Keramaian malam perlahan menggema di Persimpangan Bambu Kuning, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Bising hadir, diisi suara kendaraan lalu bercampur dengan aktivitas warga yang melintas.
Di sela keriuhan itu, berdiri sebuah lapak sederhana milik Nafi Annisa, yang baru berusia 21 tahun, seorang ibu muda dan single parents. Sambil membawa putra kecilnya, penyandang tuna wicara ini menjaga lapaknya yang dihiasi makanan penuh warna.
Satu tangan Nafi Annisa menyusun sushi. Tangannya yang lain sesekali menopang tubuh Fatih Alayyubi, putranya yang baru berusia 2,5 tahun.
Pemandangan tersebut bukan kejadian sesekali. Hampir setiap hari, Fatih ikut menemani ibunya berjualan. Di balik lapak sederhana itu, ia berusaha memenuhi kebutuhan anaknya sekaligus membantu keluarganya.
Keputusan untuk berjualan datang ketika keluarganya menghadapi masalah. Ayah Nafi terkena stroke dan tidak lagi bisa bekerja.
Ibunya harus merawat sang ayah sekaligus mengurus bayi yang baru lahir. Sementara Hafshoh, adik Nafi yang berusia 14 tahun, masih bersekolah sesekali membantu ibu muda tersebut berjualan.
“Dia jualan sushi karena Ayah kena musibah stroke, jadi nggak bisa kerja, mama juga harus ngurus Ayah dan ada adik yang baru lahir. Jadi mau nggak mau Kakak jualan.” ujar Hafshoh adik Nafi, Sabtu (8/8).
Hafshoh menjadi orang yang banyak membantu Nafi, termasuk ketika berkomunikasi dengan pembeli.
Nafi sebelumnya sempat menikah, tetapi pernikahan itu berakhir dengan perceraian. Ia kemudian kembali tinggal bersama orang tua dan adiknya. Kondisi tersebut sudah dijalaninya sekitar empat tahun.
Lapak sushi menjadi salah satu jalan yang dipilih Nafi untuk bertahan. Ia mulai berjualan sekitar pukul 16.30 WIB dan biasanya baru selesai pukul 22.00 WIB.
Sushi dipilih setelah Nafi melihat makanan tersebut sedang ramai dan belum terlalu banyak dijual di sekitar lokasi. Ia mencoba mengambil peluang dari tren itu.
“Katanya sushi ini lagi naik, terus juga jarang. Jadi dia nyoba jualan ini.” kata Hafshoh saat menerjemahkan bahasa isyarat Nafi.
Saat ramai, omzet sehari bisa mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Ketika pembeli sepi, pendapatannya hanya sekitar Rp200 ribu.
Dari penghasilan itu, kebutuhan anak menjadi salah satu prioritas. Nafi juga berusaha membantu kebutuhan keluarganya.
Pernah ada pembeli yang menganggap Nafi judes karena tidak langsung menjawab atau menjelaskan pesanan. Padahal, Nafi memang mengalami kesulitan berbicara.
Hafshoh biasanya membantu menjelaskan apa yang ingin disampaikan kakaknya.
“Pernah ada yang komplain bilang, ‘Kok Kakak ini judes?’ Padahal Kakak memang susah bicara, jadi aku yang bantu menjelaskan.” jelasnya
Jika pembeli sangat ramai, ada seorang karyawan yang membantu. Pada hari biasa, Nafi menjaga lapak bersama Hafshoh, sekaligus Fatih tetap menjadi bagian dari rutinitas itu.
Bukan karena ia sengaja ingin membawa anaknya bekerja, tetapi karena di rumah ada banyak hal yang juga harus ditangani keluarganya.
Ibunya harus mengurus ayah yang sakit dan bayi yang baru lahir. Karena itu, pekerjaan dan pengasuhan anak berjalan bersamaan.
Bagi Nafi, alasan untuk terus berjualan sebenarnya sederhana yakni "Anaknya".
“Motivasi dia dagang tuh anaknya, buat masa depan anaknya juga, buat bantu-bantu keluarga.” ucapnya.
Malam semakin larut. Pesanan mulai berkurang. Lapak yang sejak sore sibuk melayani pembeli perlahan kembali tenang.
Nafi masih berada di sana bersama Fatih. Besok sore, ia akan kembali ke tempat yang sama.
Membawa bahan jualan. Menata sushi. Melayani pembeli. Dan kembali mengurus putranya di sela-sela pekerjaan.
Lapaknya sederhana. Penghasilannya juga tidak selalu besar. Tetapi dari sanalah Nafi mencoba menjaga kebutuhan anaknya sekaligus membantu keluarga yang sedang menghadapi masa sulit.
Di tengah riuh kendaraan Persimpangan Bambu Kuning, Nafi memilih tetap bekerja. Bukan karena jalannya mudah.
Tetapi karena ada anak yang harus ia besarkan dan keluarga yang masih membutuhkan bantuannya.






Komentar (0)