Ketika hasil tangkapan nelayan terus menurun, harapan warga di pesisir Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, bertumpu pada tangan-tangan para perempuan. Mereka mengembangkan usaha olahan hasil laut sebagai sumber penghasilan alternatif. Di balik ikhtiar itu, tersimpan persoalan panjang yang hingga kini masih diperdebatkan penyebabnya dan menunggu penyelesaian.
Belasan perempuan meriung di sebuah ruangan di dalam gedung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Jepara, Senin (18/5/2026) siang. Di hadapan mereka, terdapat berbagai macam olahan ikan dan hasil laut, seperti kerupuk ikan, abon lele, abon tuna, otak-otak ikan, dan lain-lain.
Sebagian orang tampak sibuk menimbang produk olahan tersebut, sedangkan sebagian lagi membungkus produk-produk itu. Yang lain tampak cekatan menata olahan-olahan ikan dan hasil laut itu, lalu memisahkannya sesuai pesanan.
"Ini kami sedang menyiapkan pesanan tetangga, mau dibawa untuk oleh-oleh ke Kalimantan katanya," ucap salah satu dari perempuan itu sembari tersenyum lebar.
Para perempuan tersebut merupakan anggota Koperasi Berkah Laut. Sekitar 10 tahun terakhir, mereka melakoni kegiatan pengolahan ikan dan hasil laut untuk menopang ekonomi keluarga.
Meski desa itu berbatasan langsung dengan laut, hasil laut maupun ikan yang mereka olah tak semuanya merupakan tangkapan nelayan setempat. Bahan baku olahan itu kebanyakan merupakan hasil budidaya nelayan atau didatangkan dari wilayah lain. Semua itu terjadi karena tangkapan ikan dan hasil laut para nelayan di desa itu terus merosot.
Ketua Koperasi Berkah Laut, Tri Ismuyati (46), mengatakan, para nelayan di desanya menghadapi persoalan pelik selama bertahun-tahun. Dia menyebut, hal itu bermula sekitar tahun 2006, ketika kapal-kapal tongkang pengangkut batubara mulai hilir mudik di perairan yang menjadi wilayah tangkap nelayan setempat.
Tak jarang, muatan batubara yang disebut dibawa ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B di Kecamatan Kembang, Jepara, itu tercecer di jalur nelayan. Tri menyebut, kondisi itu membuat jaring atau alat tangkap milik para nelayan rusak.
Selain merusak alat tangkap, batubara yang jatuh ke perairan berpotensi memicu kerusakan terumbu karang. Padahal, terumbu karang merupakan habitat bagi biota laut, mulai dari ikan, kepiting, cumi-cumi dan lain-lain. Akibatnya, biota laut tersebut diduga berpindah ke lokasi lain yang berada jauh dari lokasi sebelumnya.
Sekitar tahun 2011, cobaan bagi para nelayan bertambah. Para nelayan harus berhadapan dengan kegiatan penambangan pasir besi di sekitar wilayah tangkap mereka. Aktivitas ekstraktif yang dilakukan oleh salah satu perusahaan itu dinilai semakin merusak dan mencemari laut.
Kondisi kian memburuk pada tahun 2012 saat perusahaan lain masuk untuk menambang pasir besi. Tak mau semakin merugi, warga lantas melawan. Meski kala itu aktivitas penambangan pasir di wilayah tersebut akhirnya berhenti, warga harus membayar mahal. Belasaan orang yang waktu itu dianggap menghalangi aktivitas perusahaan mendapatkan ganjaran berupa hukuman penjara.
Hingga kini, kerusakan akibat penambangan pasir besi di Donorojo disebut warga masih belum bisa dipulihkan sepenuhnya. Namun, setidaknya aktivitas itu sudah berakhir. Yang masih menjadi kekhawatiran warga adalah hilir mudik kapal tongkang pengangkut batubara.
"Kapal tongkang itu lewat setiap hari, dari pinggir pantai sudah kelihatan karena besar-besar sekali. Dulu mungkin agak jauh, sekarang sering lewat pinggir, sekitar 5 mil dari bibir pantai," kata Tri.
Penurunan hasil tangkapan nelayan juga dikeluhkan oleh istri nelayan lain di Bandungharjo, Ayu Saputri (33). Seingat Ayu, hasil tangkapan suaminya mulai seret pada tahun 2011. Jika biasanya suami Ayu bisa membawa hasil tangkapan sekitar 1 ton per hari, rata-rata hasil tangkapan kala itu paling banyak 50 kilogram.
Seiring berjalannya waktu, kondisi itu tak kunjung pulih, malah tambah buruk. Bahkan, kini, suami Ayu lebih sering pulang tanpa membawa hasil apapun.
Menurut Ayu, suaminya telah mencoba memperluas area pencarian ikan dari yang dulu sekira 20 menit dari bibir pantai menjadi hingga 2 jam. Namun, upaya itu tak juga berhasil, biota laut semakin sulit ditemukan.
"Dengan kondisi tidak ada pemasukan seperti itu, kami para perempuan mau tidak mau harus utang untuk bertahan hidup. Banyak dari kami yang akhirnya terjerat utang di bank keliling yang bunganya sangat mencekik," ujar Ayu.
Beruntung Ayu ditawari untuk bergabung dalam Koperasi Berkah Laut. Dari kegiatan di koperasi itu, Ayu bisa membawa uang Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per hari. Uang itu cukup membantu keluarga Ayu bertahan sehar-hari.
Tak hanya mengandalkan aktivitas di koperasi, Ayu juga mulai merintis usaha penjualan makanan dan minuman di rumahnya. Karena itu, saat pesanan di koperasi sedang sepi, Ayu tetap mendapat pemasukan.
Tri, Ayu, dan para istri nelayan di Bandungharjo berharap, pemerintah bisa membantu mengatasi masalah yang mereka alami. Mereka juga berharap pemerintah bisa menyalurkan bantuan untuk meringankan beban para nelayan, misalnya subsidi bahan bakar untuk kapal, bantuan berupa alat tangkap, dan pelatihan peningkatan kapasitas nelayan.
Dengan kondisi tidak ada pemasukan seperti itu, kami para perempuan mau tidak mau harus utang untuk bertahan hidup. Banyak dari kami yang akhirnya terjerat utang di bank keliling yang bunganya sangat mencekik
Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Benediktus Danang Setianto, menyebut, aktivitas PLTU berpotensi menimbulkan dampak bagi lingkungan. Dalam pembangunan PLTU yang memerlukan lahan luas, misalnya, berpotensi terjadi alih fungsi lahan yang memicu hilangnya vegetasi penahan air maupun penahan erosi.
Oleh karena operasional PLTU memerlukan air yang melimpah, Benediktus yang karib disapa Benny menyebut, biasanya PLTU dibangun di wilayah pesisir. Konsekuensinya, suhu air di sekitarnya berpotensi meningkat.
Benny menyebut, peningkatan suhu air itu berpotensi berdampak pada ekosistem laut, misalnya menyingkirnya biota laut. Maka, di sejumlah tempat, para nelayan yang hidup di sekitar PLTU mengeluhkan kondisi merosotnya tangkapan mereka.
"Eksploitasi air di wilayah pesisir juga memicu penurunan muka tanah, intrusi air laut, dan kerusakan ekosistem pesisir. Limpasan air laut ke daratan semakin cepat, maka banjir rob semakin banyak dan semakin luas," kata Benny.
Residu pembakaran batubara berupa fly ash dan bottom ash (FABA) juga disebut Benny berpotensi berdampak bagi lingkungan. Jika pengelolaannya buruk, FABA bisa mencemari lingkungan dan membuat porositas tanah berubah. Akhirnya, kemampuan tanah dalam menyerap air berkurang.
Menurut Beny, dampak lingkungan yang timbul itu turut mempengaruhi pola hidup masyarakat. Warga yang dulunya bekerja sebagai nelayan atau petani, karena lingkungannya rusak, mau tak mau harus berganti mata pencaharian.
"Kalau yang masih muda biasanya menjadi buruh di pabrik-pabrik. Yang tadinya kerja mandiri, jadi harus tergantung sama pihak lain. Artinya kemandiriannya berkurang. Lalu, yang tua-tua, yang sudah tidak bisa kerja di pabrik, ini tidak memungkinkan beralih pekerjaan. Ini yang akhirnya bisa menjadi persoalan," ucap Benny.
Benny meminta pemerintah dan pihak PLTU memperhatikan kondisi-kondisi atau dampak lingkungan yang timbul dari aktivitas PLTU. Ia juga berharap, pemerintah segera beralih ke energi terbarukan dengan tenaga air, angin, maupun surya.
"Kalau memang sudah kelebihan energi, untuk apa membangun PLTU lagi? Kalau perlu seharusnya malah di-shoutdown, beralih ke energi-energi lain," ujarnya.
Di kawasan PLTU Tanjung Jati B, ada enam unit pembangkit. Enam pembangkit itu dioperasikan oleh dua pihak yang berbeda.
PLTU Tanjung Jati B unit 1, 2, 3 dan 4 dioperasikan oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Tanjung Jati B untuk mendukung penyediaan kelistrikan di Jawa, Madura, dan Bali. Unit 1 dan Unit 2 telah beroperasi sejak tahun 2006. Sementara itu, Unit 3 mulai beroperasi pada tahun 2011 dan Unit 4 beroperasi mulai tahun 2012.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PT PLN UIK Tanjung Jati B, Hary Subagyo, mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menjalankan keandalan energi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat secara seimbang dalam operasional PLTU. Hal itu diwujudkan dalam sejumlah upaya.
"Dari sisi operasional, komitmen tersebut dilaksanakan melalui pemeliharaan pembangkit secara terencana, peningkatan efisiensi, pemantauan kualitas lingkungan, pengoperasian peralatan pengendalian emisi, pengolahan air limbah, serta pengelolaan dan pemanfaatan FABA sesuai ketentuan," kata Hary dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).
Dia menambahkan, PLN juga menjalankan program konservasi, seperti agroforestri, penanaman dan pembibitan mangrove, pembuatan artificial patch reef (terumbu karang buatan), serta transplantasi lamun.
Terkait dengan keluhan para istri nelayan, PT PLN UIK Tanjung Jati B menyebut, hal itu perlu ditanggapi serius. Menurut Hary, pihaknya terbuka untuk melakukan penelusuran bersama pihak terkait melalui pemeriksaan kondisi lapangan, pengecekan catatan kegiatan pembongkaran, serta pengujian kualitas lingkungan laut apabila diperlukan.
Apabila hasil verifikasi menunjukkan adanya kondisi operasional yang perlu diperbaiki, PT PLN UIK Tanjung Jati B mengaku bakal berbenah. Pembenahan disebut Hary akan dilakukan terhadap peralatan maupun prosedur kerja, disertai dengan pemantauan ulang untuk memastikan efektivitas penanganannya.
"Sebagai langkah pencegahan, PLTU Tanjung Jati B telah menerapkan sistem penanganan batubara untuk meminimalkan potensi tumpahan dengan berbagai metode pengendalian, antara lain mengoperasikan dan memelihara conveyor tertutup untuk mengangkut batu bara dari jetty menuju coal yard sehingga potensi tercecernya material dapat diminimalkan," ucap Hary.
Di samping itu, PT PLN UIK Tanjung Jati B menyebut bakal menghentikan kegiatan pembongkaran batubara apabila kecepatan angin melebihi 20 knot sesuai ketentuan operasional serta mengoperasikan dan memelihara sistem water dust spray pada ship unloader untuk menekan penyebaran debu selama proses pembongkaran batubara.
Komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan di laut juga diungkapkan pihak PLTU Tanjung Jati B Unit 5 dan 6 yang dimiliki oleh PT Bhumi Jati Power (BJP). Dua unit pembangkit itu telah beroperasi secara komersial sejak September 2022 dengan perjanjian operasional 25 tahun.
Presiden Direktur PT BJP, Taichi Ichise, mengatakan, pihaknya rutin melakukan pemantauan lingkungan dan melaporkan hasilnya kepada Kementerian Lingkungan Hidup maupun Dinas Lingkungan Hidup Jepara. Ichise menyebut, pemantauan lingkungan yang selama ini dilakukan menunjukan hasil memenuhi standar kualitas lingkungan dan persyaratan peraturan yang berlaku.
Merespons keluhan para istri nelayan, Ichise menyatakan, pihaknya berkomitmen untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Hal itu untuk memastikan penerapan standar pencegahan tumpahan batubara secara ketat di atas kapal, termasuk penggunaan kapal batubara dengan palka tertutup atau bulk carrier.
"Selama ini, PT BJP diberi izin untuk melakukan sandar dan lepas sandar kapal batubara selama 24 jam setiap harinya. Namun demikian, untuk menghormati kegiatan nelayan setempat dan sebagai bagian dari komitmen BJP untuk tumbuh bersama masyarakat setempat, sandar dan lepas sandar kapal batubara dilakukan pada siang hari dengan rentang waktu pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB," ujar Ichise dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).
Ichise mengakui, dalam praktiknya, BJP juga menghadapi kondisi mendesak yang membutuhkan sandar dan lepas sandar pada malam hari. Untuk memastikan kelancaran kegiatan penangkutan batubara pada malam hari, BPJ disebut telah bekerja sama dengan kelompok nelayan setempat untuk panduan navigasi maritim melalui mekanisme pandu alam.
Menurut Ichise, proses ini merupakan salah satu upaya BJP untuk mencegah kerusakan jaring ikan milik nelayan selama proses sandar dan penambatan kapal pengangkut batu bara
Sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem laut, kata Ichise, BJP telah bekerja sama dengan Universitas Diponegoro, Semarang, untuk mengembangkan tambak ikan buatan. Program itu disebut bertujuan untuk menyediakan tempat berlindung dan tempat berkembang biak bagi ikan di perairan sekitarnya. Hal itu diharapkan bisa mendukung hasil tangkapan nelayan.
Di samping itu, BPJ juga bekerja sama dengan Pusat Budidaya Perairan Payau Kabupaten Jepara dalam pengembangan budidaya rumput laut dan ikan bandeng. Program itu, menurut Ichise, bertujuan untuk menyediakan sumber pendapatan alternatif yang stabil bagi masyarakat nelayan dan memperkuat ketahanan ekonomi mereka.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jepara, Muh Tahsin, mengatakan pihaknya pernah mendapatkan laporan dari para nelayan mengenai jaring yang tersangkut kapal tongkang. Laporan itu disebut Tahsin sudah diteruskan ke pihak PLTU Tanjung Jati B dan para neyalan telah mendapatkan ganti rugi.
"Yang lapor itu banyak jaring yang kesangkut. Nah, kadang-kadang kan nelayan itu tebar jaring, enggak tahu pasti apakah (itu di lokasi) alur kapal atau tidak. Mungkin ada yang tersangkut," kata Tahsin saat diwawancarai, Senin (25/5/2026).
Menurut Tahsin, ada beberapa faktor penyebab menurunnya hasil tangkapan nelayan. Salah satunya adalah datangnya musim baratan pada Januari-Februari. Dalam kondisi itu, gelombang laut tinggi dan sebagian besar nelayan memilih untuk tidak melaut. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan pada musim itu biasanya tidak banyak.
Dari sekitar 12.000 nelayan di Jepara, kata Tahsin, mayoritas merupakan nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional. Kondisi itu membuat para nelayan tidak bisa melaut jauh hingga ke tengah laut. Mereka paling jauh melaut dengan waktu tempuh bawah 5 jam dari bibir pantai.
Di tengah kendala itu, Tahsin mengklaim, hasil tangkapan nelayan di Jepara tergolong masih normal. Hingga April 2026, jumlah tangkapan ikan sekitar 5.000 ton. Tahsin optimistis, target tangkapan nelayan sebanyak 12.000 ton dalam setahun bisa tercapai.
Untuk menggenjot hasil tangkapan, Tahsin menyebut, Dinas Perikanan Jepara bakal mengusulkan bantuan berupa fish finder untuk kapal nelayan ke pemerintah pusat. Dengan alat tersebut, nelayan yang tadinya melaut tanpa arah, bisa melaut ke tempat-tempat yang dideteksi terdapat banyak ikan.





Komentar (0)