Aplikasi Kencan Gen Z Ini Optimalkan Matchmaking dengan AI, Tak Perlu Swipe Lagi

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Mekanisme pencarian jodoh konvensional yang mengandalkan usapan layar atau swipe sepertinya akan ditinggalkan kaum muda. Kelelahan digital akibat obrolan basa-basi yang tidak berujung di platform cari jodoh, mendorong lahirnya tren baru yang mengandalkan artificial intelligence (AI) untuk mengatur pertemuan langsung secara instan.

Fenomena inilah yang melatarbelakangi kehadiran Ditto, sebuah inovasi teknologi rintisan yang didirikan oleh dua mantan mahasiswa UC Berkeley, Allen Wang dan Eric Liu. Berbeda dengan pendahulunya, platform aplikasi kencan online ini membuang interaksi digital yang bertele-tele dan langsung mempertemukan penggunanya di dunia nyata lewat bantuan algoritma kurasi yang canggih.

Mengganti Usapan Layar dengan Interaksi Chatbot

Alih-alih mengunduh aplikasi mandiri yang memakan memori ponsel, para pengguna dapat mendaftar ke Ditto cukup dengan mengirimkan pesan teks melalui iMessage. Proses pendaftaran awal atau onboarding dipandu langsung oleh chatbot AI yang akan mengumpulkan informasi dasar seperti nama, gender, tanggal lahir, hingga preferensi pribadi yang lebih spesifik demi memahami kepribadian pengguna.

Keunikan lain dari sistem ini adalah pendekatan visualnya, di mana beberapa pengguna bahkan mengunggah foto selebritas idola mereka untuk memberikan gambaran konkret mengenai tipe fisik yang mereka sukai kepada AI. Co-founder Ditto, Allen Wang, menjelaskan bahwa generasi muda saat ini sangat mendambakan hubungan yang lebih tulus. “Kami melihat bahwa orang-orang sudah sangat lelah dengan aktivitas swiping yang tiada habisnya serta obrolan basa-basi, dan mereka benar-benar mencari sesuatu yang lebih nyata di kehidupan sehari-hari,” ujar Wang seperti dilansir Tech Crunch.

Formula AI dalam Membaca Kecocokan Pengguna

Algoritma yang dikembangkan Ditto tidak sekadar mencocokkan dua orang berdasarkan kesamaan hobi di permukaan. Sebaliknya, kecerdasan buatan tersebut menganalisis apa yang direpresentasikan oleh hobi tersebut terhadap karakter asli seseorang untuk memprediksi tingkat kecocokan atau chemistry mereka.

Wang memberikan gambaran teknis mengenai cara kerja sistem kurasi ini. Jika ada seorang pria yang sangat menyukai olahraga ekstrem seperti panjat tebing dan skydiving, lalu ada seorang wanita yang menyukai musik hip-hop serta gaya busana streetwear, secara permukaan hobi mereka terlihat sangat berbeda. Namun, AI dapat membaca bahwa keduanya memiliki jiwa petualang yang sangat tinggi dan bersifat individualistis. Melalui sinyal-sinyal psikologis inilah kecocokan antar-individu diklaim dapat diprediksi secara akurat.

Setelah analisis selesai, setiap hari Rabu pukul 19.00 waktu setempat, sistem akan mengirimkan pesan otomatis berisi satu nama pasangan pilihan, lengkap dengan waktu dan lokasi pertemuan. Pengguna tidak perlu melakukan pendekatan digital yang canggung dan hanya perlu langsung datang ke lokasi untuk berkencan. Hingga saat ini, Ditto telah mengumpulkan sekitar 150.000 pendaftar, dengan tingkat konversi kencan fisik mencapai 20 persen dari total kecocokan yang dihasilkan.

Keamanan Kampus dan Dukungan Finansial Jutaan Dolar

Untuk mengatasi kekhawatiran klasik terkait aspek keamanan pada platform kencan, Ditto saat ini menerapkan sistem penyaringan internal yang ketat. Mengingat layanannya baru tersedia di beberapa universitas, platform ini mewajibkan verifikasi menggunakan alamat email kampus resmi yang berakhiran .edu guna memastikan identitas asli para penggunanya sebelum mereka bertemu secara langsung.

Pendekatan unik ini tidak hanya memikat para mahasiswa, tetapi juga menarik minat besar dari komunitas investor global. Startup yang berbasis di San Francisco ini telah mengamankan pendanaan awal sebesar 9,2 juta dolar AS dari sejumlah investor ventura ternama seperti Gradient, Peak XV, dan Scribble. Bahkan, salah satu pendiri Duolingo, Severin Hacker, secara pribadi menghubungi pendiri Ditto setelah melihat potensi besar dari misi yang mereka bawa.

“Pengguna kami adalah mahasiswa, dan mereka bisa mencium bau pemasaran korporat dari jarak satu mil. Aksi viral memang membuat anak-anak kuliah menoleh, tetapi kencan pertama yang menyenangkan adalah hal yang membuat mereka bertahan,” pungkas Wang.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kebakaran Gedung Bapenda Jakarta, Api Diduga dari Ruang Server
• 2 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Antam Meroket hingga Rp40.000 per gram, Ini Daftar Lengkapnya!
• 2 jam lalu
0
thumb
Riset Digencarkan, Pemerintah Kembangkan Teknologi Nuklir untuk Energi dan Kesehatan
• 19 jam lalu
0
thumb
Luhut: Dulu Hilirisasi Nikel Dicibir, Sekarang Banyak yang Antre Ketemu Bahlil
• 17 jam lalu
0
thumb
DPR minta Kemenkes sanksi nakes nirempati jika terbukti langgar etik
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.