SPENSARIO: Ketika Alumni Tak Cukup Hanya Bernostalgia

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Armin Amri

Kalau sudah bicara alumni, biasanya ada tiga hal yang paling cepat muncul: foto lama, nama panggilan yang seharusnya sudah dikubur sejak SMP, dan pertanyaan paling berbahaya: “Masih ingat saya?”

Pertanyaan terakhir ini kadang lebih sulit daripada ujian matematika.
Salah jawab, dianggap sombong. Mengaku lupa, persahabatan puluhan tahun terancam masuk ruang ICU. Terpaksa pasang wajah penuh keyakinan sambil menjawab, “Iyalah, masa saya lupa!”

Padahal otak sedang bekerja keras membuka arsip masa sekolah.
Begitulah alumni.

Umur boleh bertambah. Jabatan boleh berubah. Rambut pun boleh mengalami restrukturisasi besar-besaran—sebagian bertahan, sebagian memilih pensiun dini. Tetapi begitu bertemu teman sekolah, pangkat dan gelar akademik biasanya mendadak kehilangan kewibawaan.

Yang kolonel bisa mendadak menjadi teman sebangku.
Yang doktor pun, kalau dahulu pernah terlambat masuk kelas, sejarah itu biasanya lebih awet daripada ijazahnya.

Masa lalu memang susah diajak kompromi.
Barangkali itulah salah satu keajaiban almamater.

SMP Negeri 1 Marioriwawo juga memiliki cerita seperti itu. Alumni tersebar ke berbagai angkatan, profesi, dan tempat pengabdian. Ada yang berkecimpung di dunia pendidikan, pemerintahan, militer, usaha, seni, dan berbagai profesi lainnya.
Jalannya berbeda-beda, tetapi ada satu nama yang membuat semuanya kembali ke halaman yang sama: SPENSARIO.

Nama sederhana, tetapi daya panggilnya panjang.
Sebab almamater memang aneh. Kita meninggalkan sekolah bertahun-tahun lalu, tetapi sekolah rupanya tidak benar-benar meninggalkan kita.

Mungkin karena itulah Ikatan Alumni SMP Negeri 1 Marioriwawo (IKA SPENSARIO) merasa perlu mempunyai identitas yang mampu mengikat berbagai generasi tersebut.

Bukan sekadar grup WhatsApp. Sebab kalau ukuran kekompakan organisasi hanya berdasarkan grup WhatsApp, hampir seluruh masyarakat Indonesia sudah memenuhi syarat menjadi organisasi internasional.

Anggotanya ratusan.
Yang aktif bicara dua belas orang.
Yang membaca diam-diam seratus orang.
Sisanya baru muncul ketika ada ucapan:
“Selamat ulang tahun, panjang umur dan sehat selalu.”
Lalu semua serentak keluar dari persembunyian.

Atas permintaan khusus IKA SPENSARIO di bawah kepemimpinan Ketua Umum Kolonel Inf. Purn. Haryadi Saleh, M.Si., lahirlah gagasan menghadirkan Logo dan Mars IKA SPENSARIO sebagai identitas resmi organisasi.
Saya kebetulan mendapat kepercayaan untuk mengerjakannya.
Bagi saya, tugas itu terasa berbeda.

Saya memang sehari-hari berkecimpung sebagai dosen STIE Nusantara dan praktisi seni. Saat ini saya juga sedang menyelesaikan program doktor di Universitas Hasanuddin (UNHAS). Dalam aktivitas seni, saya beberapa kali terlibat sebagai juri perlombaan dan pembicara pada forum ilmiah, terutama yang berkaitan dengan seni dan kajian ekonomi kreatif.

Tetapi mengerjakan sesuatu untuk almamater sendiri mempunyai urusan emosional yang lain.

Sebab yang sedang dirancang bukan sekadar gambar.
Yang hendak diberi bentuk adalah ingatan.
Dan ingatan alumni itu barang rumit.
Salah sedikit memilih simbol, bisa-bisa rapat filosofinya lebih panjang daripada proses menggambarnya.
“Kenapa lingkaran?”
“Kenapa jabat tangan?”
“Kenapa Lontara?”
Untung tidak ada yang bertanya:
“Kenapa dulu saya tidak naik kelas?”

Yang terakhir itu sudah bukan wilayah desain grafis. Itu kewenangan sejarah.
Logo SPENSARIO akhirnya mengusung konsep persaudaraan alumni lintas angkatan, dengan memadukan identitas sekolah, budaya Bugis, dan semangat kolaborasi.
Bentuk lingkaran dipilih untuk menggambarkan persatuan, kesinambungan, dan ikatan kekeluargaan yang tidak terputus oleh perbedaan generasi.

Lingkaran memang bentuk yang menarik.

Tidak punya ujung.
Tidak punya pangkal.
Mirip cerita reuni alumni. Mulai dari “ingat tidak dulu…” tahu-tahu tiga jam kemudian masih membahas orang yang sama.

Di dalam logo itu hadir pula ilustrasi tokoh budaya yang merepresentasikan keberanian, karakter, keteguhan, dan kepemimpinan. Nilai tersebut menjadi harapan agar alumni SPENSARIO tidak sekadar berhasil dalam profesinya masing-masing, tetapi juga memiliki karakter dan keberanian mengambil peran positif di tengah masyarakat.

Kemudian ada tulisan SPENSARIO.
Bagi orang lain, mungkin hanya sebuah nama.
Bagi alumni, ia bisa berubah menjadi mesin waktu.

Satu kata itu dapat membawa seseorang kembali kepada ruang kelas, halaman sekolah, teman sebangku, guru, upacara Senin pagi, sampai kisah-kisah yang dahulu dianggap biasa tetapi sekarang justru paling dirindukan.
Ada pula unsur aksara dan motif Lontara.
Ini penting.

Sebab organisasi alumni boleh bergerak mengikuti zaman, tetapi jangan sampai bergerak terlalu jauh hingga lupa dari tanah budaya mana ia tumbuh.
Lontara menjadi penanda akar budaya Bugis yang melekat pada lingkungan sosial dan kebudayaan tempat SMP Negeri 1 Marioriwawo tumbuh dan berkembang.
Sementara simbol jabat tangan merepresentasikan solidaritas, kepercayaan, gotong royong, persaudaraan, dan komitmen untuk saling mendukung.
Jabat tangan ini tentu bukan jabat tangan menjelang pemilihan ketua.
Kalau itu biasanya lebih erat lagi.
Apalagi kalau suara masih kurang tiga.
He-he-he.

Tetapi organisasi alumni memang seharusnya tidak berhenti pada simbol.
Karena logo yang paling bagus sekalipun akhirnya hanya menjadi gambar kalau nilai di dalamnya tidak hidup dalam perilaku anggotanya.

Persaudaraan tidak cukup dicetak di spanduk.
Solidaritas tidak selesai dengan memasang logo di baju.
Dan kebersamaan tidak bisa diukur dari seberapa ramai foto setelah acara selesai.
Di situlah Mars SPENSARIO menemukan pasangannya.
Kalau logo berbicara melalui mata, mars berbicara melalui suara.

Dalam proses penulisan dan penggarapan Mars SPENSARIO, saya juga mendapat bantuan dari Mario Mandala. Kolaborasi ini menjadi bagian dari proses kreatif untuk menerjemahkan semangat persaudaraan alumni ke dalam bahasa musikal.
Sebab menulis mars ternyata bukan sekadar mencari nada yang enak didengar.
Ada semangat yang harus dibunyikan.
Ada identitas yang harus terasa.
Ada kebanggaan yang harus hadir.
Dan—yang paling penting—jangan sampai setelah dua kali dinyanyikan, alumninya malah lupa melodinya.

Mars SPENSARIO kemudian dirancang dengan karakter energik, tegas, heroik, dan optimistis, tetapi tetap membawa suasana persaudaraan dan kebanggaan terhadap almamater. Gerak ritmisnya membawa semangat untuk maju, sementara melodinya dibangun agar menghadirkan rasa kebersamaan ketika dinyanyikan bersama.

Dalam proses penciptaannya, Mars SPENSARIO ditulis dan diciptakan oleh Armin Amri, dengan aransemen musik oleh Mario Mandala. Kolaborasi keduanya kemudian menerjemahkan semangat persaudaraan alumni ke dalam bahasa musikal: lirik membawa pesan dan identitas SPENSARIO, sementara aransemen musik memberi warna, dinamika, dan energi agar pesan tersebut hidup ketika dinyanyikan bersama.
Mars memang punya kekuatan yang unik.

Orang yang tadinya duduk santai bisa tiba-tiba berdiri tegak.
Yang tadinya sibuk melihat telepon genggam mendadak ikut bernyanyi.
Yang tidak hafal lirik biasanya menggunakan teknik paling aman: membuka mulut mengikuti vokal sebelah.

Selama ekspresi wajah meyakinkan, insyaallah tidak ketahuan.
Tetapi justru di situlah maknanya.
Mars mempertemukan banyak suara menjadi satu.
Bukan berarti semua alumni harus berpikir sama.
Tidak mungkin.

Dalam satu keluarga saja memilih tempat makan kadang membutuhkan musyawarah tingkat tinggi, apalagi organisasi alumni lintas generasi.
Yang dibutuhkan bukan keseragaman, melainkan kesediaan berjalan bersama meskipun berbeda.

Ketua Umum IKA SPENSARIO, Kolonel Inf. Purn. Heryadi Saleh, M.Si., menyambut baik kehadiran logo dan mars tersebut. Baginya, sebuah organisasi alumni membutuhkan identitas yang tidak hanya mudah dikenali, tetapi juga mampu merepresentasikan kebersamaan dan ikatan emosional seluruh anggotanya terhadap almamater.

SPENSARIO diharapkan menjadi rumah besar yang mempertemukan alumni dari berbagai angkatan, profesi, dan tempat pengabdian.
Bukan sekadar tempat mengingat masa lalu, melainkan ruang untuk membangun masa depan.

Karena itu, Logo dan Mars SPENSARIO diharapkan hadir dalam berbagai kegiatan resmi organisasi, atribut alumni, kegiatan sosial, reuni, pertemuan lintas angkatan, hingga media komunikasi dan publikasi IKA SPENSARIO.

Tetapi pekerjaan sebenarnya tentu baru dimulai setelah logo selesai dibuat dan mars selesai dinyanyikan.

Sebab tantangan organisasi alumni bukan bagaimana membuat orang mengenakan logo yang sama.

Yang jauh lebih sulit adalah bagaimana membuat mereka mempunyai rasa memiliki yang sama.

Bukan pula bagaimana membuat ratusan orang menyanyikan mars dalam satu ruangan.
Yang lebih penting adalah bagaimana semangat yang dinyanyikan itu tetap terdengar setelah acara selesai dan semua orang pulang ke rumah.

IKA SPENSARIO karena itu tidak seharusnya berhenti menjadi museum kenangan masa sekolah.

Nostalgia memang menyenangkan.
Kita boleh tertawa mengenang siapa yang dahulu paling sering terlambat, siapa yang paling takut dipanggil guru, atau siapa yang tulisannya paling rajin menghiasi meja kelas.

Tetapi alumni mempunyai modal yang jauh lebih besar daripada sekadar kenangan.
Ada pengalaman.
Ada jejaring.
Ada profesi.
Ada pengetahuan.

Dan ada kemampuan untuk kembali memberi sesuatu kepada sekolah, masyarakat, serta daerah yang dahulu ikut membesarkan kita.

Itulah sebabnya semangat SPENSARIO diarahkan kepada silaturahmi, kolaborasi, kepedulian sosial, serta kontribusi nyata alumni, termasuk membantu pemerintah daerah dalam pembangunan, khususnya bidang pendidikan.

Pada akhirnya saya semakin memahami bahwa membuat logo ternyata jauh lebih mudah daripada menjaga makna di belakangnya.
Lingkaran bisa selesai digambar dalam satu desain.
Tetapi persatuan harus dirawat bertahun-tahun.
Jabat tangan bisa dibuat dalam beberapa garis.

Tetapi solidaritas membutuhkan kesediaan untuk benar-benar saling membantu.
Mars dapat selesai dalam beberapa menit ketika dinyanyikan.
Tetapi persaudaraan seharusnya tidak ikut selesai ketika musik berhenti.
Mungkin itulah makna paling penting dari persembahan kecil ini.
Kita boleh berbeda angkatan.
Berbeda profesi.
Berbeda tempat pengabdian.
Bahkan mungkin berbeda jumlah rambut yang masih bertahan sejak masa SMP.

Tetapi ada satu sejarah yang tidak bisa kita ganti:
Kita pernah tumbuh dari almamater yang sama.
Dan suatu hari, ketika usia membuat nama teman mulai samar dalam ingatan, mudah-mudahan satu kata masih cukup kuat membuat kita saling mengenali:
SPENSARIO.

Sebab sekolah mungkin hanya kita tempati beberapa tahun.
Tetapi persaudaraan yang lahir darinya jangan sampai ikut menerima ijazah kelulusan.
SPENSARIO — Lintas Angkatan, Satu Persaudaraan, Satu Almamater.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, Luciano Leandro: Semangat Saja Tidak Cukup
• 5 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Gedung Bapenda Jakpus Masih Berkobar, Benda-benda Berjatuhan
• 18 jam lalu
0
thumb
Sekjen ATR/BPN: Pemetaan bidang tanah perkuat tata kelola pertanahan
• 1 jam lalu
0
thumb
Usai Kebakaran, Petugas Lakukan Pendinginan Gedung Bapenda DKI
• 8 jam lalu
0
thumb
Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bakal Teken Pakta Pertahanan Trilateral
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.