Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena kamp kecerdasan finansial (FQ) kini tengah digilai para orang tua yang ingin mencetak sosok 'Warren Buffett' cilik sejak dini. Demi memupuk mental wirausaha anak di tengah kekhawatiran masa depan, banyak keluarga yang rela mengantre dan merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah.
Mengutip South China Morning Post, pelatihan FQ ini biasanya berlangsung selama 7 hingga 10 hari. Biaya pendaftarannya dibanderol mulai dari US$1.900 atau sekitar Rp34 juta per anak, dengan antrean pemesanan tempat yang kerap terisi penuh beberapa bulan sebelum kelas dimulai.
Slogan-slogan motivasi seperti "Kemiskinan bukanlah status, melainkan pola pikir" sering terdengar di ruang pelatihan. Di dalam kelas, para peserta diajarkan dasar-dasar literasi keuangan, pengelolaan harta, hingga simulasi bisnis terapan.
Saking populernya, banyak orang tua yang harus memesan tempat dari beberapa bulan sebelum kelas dimulai.
Salah satunya adalah Daxiang Teenage FQ Summer Camp. Di sana, para instruktur mensimulasikan pasar saham, pertemuan investor, dan skenario perdagangan. Para peserta dibimbing untuk mengevaluasi keuntungan dan kerugian di setiap penghujung hari.
Kamp lainnya, FQ Little General, menggelar kegiatan di mana peserta mengidentifikasi peluang bisnis potensial, menjual barang-barang kecil di kios jalanan, membuat rencana bisnis, dan menyiapkan laporan keuangan.
Selain sesi pelatihan FQ dasar ini, beberapa kamp menawarkan program lanjutan dengan harga yang lebih tinggi. Program ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan atau kewirausahaan di bidang STEM.
May, seorang ibu di Provinsi Zhejiang, mengaku putrinya mengalami perubahan positif setelah mengikuti kamp tersebut. Putrinya yang dulu malas kini menjadi jauh lebih fokus belajar karena memiliki tujuan jelas untuk menghasilkan uang.
Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang khawatir anak-anak mereka menjadi terlalu berorientasi pada uang. Beberapa peserta dilaporkan mulai meminta imbalan finansial kepada orang tua mereka setiap kali menyelesaikan tugas sekolah atau pekerjaan rumah tangga.
Kritik tajam juga datang dari seorang ibu di Henan yang menilai kamp tersebut memberikan ilusi kesuksesan yang instan. Ia mengingatkan bahwa di dunia nyata mayoritas bisnis rintisan mengalami kegagalan, sehingga simulasi kamp FQ dianggap tidak mencerminkan tantangan dunia usaha yang sebenarnya.
(pgr/pgr)





Komentar (0)