-pura Pesan Makanan, Pria Bertopi Curi Ponsel Pegawai Warung di Kebon Jeruk

Jika anak-anak sudah terindikasi adiksi, Alfreno meminta masyarakat terutama para orang tua untuk memanfaatkan layanan konseling dan asesmen gratis Digital Addiction Response Assistance (DARA).

"Kami juga menyediakan platform DARA gitu, Digital Assistance gitu ya, it's a digital assistance untuk anak-anak yang mungkin sudah ada indikasi-indikasi adiksi ke ruang digital," tuturnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia berharap, para orang tua memahami bagaimana gejala anak-anak kecanduan gadget yang dapat dikenali melalui perubahan perilaku dan emosi.

"Kalau orang tua sudah ngerasa oh anaknya ini kurang lebih ternyata temperamen (emosi) atau mungkin mereka jadi sedikit kikuk (perilaku) gitu ya, enggak mau bersosialisasi dengan orang lain gitu. Nah ini kan tanda-tanda adiksi, nah kita kasih DARA," sambung dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Diperiksa di Kejagung, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dicecar Puluhan Pertanyaan
• 21 jam lalu
0
thumb
Ulasan Menyakitkan Jurnalis Vietnam Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026: Memalukan!
• 10 jam lalu
0
thumb
Ekonomi Politik Rendahnya Penetrasi Asuransi Indonesia
• 11 jam lalu
0
thumb
ATR/BPN Dorong Pendaftaran dan Pemetaan Seluruh Bidang Tanah untuk Perkuat Tata Kelola Pertanahan
• 56 menit lalu
0
thumb
Gempa Hari Ini M 5,0 Guncang Jepara, Pusat Getaran di Laut
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.