Capaian ASI Eksklusif Masih 52 Persen, Dukungan bagi Ibu Perlu Diperkuat

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Capaian pemberian air susu ibu di Indonesia baru mencapai 52 persen pada 2024. Kesenjangan ini dipengaruhi minimnya pendampingan, ibu yang kembali bekerja, serta informasi menyesatkan. Penguatan sistem kesehatan, perlindungan ibu, kebijakan, dan dukungan tempat kerja diperlukan untuk meningkatkan cakupan ASI.

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Naomi Esthernita menyampaikan, capaian pemberian ASI secara global masih berada di bawah target yang ditetapkan. Saat ini 46 persen dari populasi bayi mendapat ASI awal kehidupan dari target 70 persen. Sementara pemberian ASI enam bulan pertama baru 48 persen dari target 70 persen.

Kemudian pemberian ASI hingga berusia satu tahun secara global mencapai 71 persen, masih di bawah target 80 persen. Adapun pemberian ASI hingga usia dua tahun baru mencapai 45 persen, sehingga menunjukkan kecenderungan penurunan seiring bertambahnya usia anak.

“Untuk Indonesia sendiri ada sedikit peningkatan, tapi belum merata. Kalau pada tahun 2017 rata-ratanya 66,4 persen, pada tahun 2024 sekitar 52 persen,” ujarnya dalam diskusi media memeringati puncak perayaan Pekan ASI Sedunia 2026 di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (8/8/2026).

Menurut Naomi, pemberian ASI memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan bayi, baik secara fisik, mental, maupun kognitif. Manfaat pemberian ASI juga dirasakan oleh ibu, termasuk meningkatkan kesehatan dan membantu mencegah berbagai penyakit.

Manfaat menyusui tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan perekonomian secara global. Pemberian ASI juga berpotensi menekan biaya layanan kesehatan (health care) karena mendukung kesehatan ibu dan anak.

Baca JugaIbu Kembali Bekerja Jadi Tantangan Cakupan ASI Eksklusif

Salah satu tantangan dalam meningkatkan pemberian ASI yakni terbatasnya pendampingan dan dukungan bagi ibu menyusui. Tidak semua ibu yang mengalami kesulitan mendapatkan bimbingan atau pendampingan yang memadai selama proses menyusui.

Promosi dan pemberitaan di media berperan penting dalam mendukung pemberian ASI. Di sisi lain, hal ini bisa memberikan pengaruh sebaliknya jika informasi yang disampaikan tidak tepat.

Tantangan lainnya yakni ketika ibu kembali bekerja. Banyak ibu yang berhenti menyusui setelah kembali bekerja. Naomi menyebutkan, berdasarkan sebuah penelitian, 45 persen kegagalan pemberian ASI eksklusif berkaitan dengan ibu yang kembali bekerja.

Selain itu, menurut Naomi, informasi yang menyesatkan (misleading) terkait pemberian ASI eksklusif menjadi tantangan lainnya. Di satu sisi, promosi dan pemberitaan di media berperan penting dalam mendukung pemberian ASI. Di sisi lain, hal ini bisa memberikan pengaruh sebaliknya jika informasi yang disampaikan tidak tepat.

Naomi menekankan, upaya meningkatkan pemberian ASI perlu dilakukan dengan memperkuat sistem yang sudah berjalan. Mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penguatan itu mencakup sistem kesehatan, perlindungan maternal, kebijakan, dan peran media massa.

Upaya penguatan

Dari sisi sistem kesehatan, salah satu upaya yang dilakukan melalui Baby-Friendly Hospital Initiative (BFI) yang memiliki 10 langkah untuk melindungi, mendukung, dan mempromosikan pemberian ASI. Peran rumah sakit juga penting, termasuk melalui konseling menyusui sejak masa antenatal, saat persalinan, hingga setelah melahirkan.

Selain itu, perlindungan maternal perlu diperkuat melalui pemberian cuti melahirkan berbayar dan penyediaan lingkungan kerja yang ramah bagi ibu menyusui. Tempat kerja tak cukup hanya menyediakan fasilitas menyusui, tapi juga perlu memberikan dukungan dan kesempatan bagi ibu untuk memerah serta menyimpan ASI.

Penguatan kebijakan dan media massa juga diperlukan antara lain melalui kampanye tentang menyusui dan penerapan kode internasional mengenai pemasaran susu formula.

Hasil riset menunjukkan, promosi ASI oleh media massa dapat meningkatkan pemberian ASI eksklusif sebesar 17 persen. Sementara penerapan kode pemasaran yang baik dapat meningkatkan angka ASI eksklusif hingga 54 persen.

“ Jadi, ini adalah hal-hal baik yang sebenarnya sudah ada, hanya saja kita belum maksimal. Dengan tema Pekan ASI Sedunia tahun ini, kita berharap dapat memaksimalkan hal-hal yang sudah terbukti baik,” kata Naomi.

Persiapan sejak masa kehamilan

Menurut Direktur RSUI Depok Ari Kusuma Januarto, keberhasilan pemberian ASI tidak hanya ditentukan saat persalinan, tetapi perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan. Semua tenaga kesehatan seperti dokter kandungan, dokter umum, dan bidan berperan penting memberikan edukasi serta dukungan yang tepat agar ibu siap menyusui.

Baca JugaPemberian ASI Eksklusif Tekan Biaya Kesehatan

Sebagai rumah sakit pendidikan UI, Ari menyebut RSUI berkomitmen terus memperkuat peran dalam mendukung kesehatan ibu dan anak, termasuk mendorong pemberian ASI. Meski baru berusia tujuh tahun, RSUI didukung tenaga medis, termasuk dokter anak, yang konsisten memberikan pendampingan.

Ari menegaskan, keberhasilan pemberian ASI membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, tempat kerja, dan lingkungan pendidikan. Komitmen tersebut diwujudkan RSUI melalui keberadaan tim laktasi yang memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu menyusui.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Titik Kebakaran Gedung Bapenda DKI Diduga Berasal dari Ruang Server Lantai 11
• 6 jam lalu
0
thumb
Perkuat Kolaborasi dan Inovasi, MGBKGI Gelar Kongres Nasional Perdana di Unhas
• 22 jam lalu
0
thumb
Persija Jakarta umumkan susunan tim kepelatihan untuk musim 2026/2027
• 12 jam lalu
0
thumb
Saratoga (SRTG) Lepas 4,87 Juta Saham Treasuri Pekan Depan
• 3 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Gedung Bapenda DKI Masuk Tahap Pendinginan
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.