Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menyoroti dampak dolarisasi mata uang digital, terutama melalui meningkatnya penggunaan stablecoin yang dipatok ke dolar Amerika Serikat (AS).
Dan Katz Wakil Direktur Utama Pertama IMF mengatakan, penggunaan stablecoin berbasis dolar AS yang semakin luas dapat membatasi fleksibilitas kebijakan moneter sejumlah negara dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas keuangan.
“Dolarisasi dapat mempengaruhi makroekonomi jangka panjang. Meskipun rumah tangga mendapat manfaat dari akses ke dolar, setelah mengakar, dolarisasi cenderung sangat persisten, bahkan setelah kondisi yang memicunya mereda,” kata Katz dalam pidatonya di Universitas Cape Town, Jumat (7/8/2026) yang dikutip Sputnik.
Menurut Katz, stablecoin yang dipatok ke dolar AS berbeda dari bentuk dolarisasi sebelumnya. Sebab, aset digital tersebut bisa tersebar jauh lebih cepat melalui ponsel pintar dan platform digital.
Ia memperingatkan, adopsi stablecoin secara luas dapat meningkatkan volatilitas aliran modal, menambah tekanan terhadap nilai tukar saat krisis, bahkan memicu ketidakstabilan keuangan di berbagai negara.
Risiko itu dinilai lebih besar pada negara dengan akses terbatas terhadap dolar AS dan kerangka makroekonomi yang lebih lemah. Dalam kondisi tersebut, penggunaan stablecoin secara luas dapat meningkatkan aset mata uang asing bersih dan memperkuat tingkat dolarisasi di suatu perekonomian.
Meski masyarakat bisa memperoleh manfaat dari akses yang lebih mudah terhadap dolar AS, IMF mengingatkan bahwa dolarisasi digital yang sudah mengakar dapat sulit dikendalikan dan berdampak panjang terhadap ruang kebijakan ekonomi suatu negara. (bil/iss)





Komentar (0)